Sedang Membaca
Ulama Banjar (203): KH. Ahmad Zuhdiannor
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ulama Banjar (203): KH. Ahmad Zuhdiannor

KH. Ahmad Zuhdiannor

KH. Ahmad Zuhdiannor lahir di Banjarmasin pada tanggal 10 Februari 1972. Ayahnya bernama KH. Muhammad bin Jafri dan ibunya bernama Hj. Zahidah binti KH. Asli. Ayah dan kakeknya (dari pihak ibu) merupakan ulama yang cukup terkenal di kalangan masyarakat. Ayahnya merupakan alumni Pondok Pesantren Darussalam Martapura dan berteman dekat dengan KH. Muhammad Zaini Ghani. Ayahnya juga merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al-Falah setelah KH. Muhammad Sani meninggal. Sedang kakeknya merupakan ulama yang tinggal di Alabio. Sisi keulamaan dari ayah dan kakeknya ini kemudian menurun kepadanya.

Pendidikan formal Guru Zuhdi atau Abah Haji (panggilan akrabnya) hanya sampai tingkat SD. Ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Al-Falah di Banjarbaru, namun hanya bertahan dua bulan dan memilih berhenti karena sering sakit. Ia kemudian dikirim ayahnya ke Alabio untuk dididik oleh sang kakek, KH. Asli. Di sini ada beberapa bidang ilmu yang dipelajarinya, yaitu Tajwid, tashrif, Fiqih, Tauhid, dan Tasawuf.

Hanya satu tahun ia belajar di Alabio, karena kakeknya meninggal, ia kembali ke Banjarmasin. Selanjutnya, sang ayahlah, yaitu KH. Muhammad, yang mengajarinya secara langsung. Kepada sang Ayah, ia belajar Nahwu, Fiqih, Tauhid dan Tasawuf. Selain kepada ayahnya, ia juga belajar Ilmu Arudh, Ushul Fiqih dan Tasawuf kepada KH. Abdus Syukur di Teluk Tiram.

Setelah KH. Abdus Syukur meninggal, oleh sang ayah, Guru Zuhdi di serahkan kepada Guru Zaini Abdul Ghani untuk dididik lebih lanjut. Guru Ijai melihat kecerdasan dan tanda-tanda keulamaan Guru Zuhdi sehingga Guru Sekumpul memberitahu ayah Guru Zuhdi bahwa anaknya itu kelak akan lebih alim daripada sang ayah. Kurang lebih tujuh tahun ia belajar secara intensif kepada Guru Sekumpul. Kedalaman pengetahuan dan kharisma sang guru yang sangat kuat membuatnya sangat mengagumi dan mengidolakan sang guru. Pengaruh Guru Ijai yang mendalam mempengaruhi gaya dan penampilannya terutama saat ia menyampaikan pengajian dan tidak jarang ia menyebut nama sang guru di depan jamaahnya.

Baca juga:  Ulama Banjar (35): H. Baderi

Ada beberapa kitab yang pernah ia pelajari selama belajar. Di bidang Tauhid ia pernah mengkaji kitab Syarh Hudhudi karya Abdullah al-Hijazi al-Syarqawi, Hasyiyah al-Dasuqiy karya Syekh Muhammad al-Dasuqiy, Matan Sanusiyyah karya Imam al-Sanusiy, dan Kifayat al-‘Awam karya Syekh Muhammad al-Fudhali. Di bidang Tasawuf, ia pernah mengkaji kitab Bidayah al-Hidayah, Minhaj al-‘Abidin dan Ihya` ‘Ulum al-Din, ketiganya karya Imam al-Ghazali, dan pernah pula mengkaji kitab Taqrib al-Ushul li Tashil al-Wushul karya Syekh Ahmad Zayni Dahlan.

Di bidang Fiqih, ia pernah belajar Syarah Sittin karya Abu al-Abbas Ahmad al-Anshari, Hasyiyah Bijuri karya Syekh Ibrahim Bijuri, dan I’anah al-Thalibin karya Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syaththa. Di bidang Nahwu, ia pernah mengkaji Matan al-Ajurrumiyyah karya Muhammad al-Shanhaji, Mukhtashar Jiddan karya Ahmad Zayni Dahlan, Syarah al-Ajurrumiyyah li Khalid al-Azhari karya Khalid al-Azhari, dan Alfiyyah Ibnu Malik karya Ibnu Malik.

