Sedang Membaca
Mengenal Kitab Pesantren (3): Menelaah Kitab Shalat dari Syekh Izzuddin bin Abdussalam
M. Bagus Irawan
Penulis Kolom

Editor buku "Menolak Wahabi (Sahifa, 2015) dan "Kritik Salafai Wahabi" (Sahifa, 2017)

Mengenal Kitab Pesantren (3): Menelaah Kitab Shalat dari Syekh Izzuddin bin Abdussalam

Whatsapp Image 2020 04 23 At 1.34.29 Pm

Syekh Izzuddin bin Abdussalam memiliki salah satu kitab yang sangat populer dijadikan kajian Ramadhan di berbagai kerajaan Islam dari dulu hingga sekarang. Yakni, Maqashidus Shalat. Al-Kisah, ada seorang Sultan penguasa Damaskus dari Dinasti Ayyubiyah bernama Al-Malik Al-Asyraf Musa ia adalah raja yang cinta ilmu agama. Salah satu kitab favoritnya yang dibaca sehari tiga kali adalah Maqashidus Shalat. Apabila ada koleganya datang, ia selalu berkata, “Bacakanlah Maqashidus Shalat agar orang yang mendengarnya mendapat manfaat yang agung.” Sang Sultan pun menjadwalkan pembacaan kitab ini oleh para ulama besar—di antaranya Sibth ibn Jauzi—dan mewajibkan rakyatnya mendengarkan ceramah tersebut. Sang Sultan juga mencetak ribuan kitab Maqashidus Shalat untuk dibagi-bagikan. Hingga ada kebijakan tiap anak pada masa itu diwajibkan menghafal kitab ini.

Kenapa Al-Malik Al-Asyraf begitu terpesona dengan Maqashidus Shalat? Alasannya karena Syekh Izzuddin menulis kitab ini dari sudut pandang rohaniah yang mampu mencerahkan apa sejatinya maksud ibadah seorang hamba pada Tuhannya. Ibadah shalat ditinjau dari aspek kebatinan, rahasia, ruh dan hikmah yang tersembunyi di balik tiap-tiap bacaan dan gerakannya. Sehingga  pembaca akan memahami, menghayati dan mampu menyerap kemuliaannya. Dengan kata lain, Maqashidus Shalat  memiliki sisi lain yang berbeda dengan kitab shalat lainnya yang kebanyakan sekadar penjabaran formalitas hukum yang hitam-putih—meliputi rukun-wajibnya, kesunnahanya, maupun ihwal pembatalannya.

Tak heran bila seorang Sibth ibn Jauzi berkata dalam mimbarnya: “Shalat adalah ibadah fisik paling mulia. Pada shalat terhubung jalinan batin seorang hamba dengan Tuhannya. Maka bacalah kitab Maqashidus Shalat karya Syekh Izzuddin, pelajari isinya, renungi maksudnya dan ajarkan kepada keluarga dan anak-anak kalian!, sungguh aku tidak pernah membaca kitab shalat sebaik ini.” Sementara Qadhi Ali bi Abdul Kafi memberikan testimoni; “Apabila Maqashidus Shalat dibacakan kepada beberapa syekh, sufi, ataupun pelajar sekali saja dalam majelis ilmu, maka pasti mereka akan meminta agar dibacakan lagi berulang kali.”

Baca juga:  Senyum Indonesia dalam Buku Durian on My Head

Maqashidus Shalat  berisi  6 pembahasan, yakni: (bab 1) maqashid ibadah; (bab 2) fadhilah ibadah; (bab 3) aktivitas hati dalam shalat;  (bab 4) makna bacaan shalat; (bab 5) makna gerakan shalat; (bab 6) ihwal kondisi hati seseorang. Sebagai mukadimah, Syekh Izzuddin membahas maqashidul ibadah, bahwa tujuan semua ibadah adalah mendekatkan diri pada Allah.  Kedekatan seorang hamba dengan Allah itu ada dua macam, kedekatan dengan ilmu pengetahuan dan kedekatan dengan kemurahan dan kebaikan-Nya.

Lalu Syekh Izzuddin membahas keutamaan dan kemuliaan ibadah itu tergantung pada derajat dan manfaatnya, semakin besar manfaat maka semakin utamalah ibadah itu. Lantas apa ibadah yang paling agung faedahnya? Jawabannya adalah mengenal Allah dan beriman kepada-Nya. Lalu ibadah apa setelahnya? Jawabannya adalah shalat. Pada shalat terdapat aktivitas hati, lisan dan anggota badan sekaligus, baik shalat fardhu maupun sunnah—yang tidak tercakup oleh ibadah-ibadah lainnya. Keutamaan shalat itu digambarkan sebagai ibadah yang dapat mencegah pelakunya dari berbuat mungkar dan keji (QS. Al-Ankabut: 45), menghapus dosa dan kesalahan (QS. Hud: 114), serta meninggikan derajat ketakwaan (QS. Al-Isra: 79). Sedangkan tujuan terbesar shalat adalah upaya memperbarui perjanjian antara hamba dengan Allah.

