Perempuan dan Tajalli Tuhan

Nur Hasan

Berbicara tentang perempuan dan tajalli Tuhan, maka yang teringat adalah sosok Muhyiddin Ibnu ‘Arabi. Sosok sufi yang dianggap kontroversial dengan gagasannya, yaitu wahdatul wujud (Manunggaling Kawulo Gusti). Kenapa yang teringat sosok Ibnu ‘Arabi?

Karena dalam kitabnya yang berjudul Tarjumanul Asywaq, Ibnu Arabi membuat gagasan tentang kesempurnaan Tuhan dalam diri perempuan. Kitab ini juga dianggap sebagai kitab tasawuf yang mengapresiasi perempuan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ibnu Arabi meyakini bahwa semua yang ada di dunia ini, merupakan cerminan (tajalli) Tuhan. Pantulan Tuhan tersebut, bisa tercermin dalam diri manusia. Akan tetapi dalam hal tersebut, Ibnu Arabi mengatakan bahwa perempuan adalah tempat paling sempurna sebagai tajalli Tuhan.

Untuk menalaah lebih dalam tentang gagasan Ibnu ‘Arabi bahwa perempuan adalah tempat paling sempurna sebagai tajalli Tuhan, maka perlu kajian lebih mendalam terhadap dua karya monumentalnya yaitu Fushushul Hikam dan Futuhatul Makiyyah.

Gagasan yang dimunculkan Ibnu ‘Arabi tersebut, tentu tidak bisa lepas dari jejak perjalanan hidupnya yang banyak bertemu dengan para perempuan, yang kemudian membimbingnya ke jalan spiritual. Bisa dikatakan, pertemuan Ibnu ‘Arabi dengan perempuan telah membawanya kepada hal-hal spiritual dan lebih dekat dengan Tuhan.

Bahkan dalam kitabnya Tarjumanul Asywaq ia mengatakan, pertemuannya dengan sosok perempuan telah menginspirasinya untuk menulis kitab Tarjumanul Asywaq, yang di dalamnya merupakan untaian syair-syair kerinduan.

Perempuan tersebut bernama Nidzam yang merupakan putri sang guru Ibnu ‘Arabi yaitu Zahir bin Rustum. Nidzam dijelaskan oleh Ibnu ‘Arabi, sebagai sosok gadis muda yang memukau pandangan setiap orang, dan juga sosok gadis yang memiliki pengalaman kehidupan spiritual.

Baca juga:  Bagaimana NU Online Menulis Wafatnya Mbah Moen?

Ibnu ‘Arabi begitu mengagumi Nidzam, sehingga beliu mengungkapkan kekagumannya dan kasmarannya dalam karyanya Tarjumanul Asywaq. Ibnu Arabi mengakui bahwa syair-syair dalam Tarjumanul Asywaq, adalah untaian syair kerinduan yang ia tujukan kepada perempuan yang dikaguminya. Sehingga kalau membaca Tarjumanul Asywaq akan kita temukan ungkapan-ungkapan yang mengumbar tentang cinta dan kerinduan.

Di masa Ibnu ‘Arabi, membahas perempuan dalam agama adalah hal yang tabu. Sehingga ia pernah mendapat kritikan dari ulama fikih bahwa tidak pantas mengaitkan perempuan dengan kesucian Tuhan. Hal inilah yang kemudian membuat Ibnu ‘Arabi menulis syarah Tarjumanul Asywaq, yang bernama Dzakair al-Alaq.

Dalam syarahnya ini, Ibnu Arabi sama sekali tidak menyinggung tentang nuansa kerindudan dan cinta kepada perempuan. Akan tetapi lebih menjelaskan tentang bahwa syair-syair kerinduan terhadap perempuan bukanlah ditujukan kepada perempuan sebagai orang melainkan lebih kepada yang menciptakannya yaitu Allah SWT.

Perempuan yang menurut Ibnu ‘Arabi adalah tempat paling sempurna tajalli Tuhan, tidak bisa dilihat secara kasat mata. Akan tetapi manusia (perempuan) sebagai tajalli Tuhan, mampu mengaktifkan imajinasi kreatif sang pecinta.

Oleh karena itulah, orang yang sedang jatuh cinta dan kasmaran akan kreatif dalam membuat puisi-puisi cinta untuk yang dicinta. Sebagaimana Ibnu Arabi yang kasmaran kemudian menulis bait-bait yang ada dalam Tarjumanul Asywaq.

Namun, Ibnu ‘Arabi tidak sebatas membahas tentang imajinasi kreatif yang biasa dilakukan oleh anak-anak muda, yang sedang jatuh cinta dan kasmaran. Lebih dari itu, imajinasi kreatif yang dimaksud misalkan adalah perempuan merupakan miniatur semesta atau mikrokosmos, yang dalam dirinya tercermin bagian-bagian dari jagat raya.

Baca juga:  Kenangan Mahasiswa Madura Belajar Filsafat di UIN Jogja

Perempuan bagi para sufi adalah jalan untuk meningkatkan derajat kewaliannya, salah satu caranya adalah dengan mencintai dan menyayanginya. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan adalah makhluk mulia, sebagaimana laki-laki.

Dari  Ibnu ‘Arabilah kita bisa mendekatkan diri kepada Tuhan, bahkan melihat-Nya. Maka muliakanlah perempuan, karena dia merupakan tajalli Tuhan yang Maha Esa.

Karena kecintaan seseorang pada sesuatu, yang akhirnya membawanya menyerap sifat-sifat dan nama Tuhan. Maka sesuatu tersebut, memang telah menjadi cerminan Tuhan (tajalli) salah satunya adalah perempuan. sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Aroby, dalam Tarjumanul Asywaq dan syarahnya Dzakairul Alaq.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top