Setelah menuntut ilmu cukup lama di bawah bimbingan Guru Sekumpul, Guru Zuhdi kemudian mengajar di Pondok Pesantren Al-Falah. Hanya sekitar dua tahun ia mengabdikan diri di pesantren ini. Ia kemudian berkonsentrasi untuk membuka pengajian agama di Banjarmasin. Ada beberapa pengajian tempatnya mengajar agama kepada jamaahnya.

Pertama, pengajian malam Kamis yang berlokasi di Langgar Darul Iman di Komplek Pondok Indah Teluk Dalam. Kitab yang pernah dipelajari di pengajian ini adalah Kitab Ihya` ‘Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali. Kedua, pengajian malam Jumat di Masjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Kitab yang pernah dikaji pada pengajian ini adalah al-‘Ilm al-Nibras fi Tasybih ‘ala Manhaj al-Akyas karya Sayyid ‘Abdullah bin ‘Alawi bin Husin al-‘Aththas.

Baca juga:  Ulama Banjar (157): Ustadz H. Chairani Idris

Ketiga, pengajian malam Sabtu yang bertempat di kediaman Guru Zuhdi sendiri di sekitar Masjid Jami Sungai Jingah Banjarmasin. Kitab yang pernah dikaji pada pengajian ini adalah Syarah Hikam karya Muhammad bin Ibrahim dan Sifat Dua Puluh karya Sayyid ‘Utsman bin bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya. Keempat, pengajian malam Ahad yang bertempat di Masjid Jami Sungai Jingah. Kitab yang pernah dikaji di pengajian ini adalah Syarh Nasha`ih al-Diniyyah karya Sayyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad dan kitab Hidayah as-Salikin karya Syekh Abd as-Shamad al-Falimbani. Kelima, pengajian hari Ahad di Masjid Sabilal Muhtadin khusus untuk jamaah perempuan. Kitab yang dikaji pada pengajian ini adalah kitab Sifat 20. Pengajian Guru Zuhdi kebanyakan dilaksanakan pada waktu malam hari setelah magrib atau setelah isya. Pengajian hari Ahad yang dilaksanakan pagi hari mulai pukul 08.00 hingga selesai.

Semua pengajian yang dipimpin oleh Guru Zuhdi dihadiri oleh jamaah dalam jumlah yang besar. Jumlahnya ribuan bahkan puluhan ribu (seperti di Masjid Sabilal Muhtadin). Antusiasme masyarakat untuk mengikuti pengajiannya sangat tinggi. Karena itulah tidak mengherankan jika kemudian popularitasnya semakin meningkat yang membuatnya menjadi salah satu ulama kondang atau ulama terkenal di Kalimantan Selatan. Apalagi setelah KH. Ahmad Bakeri yang selama ini memimpin pengajian di Sabilal Muhtadin wafat, kehadiran Guru Zuhdi dapat menggantikan posisi sang tuan guru yang juga sangat digemari oleh jamaah.

Baca juga:  Pandangan Gus Dur Tentang Islam (2)

Dalam menyajikan pengajian, Guru Zuhdi menggunakan pola pengajian tradisional yang selama ini berkembang di kalangan masyarakat Banjar. Guru Zuhdi membacakan beberapa bagian atau beberapa baris isi kitab yang dikaji kemudian dijelaskan dan diberikan ilustrasi atau contoh yang diperlukan untuk memberi pemahaman kepada jamaah. Humor adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gaya ceramahnya. Gaya ini pula yang menjadi salah satu daya tarik dan kesukaan jamaah terhadapnya selain karena kealiman dan kepribadiannya tentunya. Gaya humoris semacam ini juga dimiliki oleh KH. Ahmad Bakeri dan Guru Danau (KH. Asmuni) yang juga disukai oleh jamaah sebagaimana Guru Zuhdi. Dari sisi bahasa, Guru Zuhdi banyak menyampaikan isi ceramahnya menggunakan bahasa Banjar dan kadang juga bercampur dengan bahasa Indonesia.

Ceramah dan pengajian Guru Zuhdi kini tidak hanya bisa dinikmati secara langsung dengan menghadiri pengajiannya, tetapi juga bisa diikuti melalui Radio Sabilal Muhtadin, Televisi (untuk acara tertentu) dan Media Sosial atau ditonton melalui video Youtube. Video rekaman pengajiannya dapat dengan mudah ditemukan melalui grup-grup media sosial atau langsung menontonnya di channel Youtube dengan tema dan durasi yang berbeda-beda.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top