Sedang Membaca
Merayakan Natal Bersama Gus Dur
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Merayakan Natal Bersama Gus Dur

Rohmad Arkam

Abdurrahman Addakhil yang kemudian lebih dikenal masyarakat luas dengan panggilan Gus Dur. Cucu pendiri NU, putra dari pasangan Kiyai Wahid Hasyim dan Nyai Solichah ini dikenal sebagai tokoh serba bisa, di antaranya; sebagai ulama, politikus, bahkan juga sebagai pelawak andal.

Konon beliau sering membuat ngakak orang-orang di sekitarnya, mulai dari staf istana, pejabat negara, hingga pemimpin dunia. Gus Dur, pernah membuat Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan Raja Fahd Arab Saudi ngakak.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Selain dikenal sebagai figur yang serbabisa, Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang kontroversi. Salah satu dari beberapa dawuh beliau yang dianggap kontroversi adalah tentang kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang umum disebut hari Natal. Gus Dur dawuh bahwa umat Islam bebas memilih untuk merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang diperbolehkan oleh agama.

Dawuh Gus Dur tentang merayakan Natal ini, sebenarnya didasari dengan sebuah argumen bahwa Kata “Natal”, yang menurut arti bahasa sama dengan kata harlah, hanya dipakai untuk Nabi Isa saja.

Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum, seperti dalam bidang kedokteran, seperti perawatan pre-Natal yang berarti ‘perawatan sebelum kelahiran. Yang dimaksud dalam peristilahan ‘Natal’ adalah saat Nabi Isa dilahirkan ke dunia oleh ibunda Maryam.

Baca juga:  Riwayat Buya Hamka, Ulama Multitalenta

Memperkuat argumennya, Gus Dur juga dawuh bahwa Natal dalam kitab Alquran sudah disebutkan dengan kalimat yauma wulida (hari kelahiran), yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip, “Kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)” (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada Nabi Isa atau kepada Nabi Daud.

Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam, “Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku” (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), ini jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa.

Hal ini menunjukan bahwa Alquran juga memberi penjelasan tentang Natal sebagai kata penunjuk atas hari kelahiran Nabi Isa, yang harus dihormati oleh umat Islam, bukan hanya kaum Kristiani saja. Bahkan, hari kelahiran Nabi Isa harus dirayakan walau dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud yang berbeda. Bahkan Gus Dur dawuh “kalau perlu dengan turut bersama teman-teman Nasrani merayakannnya bersama-sama”.

Tentang merayakan Natal bersama umat Nasrani memang kadang masih menjadi suatu hal yang tabu bagi umat Islam pada umumnya, karena kekhawatiran mereka akan dicap turut (beribadah) kebaktian bersama umat Kristiani. Tapi sebenarnya, menurut Gus Dur dalam literatur fikih, jika kita duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian.

Apa yang menjadi dawuh Gus Dur tentang merayakan Natal bagi umat Islam, secara sekilas memang untuk yang tidak mau memahaminya seakan tidak ada dasarnya dalam Alquran dan akan menjadi sebuah kontroversi bagi mereka.

Merayakan Natal yang dimaksud Gus Dur sebenarnya adalah, dalam ranggka penghormatan atas kelahiran Nabi Isa dalam pengertian, sebagai Nabi Allah Swt semata, bukan sebagai anak Tuhan, yang semua itu jelas tersurat didalam Alquran sendiri.

Baca juga:  Sufi Besar dari Jawadwipa
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top