Sedang Membaca
Sajian Khusus: Kiai Sahal Mahfudh
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sajian Khusus: Kiai Sahal Mahfudh

Whatsapp Image 2021 10 27 At 00.56.22

Jum’at, 24 Januari 2014 M/22 Rabi’ul Awal 1435 H atau tujuh tahun silam, di kediamannya, komplek Pesantren Maslakhul Huda, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, menyemut banyak mu’azziyin-mu’azziyat. Padahal, seingat kami pada waktu itu di sejumlah titik jalur pantura tengah dikepung banjir yang sangat hebat, air setinggi spion mobil Avanza.

Banyak yang berhusnudzan, mungkin Mbah Sahal tidak mau merepotkan kami para santri-santrinya. Namun, tetap saja sebagai santri kami menunggu banjir surut—bahkan tak jarang yang nekad menerjang banjir supaya bisa hurmat—ikut mengantarkan jenazah Sang Kiai.

Innalillahhi wa inna ilaihi raji’un, Kiai kami telah berpulang..

Sebagai murid atau santri dari Mbah Sahal, kami ingin menuliskan secuil catatan tentang beliau. Ingin memaknainya, mengambil ibrah dari kiprah, pemikiran, dan perjuangan beliau selama masih hidup. Ya, tulisan dalam rangka memperingati haul ke-7 dari Mbah Sahal ini kami sajikan spesial dalam Sajian Khusus Alif.id edisi ke-89.

Terima kasih kami haturkan kepada Munawir Aziz, yang jauh-jauh dari Inggris (UK) sudah ngoprak-ngopraki para santri Mbah Sahal untuk menulis. Dalam waktu yang singkat, para santri yang terbiasa menulis langsung gercep, apalagi tulisan itu dipersembahkan untuk gurunya.

Sajian Khusus ini, ada empat tulisan yang dibagi dalam 3 tema. Pertama, pengalaman Ning Tutik N Jannah yang menyaksikan langsung bagaimana kiprah Mbah Sahal dalam mendukung proses pendidikan dan peran perempuan, khususnya dalam lingkup keluarga. Kedua, gagasan fikih kebangsaan Mbah Sahal yang ditulis oleh Munawir Aziz dan Dr. Jamal Ma’mur Asmani, dan yang ketiga, pengalaman santri Mbah Sahal yang menimba ilmu selama tujuh tahun di Kajen ditulis Sarjoko S, aktivis SekNas Jaringan GUSDURian Indonesia.

Baca juga:  Usaid bin Hudhair: Sahabat yang Suaranya Didengar Malaikat

Tentunya, empat tulisan itu hanyalah secuil dari pemikiran dan sosok Mbah Sahal. Keluasan ilmu, karya, dan kiprah beliau tidak cukup kalau ditulis dalam 4 tulisan yang sangat pendek ini. Namun, kami berharap semoga kita semua mendapatkan berkah beliau, lebih-lebih bisa meneladani suluk, perilaku, dan semangat juang beliau untuk agama dan bangsa. Aamiin.

Akhirul kalam, selamat membaca!

Redaksi.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top