Sedang Membaca
Ngaji Rumi: Cara Nabi Muhammad Memuliakan Kulit Hitam Bernama Bilal bin Rabah
Afifah Ahmad
Penulis Kolom

Afifah Ahmad: Penyuka traveling, penulis buku "The Road to Persia" dan anggota Gusdurian Teheran.

Ngaji Rumi: Cara Nabi Muhammad Memuliakan Kulit Hitam Bernama Bilal bin Rabah

Img 20200612 Wa0015~2

Ketika Mustafa kembali dari perjalanan Miraj/Kepada Bilal ia bersabda: Bahagianya Engkau! (Matsnawi, jilid 6 bait 951)

Sungguh indah Rumi menggambarkan ungkapan Nabi Muhammad saw kepada Bilal bin Rabah, salah seorang sahabat yang dicintainya. Habzan! (Berbahagialah). Adakah sesuatu yang lebih istimewa selain mendapat reward dari sang Nabi. Lalu apa yang membuat Nabi mengangkat posisi Bilal?

Karim Zamani dalam kitab Tafsir Matsnawi Maknawi menjelaskan, syair Rumi ini terinspirasi dari hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abas: Suatu malam Nabi Muhammad melakukan perjalanan Miraj. Sesampainya di surga, lamat-lamat, Nabi mendengar sebuah suara. Lalu Nabi bertanya bertanya kepada Jibril:

“Suara siapakah ini?” Jibril menjawab: “Suara Bilal sang muazin”. Sekembalinya ke tengah umat, Nabi bersabda: “Bilal, engkau orang yang selamat!”. Redaksi lain menyebutkan: “Engkau orang yang berbahagia”

Dalam kitab Matsnawi, cerita Bilal disebutkan beberapa kali secara terpisah. Pada jilid ke-6 Matsnawi, Rumi membawakan lebih dari 180 larik puisi yang menggambarkan bagaimana awal mula sosok Bilal hadir menjadi bagian penting kehidupan Nabi. Cerita dibuka dengan dua bait puisi yang amat menyayat: 

Tubuh Bilal menebus siksaan hebat 

sebab perlakuan khajeh yang congkak

Ia menghardik: Mengapa kau masih mengingat Ahmad

dasar hamba buruk rupa, pengingkar agama moyang

(Matnsnawi, jilid 6, bait 888-889)

Rumi menggambarkan, betapa masyarakat jahiliah saat itu, melakukan siksaan fisik dan verbal kepada orang-orang yang dianggap memiliki kasta yang lebih rendah. Bait-bait berikutnya, Rumi mengisahkan bagaimana dialog antara Nabi Muhammad saw dengan Sayidina Abu Bakar serta berbagai rencana pembebasan Bilal. Sampailah pada bagian cerita yang amat dramatis, yaitu pertemuan Bilal dengan kekasihnya, Ahmad. Rumi menggambarkannya dengan detail dan penuh luapan emosi.

Tubuhnya laksana kayu, hanya tersisa tulang 

ia gegas berlari menjumpai sang pujaan

Tubuh lelah itu seketika jatuh terkulai

melihat wajah sang kekasih hati

Saat ia kembali siuman dari tidur panjang

air matanya tumpah karna kebahagiaan

Nabi dengan erat memeluknya

Tak ada yang mampu gambarkan cintanya.

(Matsnawi, jilid 6, 1060-1063)

Sungguh beruntung, Bilal. Nabi menyelamatkan hidupnya di tengah sistem perbudakan yang saat itu begitu kuat menggurita. Tak terkecuali di jazirah Arab. Bilal bin Rabah, seorang pendatang yang berwajah tak rupawan, dapat berdiri sejajar dengan orang-orang dari suku Quraisy. Tidak, ia bahkan memiliki posisi yang lebih dekat dengan Rasul. Sang muazin nabi, begitu julukannya yang tak pernah tergantikan oleh siapapun. 

Hubungan Nabi Muhammad saw dan Bilal bukan sekedar hubungan imam salat dan muazin biasa. Rumi dalam bait-baitnya yang terpisah mengungkapkan rahasia di balik hubungan itu. Dalam kitab Matsnawi, jilid 1, bait 1986-1989, Rumi menuturkan: Ketika Nabi merasa lelah setelah melakukan perjalanan panjang atau sehabis berperang, beliau memanggil Bilal: “Arihna, ya Bilal!” (Beri kami kedamaian). Rumi menggunakan diksi Arihna untuk menggambarkan, suara Bilal tidak hanya indah didengar, tapi juga membawa kedamaian pada ruh. 

