Sedang Membaca
Ekstrimisitas Beragama dalam Kacamata Sufisme Nusantara  
Heru Harjo Hutomo
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mengembangkan cross-cultural journalism, menulis, menggambar, dan bermusik

Ekstrimisitas Beragama dalam Kacamata Sufisme Nusantara  

Abilawa Sukasman

Tan ingsun maparangah kahananmu

Sakaliring dudu jati

Buku Kiai Said

Amung daden kang ngreridhu

Nanging tumraping margi

Linampahan kanthi tanggon

—Megatruh,  Heru Harjo Hutomo

Ada satu riwayat yang berkembang dalam dunia para sufi, bahwa Nabi Muhammad mengajarkan dua macam pengetahuan kepada para pengikutnya: pengetahuan eksoterik dan pengetahuan esoterik.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pengetahuan eksoterik adalah pengetahuan keislaman yang berkembang dan memiliki dinamika hingga yang kita kenal saat ini.

Sedangkan pengetahuan esoterik, konon, menurut para sufi, mengalir saat Nabi Muhammad dan Abu Bakar al-Shiddiq bersembunyi di gua Tsur dari kejaran kalangan oposan. Ataupun saat Ali diperintah oleh Nabi Muhammad untuk menunggui rumah yang tengah dikepung oleh kalangan oposan.

Dua peristiwa tersebut adalah jamak dirujuk para sufi ketika menjelaskan dasar historis ilmu tasawuf dan tarekat, yang tentu pula mengalami perkembangan, sampai yang kita kenal saat ini.

Konon, seusai beberapa pengikutnya mendengarkan wejangan ilmu-ilmu esoterik tersebut, beberapa di antaranya memutuskan untuk total dalam berbakti pada Tuhan.

Mereka berkomitmen untuk menanggalkan segala status dan atribut duniawinya—bahkan sampai ada yang memutuskan untuk mengebiri kelaminnya sendiri dalam rangka untuk tak “terganggu” kemesraannya dengan Tuhan oleh isterinya.

Namun demikian, Nabi Muhammad melarang semua kesimpulan dan keputusan yang berlebihan tersebut. Dari riwayat ini dapat dikatakan bahwa Nabi Muhammad sangat menghindari ekstrimisitas.

Karena itulah, bagi orang-orang Jawa, ia identik dengan prinsip “sak madya” atau tak berlebihan. Saya kira, terkadang kita lupa bahwa apa yang ada pada kita tak sepenuhnya milik kita.

Ternyata, tanpa kita sadari, ada hak orang lain di sana. Taruhlah tangan kita atau anggota tubuh lainnya serta jiwa kita. Rupanya, pada tangan kita ada hak anak kita untuk mendapatkan belaian sebagai sebentuk ekspresi kasih-sayang.

Ketika pun dilacak sampai ujung, ternyata segala hal yang ada pada kita adalah amanah yang akhirnya melahirkan konsep hak. Pada titik ini, saya kira, Nabi Muhammad sangat mengakui tentang adanya hak milik di samping kewajiban yang mesti dipenuhi.

Konsep hak milik di dalam prinsip Nabi Muhammad sebenarnya diturunkan dari keyakinan bahwa segala hal yang ada pada kita ternyata hanyalah amanah.

Dan karena amanah, maka sudah sepantasnya untuk dijaga dan digunakan dengan sebaik-baiknya. Konsep amanah inilah yang pada akhirnya melahirkan konsep bela negara, atau dalam tingkatan terkecil, konsep bela diri yang kita kenal sekarang.

Baca juga:  Pencitraan dalam Koridor Islam

Tak salah kiranya ketika saya menyuguhkan karakter Bima atau Wrekudara dalam kisah pewayangan Jawa yang banyak memiliki persinggungan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.

Selain bahwa Bima dikenal sebagai pribadi yang jujur dan temen atau dapat dipercaya, ia adalah juga seorang kusumayudha (kembangnya perang) atau bahkan kusumadilaga (selalu menang dalam perang).

Sangat berbeda secara diametral dengan kakaknya, Yudhistira, yang saking halus dan berprinsip pantang untuk bermusuhan (anjatasatru), selalu mengalah demi keluhuran akhirat.  Prinsip itu mengantarkannya pada puncak konsep kematian Jawa dimana tubuh pun dapat beranjak ke surga.

