Achmad Marzuki
Penulis Kolom

Pegiat Farabi Institute dan Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Selowogo, Bungatan, Situbondo

Kisah Thalut, Jalut, dan Daud

Prophet 1

Sebagaimana diketahui bahwa kaumnya Nabi Musa a.s. termasuk kaum yang memiliki postur tubuh kuat secara fisik. Bani Israil memiliki banyak Nabi seperti banyaknya ulama pada kaumnya Nabi Muhammad Saw. Sekian lama sesudah masa Nabi Musa As., ada seorang Nabi yang tidak disebutkan namanya. Nabi ini agaknya tidak mendapat wewenang dalam hal pertempuan di medan perang.

Oleh sebab itu mereka meminta kepada Nabi mereka akan seorang raja yang mampu memimpin peperangan di jalan Allah. Ini sepertinya kesalahan mereka dalam permohonannya. Mereka meminta peperangan bukan meminta kemenangan yang boleh jadi tanpa peperangan. Kemudian ditunjuklah seseorang yang tidak berasal dari kaum bangsawan, Thalut.

Thalut, seorang lelaki yang sangat menonjol kemampuannya dalam hal keluasaan ilmu dan keperkasaan jasmani. Namun mereka keberatan meskipun Thalut memiliki kualitas yang pantas. Untuk meyakinkan ummatnya, Nabi tersebut menyampaikan satu bukti nyata kepada mereka. Yakni datangnya Tabut kepada mereka melalui tangan malaikat dan diberikan kepada Thalut.

Tabut adalah suatu peti yang sangat dihormati oleh Bani Israil. Konon isinya sebuah papan yang bertuliskan sepuluh ayat (The Ten Commandmens), tongkat Nabi Musa As., dan beberapa peninggalan pendahulu mereka yang dapat melahirkan rasa tenang. Ini menjadi istimewa karena Tabut sudah lama hilang. Tidak diketahui keberadaannya. Tabut ini adalah peninggalan Nabi Musa As., dan Nabi Harun As. Hal ini memberi pelajaran tentang pentingnya memelihara peninggalan terdahulu yang dapat melahirkan rasa tenang dan dorongan berbakti kepada masyarakat.

Baca juga:  Kisah Aisyah yang Selalu di Hati Nabi

Dengan demikian mereka mengakui Thalut. Kemudian berjalanlah tentara Thalut di tempat gersang dan panas menuju peperangan dengan Jalut, penguasa lalim kala itu. Hingga kemudian Thalut memberikan perintah tegas saat bertemu sungai nanti;

“Barang siapa tidak meminumnya, dia termasuk golonganku, kecuali hanya seceduk tangan.”

Tentara Jalut sangat banyak dibanding tentara Thalut. Apalagi setelah peristiwa sungai. Semakin sedikit tentara Thalut yang patuh. Ibarat perbandingan dalam Perang Badar. Tetapi di sinilah kuasa Allah. Di dalam tentara Thalut ada pemuda gagah bernama Daud. Dia inilah yang berhasil menghancurkan tentara Jalut. Bahkan Daud mengalahkan Jalut dengan katapel, bukan pedang apalagi meriam.

Daud inilah yang nantinya memiliki kelebihan-kelebihan luar biasa. Dia menjadi raja pengganti Thalut. Allah menganugerahi Daud dengan kerajaan dan hikmah. Termasuk kelebihannya adalah membuat baju besi dengan tangannya, mengerti bahasa burung, dan lain-lain. Kita mengenalnya dengan nama Nabi Daud As.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kemenangan pemuda bernama Daud atas Jalut yang perkasa memberi pelajaran kepada kita bahwa tidak semua persoalan berjalan sesuai perhitungan nalar, tetapi selalu ada pengaturan Allah Swt.

Sumber dari tulisan ini Tafsir Almisbah, Q.S. Albaqarah ayat 246-251

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top