Sedang Membaca
Ulama Banjar (145): Drs. H. Muhammad Qasthalani, LML.
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ulama Banjar (145): Drs. H. Muhammad Qasthalani, LML.

Drs. H. Muhammad Qasthalani, Lml.

(L. 29 Nopember 1942- W. 2009)

Drs. H. Muhammad Qasthalani, LML. Lahir di Marabahan pada tanggal 29 Nopember 1942 (20 Dzulhijah 1361 M). Lahir dari pasangan Qadhi H. Mohammad Basiyuni dan Hj. Fatmah. Qasthalani menikah dengan Dra. Hj. Mashunah Hanafi, MA dan dikaruniai 4 orang anak yaitu H. Muhammad Mubarak, SHI., M.Si; H. Hosnu El Wafa, SHI., M.Hum, H. Thif Raihan, S.IP., dan H. Hanief Monady, S.Th.I, MA.

Pendidikannya diawali dari sekolah SRN 6 tahun (1950-1955), Madrasah Tsanawiyah (1955-1960), Sarjana Muda Fakultas Syariah IAIN Antasari (1965), kemudian melanjutkan ke Fakultas Syariah Wal Qanun Al-Azhar University Kairo Mesir (1973), dan Fakultas Syariah IAIN Antasari (1979).

Akivitas organisasi yang pernah digeluti diantaranya sebagai Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Kalimantan Selatan (1981-1998), Ketua DDII Perwakilan Kalimantan Selatan (1976-1998), Ketua DPW PBB Kalimantan Selatan (1998-2000), Ketua DPW PBB Kalimantan Selatan (2000-2005), dan sebagai Ketua Dewan Pembina PBB Kalimantan Selatan (2005-2009). Beliau juga bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil/Dosen IAIN Antasari Banjarmasin (1981-1998) dan menjadi Anggota DPR-RI (1999-2004).

Aktivitas lainnya adalah Pembina Majelis Taklim Nuurun ‘Alan Nuur Banjarmasin dan Marabahan dengan kegiatan pengajian Sabtu malam dan subuh Minggu setiap setengah bulan di Marabahan serta mengisi pengajian setiap Kamis di Banjarmasin. KH. Muhammad Qasthalani memimpin Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Majelis Taklim Nuurun ‘Alan Nuur (1993-2006), dan beliau juga menjadi pendiri dan pengurus Pesantren Hunafa Masjid Jami’ Banjarmasin.

Baca juga:  Sketsa Singkat Pangeran Diponegoro Sebagai Muslim Jawa

Keulamaan KH. Muhammad Qasthalani sangat menonjol. Namun demikian beliau sangat santun dalam bergaul, beliau tidak membeda-bedakan satu sama lain. Para mahasiswa sangat senang mengikuti kuliah yang beliau berikan, para dosen pun senang berdiskusi dengan beliau.

Kepiawaiannya sebagai muballigh sangat memukau. Tidak salah jika orang menyebutnya sebagai muballigh kondang. Kegiatan berdakwah tidak hanya di Kalimantan Selatan tapi meluas sampai ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Dalam memberikan siraman rohani beliau selalu menggunakan kata-kata yang penuh makna dan menyentuh kalbu, sehingga membuat jemaah menjadi terpesona. Gaya penuturan yang menarik yang dipadu dengan mimik yang simpatik membuat sajian dakwah beliau semakin memukau.

KH. Muhammad Qasthalani adalah sosok pribadi yang berwibawa karena ketawadhuannya. Beliau tidak mau ditokohkan dan apalagi minta dibesar-besarkan. Baik dalam pergaulan sehari-hari, maupun dalam mengajar dan memberikan ceamah agama, beliau juga memiliki naluri humor yang tinggi. Hal itulah yang membuat kehadiran beliau selalu dinanti-nanti.

Beliau berpulang ke rahmatullah pada hari Ahad, 27 Dzulhijjah 1430 H bertepatan dengan tanggal 15 Nopember 2009 M. Jenazah beliau dikebumikan di Alkah Keluarga Komplek Pemakaman Datu Syekh Abdussamad Kampung Tengah Marabahan, Kabupaten Barito Kuala.

Sumber Naskah: Tim Penulis LP2M UIN Antasari Banjarmasin dan MUI Provinsi Kalimantan Selatan.

Baca juga:  Ulama Banjar (106): H. Abu Hurairah
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top