Sedang Membaca
Siapakah Orang Nusantara yang Paling Awal Pergi Haji?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Siapakah Orang Nusantara yang Paling Awal Pergi Haji?

Muhammad Iqbal
Siapakah Orang Nusantara yang Paling Awal Pergi Haji? 2

Perjalanan menunaikan ibadah haji sering disebut dalam literatur sebagai rihlah mubarakah, perjalanan penuh berkah. Disebut pula, rihlah Makkiyah, karena salah satu tujuannya datang Masjidil Haram, di Mekkah.

Perjalanan ke Mekkah, khususnya untuk menunaikan ibadah haji (pilgrimage), bukan melancong atau piknik menghilangkan penat, tapi perjalanan untuk memenuhi rukun Islam kelima. Dari tinjauan sejarah, haji juga satu-satunya rukun Islam yang merujuk pada peristiwa-peristiwa di mana dua agama besar bertemu, yakni pada Nabi Ibrahim, nabi yang bapak agama ‘Samawi’.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sejak masa persiapan melakukan perjalanan, para jemaah (pilgrims) mengalami peningkatan rasa kebersamaan (komunal) untuk selanjutnya mencapai tingkat liminalitas (liminality), yaitu transisi keruhanian lebih tinggi begitu menyelesaikan seluruh rangkaian ritual–dalam hal ihwal ibadah haji–dan berhak menyandang gelar Haji, untuk lelaki, atau Hajjah, untuk perempuan.

Siapa dan kapan penduduk Nusantara yang paling awal menunaikan ibadah haji? Masih sulit menjawab pertanyaan ini.

Dari sumber-sumber yang ada, dapat diidentifikasi bahwa mereka yang pertama kali melaksanakan haji bukanlah jemaah yang dari awal ingin pergi haji, melainkan para pedagang, utusan sultan, dan para musafir penuntut ilmu. Tampaknya sejak abad XVI hingga abad XVII mereka telah berkunjung ke Hijaz untuk melaksanakan pekerjaan masing-masing sambil melaksanakan ibadah haji.

Baca juga:  Benarkah Imam as-Suyuti Seorang Pengelana?

Menurut P.M. Holt (1970), sejak permulaan abad XVI dan ketika arus pelayaran perdagangan dari Timur Tengah ke Nusantara mulai surut akibat serangan armada perdagangan Portugis di Samudera Hindia, justru arus perdagangan dari Nusantara melalui Samudera Hindia baru dimulai.

Dengan demikian, peranan pedagang Arab yang sebelumnya mendominasi jalur pedagangan Samudera Hindia, beralih ke tangan pedagang Nusantara. Boleh jadi, lada yang diperdagangkan di Antwerp pada pertengahan pertama abad XVI–yang ternyata masih berasal dari Mediteranian dan pada 1554 pedagang Venesia masih membeli rempah-rempah dari Iskandaria–adalah komoditas yang telah diperdagangkan oleh para saudagar Nusantara sebelumnya.

Sementara itu, pusat pelayaran perdagangan ke Barat, yang semula berkedudukan di Malaka, sejak kota ini ditaklukkan oleh Portugis pada 1511, beralih ke Aceh.

Posisi Aceh bertambah kuat karena hubungannya dengan Turki Utsmani yang pada 1516 penguasanya menggunakan gelar khalifah-sultan. Dalam kedudukan sebagai khalifah, penguasa Turki Utsmani dianggap sebagai pemimpin spiritual, sesuai tradisi politik klasik Islam, bagi pemerintahan Islam sejagat. Sedangkan sebagai sultan, ia menjadi penguasa bagi rakyatnya.

Melalui hubungan itu, Aceh memanfaatkannya untuk meningkatkan hubungan politik dan perdagangan dengan Turki. Hubungan perdagangan yang lancar antara Atjeh dan Turki ditandai dengan adanya armada perdagangan di Jeddah. Sebuah sumber dari Venesia melaporkan bahwa pada 1556 dan 1566, terdapat lima buah kapal dari Aceh yang berlabuh di Jeddah (Azra: 1994).

Baca juga:  Di Antara Keutamaan Surah Al-Baqarah

Sesungguhnya, pada permulaan abad XVI, telah dijumpai pribumi Nusantara di Mekkah yang kemungkinan besar mereka adalah pedagang yang datang dengan kapalnya sendiri.

Menurut M. Shaleh Putuhena (2007), jemaah haji yang dijumpai oleh Louis Barthema di Mekkah pada 1503, barangkali adalah orang-orang Nusantara yang pertama kali melaksanakan haji.

Namun, sekali lagi, mereka bukanlah jemaah haji yang sengaja berangkat dari Nusantara untuk melaksanakan haji. Mereka adalah pedagang dan pelayar yang berlabuh di Jeddah dan berkesempatan untuk berkunjung ke Mekkah. Tak musykil pelayar dan saudagar dari lima buah kapal yang berlabuh di Jeddah pada 1565 dan 1566 itu, telah melaksanakan haji. Armada perdagangan Nusantara yang lolos dari hadangan Portugis itu menuju ke Jeddah yang pada masa itu lebih berfungsi sebagai pelabuhan niaga, bukan sebagai pelabuhan haji. Dan, mereka berkesempatan untuk melaksanakan haji.

Menurut sumber-sumber tradisional Jawa, Nurullah yang kemudian mahsyur dengan julukan Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, berangkat ke Makkah, setelah Pasai (kota kelahirannya), ditaklukkan oleh Portugis pada 1521.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dia berada di Kota Suci itu selama tiga tahun dan telah melaksanakan rukun Islam yang kelima, haji. Sekembali dari Mekkah, dia berangkat ke Demak untuk bersama penguasa setempat menyerang kerajaan Hindu-Buddha, Pajajaran, di Banten dan merebut pelabuhan utamanya, Sunda Kelapa.

Baca juga:  Memahami Cinta Ibu

Memerhatikan kondisi saat itu, keberangkatan Nurullah ke Makkah adalah sebagai diplomat untuk meminta bantuan Turki Utsmani agar mengusir Portugis dari Pasai. Kala itu, Makkah telah berada dalam kekuasaan Turki Utsmani. Meskipun Nurullah adalah utusan pemerintah, selama di Makkah dia mendapatkan kesempatan untuk belajar agama Islam (Ricklefs 2001).

Dus, haji Nusantara telah dimulai pada awal abad XVI dan selama abad itu, ia dilaksanakan oleh para pedagang dan diplomat. Mereka pergi ke Hijaz dengan maksud untuk berdagang atau melaksanakan tugas dari pemerintahnya, dan mereka memiliki kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji.

Dan sejak abad XVII, penduduk pribumi Nusantara mulai banyak berkelana menuntut ilmu ke Haramain sambil melaksanakan ibadah haji, meskipun pada awalnya tujuan mereka adalah untuk berdagang atau menuntut ilmu. Mereka inilah yang kemudian dianggap sebagai angkatan perintis haji Indonesia.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top