Sedang Membaca
Ummu Ri’lah Al-Qusyairiyah: Sahabat Nabi yang Pandai Diplomasi Hak Perempuan
Penulis Kolom

Mahasiswa Islamic Studies International University of Africa, Republic Sudan, 2017. Sekarang tinggal di Pati, Jawa Tengah.

Ummu Ri’lah Al-Qusyairiyah: Sahabat Nabi yang Pandai Diplomasi Hak Perempuan

Dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Al-Mustaghfiri dan Abu Musa, dikisahkan seorang perempuan yang hidup di zaman Rasulullah SAW. Dia bernama Ummu Ri’lah al-Qusyairiyah, sahabat perempuan yang mempunyai loyalitas sangat tinggi terhadap keluarga Rosulullah SAW. Selain mempunyai loyalitas yang tinggi kepada keluarga Rasulullah SAW, Ummu Ri’lah merupakan sosok yang pandai berdiplomasi serta memperjuangkan hak-hak kaum perempuan di masa itu.

Dalam hadis tersebut dijelaskan; suatu ketika Ummu Ri’lah datang dan menghadap kepada Rasulullah SAW sambil berkata, “ Assalamu’alaika Ya Rosulullah Warahmatullahi Wabarakutu, kami para perempuan selalu tertutup di balik tirai rumah menemani tidur suami, mendidik anak-anak, sementara kami tidak mempunyai tempat bersama tentara. Maka ajarilah kami sesuatu yang dengannya kami bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT”.

Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Berdzikirlah kalian sepanjang siang dan malam, tahanlah pandangan dan kecilkan suara”.

Kemudian Ummu Ri’lah bertanya lagi kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, saya seorang penghias, selalu menghiasi para istri untuk suami mereka. Apakah itu perbuatan yang dosa sehingga saya harus menghentikannya?”.

Kemudian Rasulullah SAW menjawabnya, “Wahai Ummu Ri’lah, buatlah mereka bersolek dan hiasilah para perempuan juga jika belum mendapat jodoh”. Setelah berdialog dan berdiplomasi dengan Rosulullah SAW, Ummu Ri’lah menghilang selama sisa hidup Rasulullah SAW di waktu iru. Baru terlihat kembali di Madinah setelah Rasulullah SAW wafat, di mana pada waktu itu sedang banyak bermunculan orang-orang yang murtad.

Apa yang diungkapkan oleh Ummu Ri’lah kepada Rasulullah SAW, sebagaimana riwayat di atas adalah seputar peran perempuan di masa itu yang hanya berkutat di antara sumur, dapur dan kasur saja. Ummu Ri’lah melihat hal tersebut tidak puas, sehingga menyayangkan tidak diikut sertakannya para perempuan dalam perang yang pahalanya begitu besar.

Baca juga:  Republik Pangreh Praja dan Politik Uang di Nusantara

Lalu apa yang menjadikan mereka (kaum perempuan), bisa mempunyai kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki yang berperang di jalan Allah SWT? Ternyata, Islam menempatkan perempuan sesuai kodratnya. Islam menyamakan kedudukan para wanita muslimah yang senantiasa berdzikir sepanjang hari, menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan, dan merendahkan suaranya dengan kaum laki-laki yang berperang di jalan Allah SWT.

Kisah tentang ummu Ri’lah al-Qusyairiyah, merupakan salah satu prasasti naratif yang menjelaskan betapa irinya seorang perempuan yang beriman terhadap laki-laki beriman, dalam hal kesempatan untuk membela agama Allah SWT. Memang benar, bahwa generasi masa Rasulullah SAW adalah generasi terbaik yang harus dijadikan acuan untuk mendidik dan mencetak generasi masa kini.

Menjadi muslim barulah langkah awal, sedangkan berjuang dijalan Allah SWT adalah langkah selanjutnya. Bagi Ummu Ri’lah, bertengger sebagai seorang muslimah saja tidak cukup. Dia ingin meng-upgrade lahan dakwahnya, tidak hanya berkutat di urusan rumah tangga saja, tetapi juga dalam urusan membela agamanya.

Namun Rasulullah SAW adalah sebaik-baik manusia, yang di utus oleh Allah SWT, untuk membimbing dan menjadi teladan bagi umatnya. Salah satu keluhuran akhlak beliau adalah menghargai setiap profesi apa pun selama itu halal.

Merias para perempuan untuk suaminya adalah sebuah pekerjaan yang sepertinya sepele, dan tidak dibutuhkan keahlian khusus, namun di mata Rasulullah SAW nilainya seperti berjihad di jalan Allah SWT. Begitu juga dengan berdzikir, menahan pandangan dan mengecilkan suara yang memiliki nilai sama dengan berjihad. Selain itu, merias diri bagi para perempuan agar tampil menarik dihadapan para suaminya, juga mempunyai nilai yang sangat tinggi dalam Islam.

Baca juga:  Fikih Lingkungan: Sepeda Listrik

Hikmah dari pekerjaan yang lakoni oleh Ummu Ri’lah adalah untuk menghindarkan rumah tangga, dari percecokan yang disebabkan oleh hal-hal sepele, seperti para istri yang tidak mau tampil cantik di depan para suaminya. Jika rumah tangga suatu keluarga tentram, maka masyarakat sebagai komunitas yang lebih besar tentu akan tentram. Oleh karena itu, keutamaannya jelas sama dengan jihad di jalan Allah SWT, karena sama-sama menjaga keberlangsungan hidup dalam sebuah komunitas.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Nisa’ Haular Rosul karya Umar Ahmad ar-Rawi, bahwa Ummu Ri’lah bukan hanya seorang perempuan yang pemberani, dan lincah berdiplomasi. Lebih dari itu dia mempunyai loyalitas yang sangat tinggi terhadap keluarga Rasulullah Saw. Tipe perempuan sepertinya-lah yang seharusnya menjadi teladan bagi para perempuan masa kini.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
3
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top