Anak, Buku, Kata-kata Islam, dan Kafir

Setyaningsih

Dari sebuah buku bacaan bernuansa agamis, sikap seorang anak dipertaruhkan. Ia bisa menjadi penyayang sekaligus pembenci. Masih ingat setahun lalu, ketika terjadi kehebohan karena buku Anak Islam Suka Membaca?

Konon, anak-anak TK dan PAUD bisa membaca berkat buku Anak Islam Suka Membaca. Namun, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendadak meluncurkan surat edaran pelarangan buku karena muatan teror.

Pemerintah memang tidak perlu merasa sudah membaca buku Anak Islam Suka Membaca demi menemukan kata-kata; sahid di medan jihad, munafik, bom, rela mati demi agama, atau kita semua bela agama (Media Indonesia, 22 Januari 2016).

Pemerintah mendapat laporan dari masyarakat yang resah dan salah satu ormas Islam yang muncul sebagai penyelamat. Kita harus memaklumi kesibukan pemerintah sampai luput mengawasi buku berbahaya yang telah hidup selama bertahun-tahun dan berjilid-jilid.

Sejarah penerbitan buku agama di Indonesia pernah menempatkan penerbit agama sebagai jajaran penentu buku bagi anak-anak. Ada para misionaris yang bertindak menerbitan untuk menerbitkan risalah agama, Injil, dan bahan ajar untuk sekolah.

Christantiowati dalam buku Bacaan Anak Indonesia Tempo Doeloe (1996) mengatakan bahwa dalam kurun waktu 1815-1942 ada sekitar 10 penerbitan misionaris. Salah satu buku-yang terbit berjudul Penghidoepan Toehan Isa bagi Anak-anak: Ditjeritakan di dalam 52 Pasal (Mill Duff) oleh Balatentara Keslamatan Leger des Heils di Bandung.

Pada 1950, Balai Pustaka menerbitkan buku biografis Muhammad Rajab berjudul Semasa Kecil di Kampung (Anak-anak Danau Singkarak). Meski secara teknik buku ini bukan buku agama, anak-anak diajari beragama lewat keseharian kecil penulis di kampung; sembahyang di surau, peristiwa khitanan, dan khatam Alquran.

Dalam tradisi beragama keluarga Islam, masa kecil juga ada bersama buku-buku doa harian, surat-surat pendek, tata cara salat, buku pelajaran agama, dan tentu saja Alquran sebagai kitab wajib berislam yang ada di setiap rumah.

Baca Juga:  Hakikat Kemanusiaan dalam Karya Rupa Nasirun

Buku-buku dongeng garapan Wilhelm Grimm dan Jacob Grimm sebenarnya juga menyampaikan pesan-pesan religius lewat tokoh-tokoh tanpa perlu menyebut agama atau aliran tertentu. Anak-anak bisa tentang kasih kemanusiaan dari orang-orang suci di masa lalu.

Jika kita menyempatkan piknik literer ke toko buku, ada penerbit BIP (Bhuana Ilmu Populer), Qibla, Mizan, Tiga Ananda, Genta yang muncul sebagai guru-buku agama. Mereka mengemas kisah para nabi, tata cara salat, Alkitab untuk anak, cerita doa, dan kisah orang-orang kudus dengan ilustrasi memukau, warna-warna menyenangkan, dan kata-kata yang disesuaikan dengan kondisi jiwa kanak.

Kebahasaan agama yang sering jadi doktrin harus melintas sebagai anjuran penuh kasih di dunia belia.

Lagu

Selain dalam buku, agama berekologi dalam lagu. Sering, orang-orang dewasa berkreasi mengganti lirik lagu bertema umum menjadi lagu-lagu islami. Narasi tentang malaikat beserta tugas-tugasnya, nama-nama nabi, rukun Islam, dan nama-nama angka, binatang, atau anggota tubuh dengan bahasa Arab.

Anak-anak menemu Tuhan dan kesemestaan religius dalam kata-kata yang dimelodikan lewat mulut-mulut orangtua dan guru. Barangkali, Tuhan juga menyanyi agar perintah dan anjuran menjadi lembut tanpa kekerasan.

Namun, masa-masa kecil yang bersemangat menjadi Islam sering terima-terima saja mengucapkan lirik berbunyi, Islam…Islam…Yes/ Kafir… Kafir…No. Lagu menjadi cara jitu mendikte anak kecil karena masa-masa menduplikasi sering berjalan tanpa perlu pemahaman. Lirik itu bergerak dengan cepat dan tangan terkepal seolah ingin menghancurkan sekitar kita yang berbeda. Tepuk Islam yang populer di TPA (Taman Pendidikan Alquran) juga menjadi tepuk militeris-agamis yang beresiko membentuk kecintaan yang buta.

Kita simak:

Aku/ Anak Islam/ Rajin ngaji/ Rajin Sholat/ Cinta Islam sampai mati.

Saya tidak terlalu yakin bahwa para guru atau pengajar TPA memberi penjelasan mati demi cinta agama. Anak-anak seolah dibawa ke hari esok yang penuh pertumpahan darah dan dunia tanpa pemaafan.

Baca Juga
Kisah Nabi Muhammad dan Anak Yatim dalam Sebuah Lagu

Indonesia boleh mengingat A.T. Mahmud sebagai pencipta lagu kanak-kanak beragam tema, termasuk tema agama. Penerbit Grasindo menghimpun lagu-lagu A.T. Mahmud dalam Pustaka Nada (2008). Kita simak lagu berjudul “Doa”:

Ya, Tuhan kusebut namamu Tuhan/ Tuhan yang pemurah/ Tuhan segala puji bagimu yang menguasai bumi serta langit alam semesta/….

Kehadiran Tuhan disemikan oleh A.T. Mahmud dalam sifat-sifat mulia dan kesemestaan.

Kealamsemestaan juga bisa disimak dalam lagu “Tuhanku”:

Kulihat langit terbentang bukan kepalang/ Kulihat ribun langit bintang tidak terbilang/ Siapakah penciptanya semua ini/ Tentu Tuhan Tuhan yang berkuasa/ Tuhanku Esa.

Tuhan tidak hanya didefinisikan lewat kitab suci Anak-anak belajar mengenal Tuhan dengan pernyataan puitis, tanpa ngoyo menjadi pihak paling keras dan benar. A.T. Mahmud menghadirkan Tuhan dalam lagu tanpa harus menyebut agama dan kepercayaan tertentu.

Kita tentu tidak ingin anak belajar tentang beragama, bersesama, dan ber-Tuhan menjadi sedemikian jahat sejak belia. Karena buku dan lagu masih dipercaya menalikan perkenalan suci itu, kata-kata puitis tanpa penghakiman akan mengantarkan dengan selamat sampai tujuan.

Ada jalan damai tanpa kekerasa menemu sesama dan Tuhan.

Lihat Komentar (0)

Komentari