Di dalam shalat terdapat amalan yang khusus bagi Allah, yang khusus bagi hamba, yang khusus bagi Rasulullah serta bagi kaum mukminin. Hubungan shalat dengan Allah adalah karena shalat mencakup sanjungan kepada-Nya dengan segala yang memungkinkan bagi para makhluk untuk memuji kebesaran-Nya. Hubungan shalat dengan Rasulullah adalah karena di dalam shalat terdapat salam kepada beliau, kesaksian atas risalahnya, juga shalawat kepada beliau beserta keluarganya. Sedangkan hubungan shalat dengan kaum mukminin terletak pada kalimat:

Baca juga:  Sabilus Salikin (42): Golongan Wali yang Tidak Terhitung Jumlahnya

السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

Semoga keselamatan senantiasa berada pada diri kami beserta bagi hamba-hamba Allah yang shaleh.

Syekh Izzuddin menjabarkan di dalam shalat terdapat tiga faedah sekaligus. Pertama, dalam shalat kita bersujud kepada Allah. Ini menunjukkan penghambaan diri, manusia rendah di hadapan Tuhan Yang Maha Agung. Di dalam shalat pula kita berdoa  memohon pertolongan dari Allah Yang Maha Mengabulkan. Inilah bentuk munajat terbaik yang sangat berfaedah bagi seorang muslim. Karenanya Rasulullah bersabda: “Orang yang shalat itu sedang bermunajat kepada Tuhannya.” (HR. Bukhari)

Kedua, shalat menjadi bentuk penguatan akidah seorang muslim. Ibaratnya, sebagai seorang manusia yang lalai tiap harinya, diperlukan refresh keimanan, untuk mempertebal keyakinan kepada Allah. Shalat menjadi anugerah terbaik yang disiapkan Allah bagi umat Muhammad. Gerakannya menjadi piranti terbaik untuk merefresh keimanannya setiap harinya.

Ketiga, di dalam shalat lima waktu, seorang muslim diberikan kesempatan bertaubat berulang kali. Lima waktu sehari, dalam jarak waktu yang berdekatan. Dalam sehari semalam dosa-dosa seorang muslim yang menumpuk bisa dibersihkan dengan shalat yang khusyuk. Rasulullah bersabda di hadapan sekelompok Sahabat: “Bagaimana pendapat kalian, seandainya di depan pintu rumah seseorang terdapat sungai yang jernih, hingga setiap harinya bisa mandi lima kali di sana, mungkinkah masih ada kotoran di badannya?”  Sahabat menjawab: “Sungguh tiada kotoran yang tersisa di badannya.” Rasulullah pun menjawab: “Seperti itulah perumpamaan shalat lima waktu, di dalamnya Allah menghapus dosa-dosa kalian.” (HR. Bukhari, Muslim).

Baca juga:  Sabilus Salikin (109): Corak Pemikiran dan Gaya Ibnu Arabi (Tarekat Akbariyah)

Selanjutnya, Syekh Izzuddin dengan sangat apik mengelaborasi makna bacaan shalat. Dimulai dengan Takbir, berdiri, ruku’ beserta tasbihnya, i’tidal beserta bacaannya, dan sujud beserta dzikirnya, semuanya dipersembahkan hanya bagi Allah. Di dalam surah al-Fatihah ada hak Allah yang terletak poada separuh pertama, karena bagian ini berisi pujian bagi Allah. Sedangkan separuh kedua merupakan hak mushalli (orang yang shalat), karena berisi doa permohonan kepada Allah. Adapun bacaan doa antara dua sujud merupakan hak bagi mushalli. Sedangkan nilai ketundukan dan kekhusyukannya bergantung pada Allah. Di dalam bacaan tasyahud awal dan akhir terdapat hak-hak Allah, Rasulullah, si mushalli dan orang-orang beriman. Kata Salam berisi doa keselamatan dari segala marabahaya dan kedzaliman. Sedangkan Tahiyyat bermakna penghormatan yang penuh berkah datangnya dari Allah.

Penjelasan Syekh Izzuddin mengalir begitu seterusnya hingga pada bahasan makna gerakan shalat dan keadaan hati si mushalli. Syekh Izzuddin menampilkan dimensi shalat sebagai bentuk ibadah yang patut disyukuri, karena nilai-nilai setiap bacaan dan gerakannya sarat makna yang dibutuhkan dalam gerak nafas seorang hamba. Pada akhirnya dengan mempelajari kitab ini, kita diajak menyelami eksistensi diri hamba dinilai dari sudah benarkah penghayatan shalat selama ini. Secara tak langsung Syekh Izzuddin hendak menunjukkan begini lho caranya shalat agar kita bisa khusyuk bermunajat di hadapan Allah.  Wallahu A’lam

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
2
Senang
2
Terhibur
2
Terinspirasi
2
Terkejut
1
Scroll To Top