Sedang Membaca
Cara Mengamalkan Hadis Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Menurut Kiai Bisri Mustofa

Penulis adalah redaktur pelaksana Alif.id. Bisa disapa melalui akun twitter @autad.

Cara Mengamalkan Hadis Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Menurut Kiai Bisri Mustofa

Munajat Ulama Nusantara (1) 1

KH. Bisri Mustofa (1915-1977 M) adalah Ayahanda dari Gus Mus (KH. Mustofa Bisri), seorang ulama asal Rembang yang sangat masyhur dengan karya-karyanya. Sebagai penulis dan penerjemah kitab-kitab yang diajarkan di pesantren, karya beliau ini menurut hemat saya sudah mega super mega best seller. Entah sudah dicetak berapa juta kali oleh penerbit. Hampir di setiap sudut toko kitab, ketika anda bertanya kepada penjual, “Kang, ada nggak kitab karya Kiai Bisri Mustofa atau yang diterjemahkan oleh beliau?” jawabannya dipastikan, “ada”.

Bahkan, salah satu karyanya dalam bidang tafsir—yakni Tafsir al-Ibriz (tafsir Alqur’an beraksara pegon)—telah banyak dikaji dan diteliti para ulama atau akademisi dari luar negeri. Itulah kehebatan karya ulama nusantara.

Dalam hal ini, saya ingin mengkaji penafsiran atau syarah beliau atas hadis yang masyhur terkait redaksi amar ma’ruf nahi mungkar. Penulis temukan dalam kitab Arba’in Nawawi yang diterjemahkan olehnya.

Sebelumnya saya sertakan bunyi hadisnya.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِّهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

Terjemah Indonesia:

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Orang yang tidak mampu dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan dengan hati ini adalah lemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Baca juga:  Relasi Muslim dan Non-Muslim dalam Alquran

Berdasarkan ilmu takhrij hadis, ini hadis shahih. Hadis yang semakna dengan redaksi ini juga diriwayatkan dari banyak jalur. Dan, hadis inilah yang banyak dipakai oleh para mubaligh atau gerakan dakwah untuk lantang menyuarakan amar ma’ruf nahi mungkar. Yang menjadi problem adalah ketika niat amar ma’ruf nahi mungkar, cara-cara yang dilakukan tidak tepat, akhirnya jadi blunder. Jadi tambah kacau.

Padahal, amar ma’ruf nahi mungkar itu ada aturannya, ada tips dan triknya. Ojo yak-yak o, kepedean. Dan, amar ma’ruf harus dilakukan dengan cara-cara yang ma’ruf.

Hal itulah yang saya pahami dari uraian yang ditulis oleh Mbah Kiai Bisri Mustofa. Berikut syarah dari beliau dalam kitab Arba’in Nawawi.

(Syarah): sapa kang weruh barang mungkar, barang kang ora diridhoni syara’, wajib ingkar. Dene carane ingkar, miturut kekuatane peribadine menungso. Yen kuate nganggo tangan, utowo kekuasaan, iyo ingkar nganggo tangan utowo kekuasaan. Yen kekuatane nganggo cangkem utowo nasihat, iyo ingkar kanti nasihat. Yen ora kuat iyo cukup kelawan ati. Dene ingkar kelawan ati iku alamat apes-apese iman.

Contone mengkene: yen pemerintah, ingkare kanti kekuasaan. Parlemen ingkare kanti lisan. Rakyat kang ora nduwe wakil ana ing parlemen, ingkare nganggo ati bahe. Bapak terhadap anak, ingkare nganggo tangan. Kakang terhadap adik, nganggo nasehat. Konco podo konco, yen ora kuat nasehat, nganggo ati.

Maksud dari syarah yang ditulis di atas adalah ada tahap-tahapan tersendiri oleh setiap manusia dalam mencegah atau melihat terjadinya kemungkaran. Ada wilayah atau domainnya masing-masing. Perlakuan bapak ke anak itu berbeda dengan perlakuan bapak ke temannya. Begitu juga perlakuan karyawan terhadap bosnya.

Baca juga:  Warisan Mbah Lim: Mendoakan NKRI Pancasila Setiap Selesai Iqamah

Menambahi dari syarah Mbah Bisri Mustofa, yakni Gus Mus (putra Mbah Bisri), sewaktu ngaji posonan yang diunggah melalui channel youtube Gusmus Channel, memberikan penilaian bahwa hadis tentang amar ma’ruf nahi mungkar adalah manifestasi dari rasa kasih sayang. Jadi tidak mungkin orang yang tidak punya kasih sayang itu peduli terhadap sesamanya.

Gus Mus mencontohkan sederhana, ketika ada seseorang yang memakai sandal kebalik, yang seharusnya kiri dipakai di sebelah kanan—sebagai seorang teman yang tahu, kita pasti akan mengingatkan dengan lisan. “Kang, sandalmu kebalik itu lho, kang”. Berbeda lagi kalau yang mengingatkan itu istrinya. Tidak cukup dengan lisan, mungkin langsung dengan tindakan, kekuasaan, atau tangannya. “Mas, sandalmu iki lho kebalik, mas,” sembari dipindahkan.

Hal ini terjadi karena apa? karena kasih sayang istri terhadap suami jauh lebih dekat dibanding dengan temannya. Sementara kasih sayang teman itu jauh lebih dekat daripada orang yang tidak dikenal. Maka ketika ada komunitas yang tidak ada amar ma’ruf nahi mungkar bisa berbahaya. Gus Mus mengibaratkan, ketika ada saudaranya sendiri yang mau masuk jurang malah dibiarkan begitu saja. Tidak dicegah. Baik dengan hati, lisan, atau perbuatan.

Tentunya dalam hal ini mencegah perbuatan yang mungkar itu harus dengan cara-cara yang ma’ruf, cara-cara yang baik, yang elegan. Cara baik itulah yang muncul dari rasa kasih sayang. Ketika niatnya sudah baik, caranya sudah tepat, maka hasilnya pun akan menjadi baik. Itulah ajaran Islam yang diteladankan oleh Nabi Saw. Wallahu a’lam.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top