Sedang Membaca
Memperbanyak Kader ala Gus Dur
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Memperbanyak Kader ala Gus Dur

Mohammad Fathi Royyani

Tulisan mengenai Kiai Abdurrahman Wahid sudah sangat banyak, utamanya dari perspektif politik, keagamaan, praksis tindakannya dalam membela kelompok yang lemah, dan tentu saja humornya yang berkelas. Gus Dur sosok yang komplit. Nyaris ia berkiprah dalam tiap tema dan agenda kebangsaaan dan keagamaan. Tapi di sisi lain, Gus Dur dinilai tidak fokus, tidak sistematis, tidak teratur. Bahkan, ia dinilai tidak menyiapkan kader dengan baik. Benarkan demikian?

Jelas keliru. Gus Dur menyiapkan kader dengan “metodenya” sendiri. Banyak orang yang dibina secara langsung oleh Gus Dur untuk meneruskan cita-cita luhurnya dalam memperjuangankan kesamaan hak manusia. Ketua Umum PBNU, Prof KH Said Aqil Siradj adalah ulama yang dikader oleh Gus Dur.

Saat masih belajar di Ummul Quro, Arab Saudi, Gus Dur kerap mengunjunginya dan mengajak untuk berziarah serta silaturrahmi pada ulama-ulama ahlussunah wal jamaah. Setelah kembali ke Indonesia, Kiai Said langsung dijadikan pengurus NU oleh Gus Dur.

Selain melalui lembaga yang mengatasnamakan dirinya secara langsung, banyak juga individu-individu yang secara konsisten berusaha untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik dengan berpijak pada landasan yang dibangun Gus Dur. Contoh yang mudah dibaca oleh awam adalah Mahfud MD, seorang pakar hukum yang dididik langsung oleh Gus Dur. Saat Gus Dur menjadi presiden, Mahfud diangkat menjadi Menteri Pertahanan. Sebelumnya jarang orang yang mengetahui sosok Mahfud ini, kecuali para akademisi yang terbatas. Di tengah kekalutan situasi sosial, Mahfed kerap tampil menyuarakan kelurusan logika. Tentunya ini di antara hasil didikan Gus Dur.

Bahkan setelah meninggalnya pun ada orang-orang yang terus berusaha membumikan pikiran-pikiran. Mereka berjuang melalui komunitas yang dinamakan Gusdurian. Gusdurian umumnya adalah anak-anak muda NU yang masih idealis dan menganggap pikiran-pikiran Gus Dur masih tetap relevan untuk Indonesia. Di “jagat NU”, lengkap dengan para aktifis dan politisinya, nyaris semua pernah merasakan “sentuhan” Gus Dur.

Banyaknya kader yang di akhir ternyata “mental” bukan serta merta mereka berseberangan, tetapi justru memperkaya khazanah mengenai Gus Dur. Dalam antropologi dikenal istilah difusi kebudayaan, yakni satu tradisi akan berkembang jika pendukung tradisi tersebar ke banyak tempat dan berinovasi dengan tradisinya, disesuaikan dengan tempat dan konteks sosialnya masing-masing. Dengan cara demikian, suatu tradisi menjadi kaya warna.

Kalaupun ada yang mental dalam artian harafiah, ya itu fenomena biasa. Gus Dur, seperti para pendekar atau kiai pesantren, tak bisa mengontrol para anak didiknya. Seperti telur ayam, tidak semua tumbuh besar menjadi ayam.

Antara Kloning dan Kultur Jaringan
Saya akan melihat dengan cara yang berbeda dalam melihat sepak terjang Gus Dur dalam membina kader-kadernya. Sudah mafhum bahwa Gus Dur memiliki banyak kader yang tersebar di berbagai lembaga dan setiap kader memiliki ciri khas yang berbeda. Sampai sekarang pun, kader-kader Gus Dur masih berkiprah serta pemikirannya masih dikaji dan tetap relevan dengan perkembangan sosial-politik-keagamaan Indonesia.

Dalam membina para kadernya, Gus Dur memilih cara yang unik. Gus Dur menginginkan kadernya untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kapasitas dirinya, bukan sebagai kopian dari Gus Dur. Kita bisa melihat para kader dapat berjuang dan berkiprah dengan pengembangan pribadi dan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Kader ulama menjadi ulama handal dan disegani. Kader negarawan menjadi negarawan yang bijak. Kader akademisi menjadi akademisi yang kreatif. Kader politisi menjadi politisi yang bijak.

Dalam biologi, ada dua cara untuk mengembangkan tumbuhan atau satwa melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknik kloning dan kultur jaringan.

Dalam kloning, gen terbaik dari tumbuhan atau satwa diambil dan diberlakukan sedemikian rupa sehingga menjadi tiruan. Rekayasa genetika biasa dilakukan pada tumbuhan sedangkan pada satwa masih menjadi perdebatan, terkait aspek etis.

Melalui kloning, satu binatang unggul diambil gen terbaiknya lalu diberlakukan secara hati-hati dan tidak lama kemudian akan lahir makhluk hidup baru yang sama persis dengan aslinya.

Baca Juga

Dalam mengkader, Gus Dur tidak menerapkan prinsip-prinsip kloning. Gus Dur membiarkan setiap kader untuk berkembang sesuai dengan bakat, passion, dan kapasitas masing-masing. Melalui penerapan ini, para kader dapat berkiprah pada berbagai aspek kehidupan sosial.

Prinsip yang diterapkan Gus Dur, dalam biologi lebih dekat pada teknik kultur jaringan. Dalam kultur jaringan teknik yang digunakan adalah mengisolasi satu bagian dari tanaman seperti daun dan mata tunas untuk diambil sel atau jaringan lainnya. Sel tersebut kemudian ditumbuhkan dalam media agar sehingga sel dapat memperbanyak dirinya sehingga dapat menjadi tumbuhan baru yang lengkap. Selasa ditumbuhkan pada media agar, bagian tumbuhan yang mengandung sel tersebut berada pada wadah yang tertutup namun kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh.

Metode kultur jaringan ini lebih dapat memperbanyak bibit tanaman dengan lebih banyak dan cepat serta seragam. Tanaman yang dikultur juga relatif bebas dari penyakit karena dilakukan secara aseptik. Teknik ini sangat ekonomis dan menguntungkan.

Bila diperhatikan dengan lebih cermat, selama karirnya Gus Dur melakukan kultur jaringan pada kader-kadernya. Gus Dur akan “mengambil” sel atau kader terbaik dalam satu bidang. Kader tersebut ditempatkan pada wadah berkiprah yang menggugah nalar tetapi juga bisa menghidupi kebutuhan ekonomi keluarganya. Para kader juga “diisolasi” dari pengaruh-pengaruh ideologi luar yang mencoba mengubah wajah Indonesia.

Dengan banyaknya kader Gus Dur, maka membaca Gus Dur harusnya juga membaca Indonesia dimana para kadernya berkiprah

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top