Bilal hidup bertahun-tahun dalam naungan kasih nabawi sampai keterpisahan jasmani tak lagi dapat dihindari. Setelah nabi wafat, Bilal tak lagi mampu menyuarakan azan. Setiap kali sampai kepada nama Muhammad, tubuhnya bergetar, terkadang sampai pingsan. Detik-detik kebahagian mulai kembali dirasakannya menjelang kematiannya. Rumi dalam jilid ke-3 Matsnawi begitu indah menuturkan dialog antara Bilal dan istrinya. Bilal yang bahagia akan bertemu keabadian, sementara istrinya yang bersedih akan berpisah raga. 

Ketika istri Bilal berkata: Duhai orang yang perilakunya mulia, kini tiba waktu firaq (perpisahan)

Bilal menjawab: Tidak. Tidak. Sekarang adalah waktu visal (pertemuan)

Istri Bilal kembali berkata: Malam ini engkau akan terasing sendiri

Bilal menjawab: Tidak. Malam ini ruhku akan kembali ke negeri asalnya

Istri Bilal kali ini bertanya: Lalu di mana aku akan melihat wajah bersinarmu?

Bilal Menjawab: Temukan aku pada hamba-hamba Tuhan yang khas (pilihan)

(Matsnawi, jilid 3, bait 3527-3530)

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Rumi, dalam puisi di atas hendak meyakinkan kita, Bilal bin Rabah, seseorang yang dalam tradisi jahiliah selalu mendapat perlakukan diskriminatif, mampu mencapai tingkatan spiritualitas yang luar biasa. Tampaknya, di sinilah relevansi puisi Rumi yang menyebutkan: “Hakikat manusia ada pada hati (cinta), selebihnya hanya daging dan tulang”. Perbedaan fisik dan ras bukan sesuatu yang membawa kemuliaan seseorang, tetapi cinta yang akan menyampaikan manusia pada posisi tertinggi.

Inilah teosofi kesetaraan yang coba disampaikan Rumi melalui sosok Bilal. Dalam penyajian cerita, Rumi selalu mengajak pembacanya untuk melampaui personikikasi tokoh yang ada dalam cerita. Sosok Bilal perlu dipahami tidak hanya sebagai tokoh sejarah masa lalu, tetapi sebagai simbol perlawanan terhadap mereka yang masih menuhankan rangka badaniyah. 

Hari ini ketika rasisme kembali menyentak perhatian dunia, kita seolah diingatkan sosok Bilal. Di tengah hiruk pikuk modernitas dan berbagai kemajuan teknologi informasi, masalah kesetaraan ras ternyata tidak juga beranjak membaik. Perlakuan diskriminatif yang merupakan pola pikir jahiliah, masih tumbuh subur di antara gedung-gedung menjulang. Teriakan George Floyd “I Can’t Breathe” menjadi slogan penentangan terhadap diskriminasi ras. Puluhan tahun lalu, di tempat yang sama, Malcom X juga pernah bersuara lantang memperjuangkan kesetaraan. 

Hingga kini, rasisme dan diskriminasi masih terus menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Bahkan, di tempat yang dianggap memiliki kemapanan demokrasi sekalipun. Dalam bentuknya yang beragam, pola pikir jahiliah ini akan menoror kemanusiaan dengan caranya yang keji. Pengerdilan atas sebuah keyakinan, ras, gender, atau status sosial, tak jarang juga terjadi di sekitar kita seolah menanti bom waktu yang siap meledak kapan saja. 

Rumi melalui simbolisasi tokoh Bilal, sekali lagi mengajak kita untuk memandang dunia ini dengan kaca mata teosofi kesetaraan. Bagi Rumi, esensi dari manusia bukanlah bentuk tubuh, warna kulit, gender, atau etnis, tetapi seberapa jauh pencapaian spiritualitas yang mengantarkannya menuju kecintaan kepada Tuhan serta kemanusiaan. 

Baca juga:  Agama, Musik, dan Silang Budaya
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
1
Terinspirasi
5
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top