Namun demikian, ternyata prinsip Bima, secara ketuhanan, lebih menjadi panutan daripada Yudhistira.

Bukan semata karena hanya ia, dengan karakter jujur dan temen-nya yang luar biasa, yang dapat sejiwa dengan Dewa Ruci dan mendapatkan pepadhang yang jarang diperoleh oleh tokoh-tokoh lainnya.

Namun juga karena hanya dirinyalah yang ternyata dipercaya menjadi “al-Ghauts” yang bergelar Syekh Senan sebagaimana yang diungkapkan oleh Sultan Agung dalam Serat Pengracutan.

Dalam Serat Pengracutan, Sultan Agung menyebutkan tentang adanya 9 pribadi yang berkedudukan sebagai al-Ghauts yang agung: Nabi Khidhir, Nabi Ilyas, Nabi Armiya, Nabi Isa, Said Umar (atau di Jawa lebih dikenal sebagai Raden Umarmaya), Syekh Senan atau Wrekudara, dan Syekh Johar Manik atau Sunan Kalijaga.

Mirip dengan konsep Bodhisatwa dalam tradisi Buddhisme Mahayana, 9 al-Ghauts tersebut kerap dikisahkan sebagai “penolong” atau bahkan “pembimbing” orang dalam meraih pepadhang.

Dalam sufisme Nusantara Bima merupakan perlambang keseimbangan. Seandainya Yudhistira adalah lambang nafsu muthmainah yang selalu berorientasi pada kesucian, Bima adalah lambang pribadi yang sudah dapat bersikap “sak madya” dengan kemampuannya menyeimbangkan antara nafsu ammarah, lawwamah, dan muthmainah.

Meskipun muthmainah adalah nafsu yang cenderung disifati baik, namun ia tetaplah sesesap nafsu yang sifatnya memang selalu mengarah pada ekstrimisitas.

Ketika yang dominan adalah karakter Yudhistira yang merupakan perlambang nafsu muthmainah, maka apa yang kita kenal sebagai martabat yang merupakan sebuah amanah dapat jatuh dan rendah.

Inilah yang menyebabkan kenapa Pandawa dapat ditipu dalam meja perjudian dimana Bima, Arjuna, Nakula-Sadewa, dan sang permaisuri, Drupadi, sampai direndahkan dan dilecehkan di muka umum.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Miskroskop: Ritual Natal yang Tak Berulang

Dengan demikian, ekstrimisme keagamaan ternyata sebermulanya dapat pula beranjak dari niat yang luhur, yang saking luhurnya, justru dapat menipu para pelakunya.

Sebab, bagaimana pun, nafsu manusia—meski yang dinilai baik sekali pun—selalu berupaya mengatasi batasan-batasan, baik batas tubuh, batas pikiran, batas jiwa, atau secara singkat, batas kemanusiaan.

Dan logika ekstrimisitas selalu saja adalah logika yang akan memakan dirinya sendiri (logika bunuh diri).

Membayangkan lakon wayang Dewa Ruci adalah seperti halnya peristiwa isra’ mi’raj yang dialami oleh Nabi Muhammad. Tanpa sama sekali berniat untuk membandingkannya, peristiwa isra’ mi’raj memang menjadi salah satu dasar dari sufisme.

Titik-singgung di antara keduanya, saya kira, adalah jawaban atas pertanyaan besar yang lazim diungkapkan dalam sufisme Nusantara: setelah meraih pepadhang keduanya tak karem atau hanyut oleh kesejatian yang konon memang laiknya menyesap banyu wayu sewindu bagi orang-orang yang sedang didera dahaga.

Tapi tentu, tak sebagaimana konotasi hijrah bagi kalangan puritan yang kemudian bersifat hantam krama atau radikal pada dunia yang dipandangnya bobrok.

Nabi Muhammad dan Bima Sena justru mengetengahkan prinsip keseimbangan atau keselarasan. Tak sekedar persoalan tentang diri dan penempaannya, tapi juga pada sikap untuk tak terlalu muluk pada gegayuhan untuk mengubah dunia, sementara tak terlalu tunduk pula pada dunia yang sudah semestinya dilewati.

