Sedang Membaca
​Kiai As’ad Ingin Terkenal
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

​Kiai As’ad Ingin Terkenal

Ahmadul Faqih Mahfudz
​Kiai As'ad Ingin Terkenal 1

Tahun 1984, barangkali tak ada satu pun pesantren di Indonesia yang menjadi pusat perhatian melebihi Pondok Pesantren Salafiyyah-Syafi’iyyah, Sukorejo, Asembagus (saat itu Kecamatan Asembagus, kini Kecamatan Banyuputih), Situbondo. Tak hanya menjadi pusat perhatian di Indonesia, bahkan, tapi juga hingga mancanegara.

Pesantren Sukorejo, demikian pesantren ini masyhur disebut, menjadi pesantren fenomenal dalam perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama. Di pesantren tempat berlangsungnya Muktamar NU ke 27 inilah, dengan jantan NU menyatakan diri sebagai satu-satunya organisasi kemasyarakatan yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal negara, ketika ormas lain membisu atau masih mikir-mikir. Tak sekadar itu, di pesantren asuhan KHR. As’ad Syamsul Arifin dengan ribuan santri ini pula, NU “membaiat” dirinya untuk kembali pada landasan perjuangan 1926: keluar dari medan politik praktis!

Alkisah, beberapa bulan setelah muktamar, bulan Ramadan datang, kemudian Idul Fitri pun tiba. KH. Ahmad Sufyan Miftahul Arifin, pendiri Pondok Pesantren Sumber Bunga, Seletreng, Situbondo, yang secara akar silsilah masih putra dari sepupu Kiai As’ad, Nyai Latifah Jamaluddin, memiliki kebiasaan atellas (bersilaturahim untuk bermaaf-maafan saat lebaran) pada malam takbiran.

Baca Juga
Ilmu Kanuragan Kiai As'ad

Malam takbiran sengaja dipilih Kiai Sufyan agar bisa lebih leluasa bertamu: sowan, matur, tentu saja sambil curhat tentang berbagai persoalan kekinian, baik keagamaan lebih-lebih kebangsaan, sambil lalu dipungkasi dengan meminta doa pada sang paman. Pada hari Idul Fitri, semua itu tak akan bisa dilakukan, atau minimal sulit, karena tamu-tamu akan memenuhi dalem Kiai As’ad. Dari ruang tamu, halaman, hingga surau di depan dalem mediator berdirinya NU itu akan penuh oleh santri, alumni, juga warga NU hingga pejabat pemerintah yang ingin ber-Idul Fitri kepadanya.

Halaman: 1 2 3
Lihat Komentar (0)

Komentari