Pada kisah transformasi diri dengan cara masing-masing itulah dunia dan hal-hal keduniawian tak lagi menjadi kendala yang berarti bagi spiritualitas sebagaimana tubuh yang merupakan penjara bagi jiwa.

Tak akan aku terperangah

Oleh keadaan segala sesuatu

Tak ada yang Haqq

Hanya semu yang membelenggu

Tapi ibarat jalan

Sudah semestinya dilewati.

Dalam kearifan Jawa menghindari ekstrimisitas atau sikap yang berlebihan tersebut juga terendap dalam ungkapan “tanggap ing sasmita” (peka terhadap isyarat) sebagaimana pula yang terdapat dalam tradisi-tradisi spiritual lainnya.

Orang belum dapat dikatakan “dewasa” secara spiritual andaikata belum tanggap ing sasmita. Tak sekedar ungkapan-ungkapan sejenis koan dalam Buddhisme Zen, atau yang dalam kearifan Jawa disebut sebagai sanepan, terkadang isyarat itu datang lewat berbagai bahasa tubuh yang memerlukan landheping panggrahita (kepekaan rasa) untuk memahaminya.

Dalam wanda atau ragam rupa wayang kulit terdapat berbagai simbolisasi seperti halnya sikap tangan yang memiliki makna khusus. Taruhlah karakter Semar yang juga merepresentasikan prinsip keseimbangan seperti halnya Bima Sena.

Baca juga:  Ihya Berjalan, Berjalan dengan Ihya

Di samping tubuhnya yang tambun ataupun matanya yang sembab dan bibir yang menyungging senyum, memiliki bentuk tangan dimana yang satu menuding dengan telunjuknya dan yang lainnya mengepal.

Ketika kita tahu konteks sejarahnya, tentulah kita tahu bahwa hanya Semar yang ketika menuding tak akan berbalik arah ke dirinya.

Sepertinya para pujangga Jawa memang menciptakan satu karakter khusus yang benar-benar Haqq (baca: Sunyata) meskipun harus tampil tak sebagaimana angan orang tentang yang Haqq.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sebab, ketika semua orang tahu mana yang benar-benar Haqq, maka selesailah sudah segala tertib kehidupan.

Bersama dengan Bima Sena –yang terkenal dengan karakter tegasnya– tak pernah menyembah dan berbahasa halus kecuali pada Dewa Ruci, Semar adalah juga karakter dalam wayang kulit yang –karena tampilannya– sering diremehkan oleh para “pembesar” pengikut prinsip hidup sang dewi kejahatan: Bathari Durga.

Demi meraih sebuah pamrih, Durga dan para pengikutnya terkenal dengan prinsip dan cara-cara yang oleh Semar kerap diingatkan dengan sebuah pertanyaan preventif: “Wis wani wirang?”.

Wani wirang atau berani malu pada dasarnya adalah sikap-sikap yang berani melawan hukum dalam rangka meraih pamrih.

Ketika orang yang sudah dewasa secara spiritual diingatkan dengan pertanyaan ala Semar tersebut dan ia segera tersadar untuk mengurungkannya berarti orang yang bersangkutan dapat dikatakan sudah tanggap ing sasmita.

Dari kisah tentang Semar dapat diketahui bahwa manusia memang memiliki potensi untuk melanggar hukum.

Karena itu dapat dikatakan bahwa hukum pada dasarnya adalah sebuah bukti kongkrit atas faktisitas manusia sebagai tempat segala lalai dan kesalahan (Kahanan: Melongok dari yang Tak Pokok, Heru Harjo Hutomo, Bintang Pustaka Madani, Yogyakarta, 2021).

Hukum pun rupanya tak sekedar bukti kongkrit atas faktisitas manusia yang saya istilahkan sebagai “dhewek” tersebut (“Dhewek” dan Teologi Ketakmanjaan Jawa, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Ia adalah juga sarana untuk menggali potensi kemanusiaan lainnya dimana dalam bahasa agama dikatakan sebagai “selamat.”

Di samping manusia memiliki kecenderungan pada yang bathil, ia juga memiliki kecenderungan pada yang haqq. Dan tentunya semua ini tergantung pada “dhewek” (diri sendiri).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top