Sedang Membaca
Nurul Mubin, Kitab Langka yang Menjadi Pegangan Sultan Bima
Hilful Fudhul
Penulis Kolom

Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pimpinan Alumni Pondok Pesantren Darul Furqan Kota Bima

Nurul Mubin, Kitab Langka yang Menjadi Pegangan Sultan Bima

Img20200817031903

Kitab ini merupakan pegangan bagi Sultan Bima dalam memahami Allah SWT dan RasulNya yaitu Nabi Muhammad Saw. Kitab ini disalin dari kitab karya Syaikh Syarif ‘Alawi bin Sayid Abi Bakar Syarif Husain Bafaqih al-Alawi al-Husain Syafi’I al-Anshari al-Ghazali al-Hadrami at-Tarimi, yang berjudul “An-Nurul Mubin Fi I’tikad Kalimat Syahadatan”. Penulis sendiri mendapatkan kitab Nurul Mubin karya Sultan Muhammad Shalahuddin yang diterbitkan oleh Drukkerij Ab. Siti Syamsiayah di Solo pada tahun 1932 untuk cetakan kedua dan terakhir dicetak pada tahun 1942.

Penulisan kitab yang didapatkan oleh penulis sudah berbahasa Indonesia dengan ejaan lama, aslinya kitab Nurul Mubin menggunakan Bahasa Arab-Melayu yang sejak Sultan Sirajuddin (1640-1682) menjadi bacaan wajib, hingga disalin pertama oleh Sultan Abdulqadim (1742-1773), kemudian dilanjutkan oleh Sultan Abdulhamid (1795-1819) dan terakhir oleh Sultan Muhammad Shalahudin (1915-1951).

Dalam keterangan BO Sangaji Kai, sejak Islam menjadi agama resmi kerajaan Bima pada kisaran tahun 1640, masuknya Islam menjadi nafas baru bagi peradaban masyarakat Bima dan bagi penguasa di Indonesia Timur. Sultan Bima dididik oleh para ulama untuk mendalami agama Islam dengan berbagai kitab yang menjadi pedoman, selain kitab karya Imam al-Ghazali seperti yang telah disebutkan di atas bahwa kitab Nurul Mubin juga menjadi salah satu kitab pegangan dan rujukan bagi sultan untuk mengenal Tuhan dan Rasul.

Baca juga:  Sabilus Salikin (31): Zikir (1)

Kitab Nurul Mubin yang disalin oleh Sultan Muhammad Shalahuddin pada keterangan akhir kitab ini di halaman 18 disebutkan bahwa penyalinan selesai pada Hijrah Nabi Muhammad Saw 1200, dua puluh genap hari bulan Rajab pada hari Sabtu jam 9. Pada kitab ini pula Sultan Muhammad Shalahuddin yang merupakan perintis NU di Bima ini, menegaskan bahwa para Sultan Bima adalah penganut Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, sesuai pada awal tulisan dikitab Nurul Mubin dituliskan ;

Segala Poedji bagi Allah jang menoendjoek akan kami bagi Iman dan Islam dan mendjadikan kami dari Ahloessoenah dan Djama’ah jang moelia dan Rahmatoellah dan sedjahtera atas penghoeloe kami Moehammad penghoeloe segala manoesia dan atas keloearga dan sahabatnja pelita jang menerangi segala jang gelap.”

Pada kitab yang dirujuk juga merupakan risalah yang menguraikan tentang i’tikad Ahli Sunnah wal Jama’ah. Sedangkan kitab rujukan yang berjudul An-Nurul Mubin Fi I’tikad Kalimat Syahadatan pada halaman 50 terdapat keterangan bahwa kitabnya selesai pada 9 Rajab 1123 H. Nurul Mubin karya Sultan Muhammad Shalahudin terdapat dua hal yaitu tentang pengenalan hakikat i’tiqad untuk mengetahui dua kalimat syahadat, yaitu sifat-sifat Allah SWT dan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw. Seperti yang dituliskan oleh Sultan Muhammad Shalahuddin;

Adapoen kemoedian dari pada itoe, ketahoeilah olehmoe ditoendjoeki Allah Ta’ala djalan jang betoel, bahwa I’tiqad Islam jang sebenar-benar lagi sahih sempoerna pada haq Ta’ala dan pada haq pesoeroehnja atas mereka itoe Rahmatoellah dan salamnja jaitoe I’tiqad Nabi kita Moehammad Saw dan I’tiqad sahabatnja dan keloerganja jang atas Ahloesoenah wal Djamaah jang selamat dari pada toedjoeh poeloeh tiga qaoem, maka I’tiqad ini tersimpan pada ma’na doe kalimat Sjahadah.”

Salinan karya Sultan Muhammad Shalahuddin menegaskan bahwa kesultanan Bima berpegang teguh pada Islam Ahlu Sunnah wal Jama’ah serta kewajiban Sultan Bima dan masyarakatnya untuk benar-benar mengenal Allah SWT dan Nabi Muhammad Saw, salah satunya dengan menjadikan kitab Nurul Mubin sebagai pedoman. Karya Sultan Muhammad Shalahuddin mengurai sifat-sifat Allah SWT yang wajib, jaiz dan yang mustahil satu persatu.

Baca juga:  Kitab Mujarabat Sunda: Pengobatan Secara Mistik-Spiritual

Secara keseluruhan terdapat banyak naskah-naskah kuno yang menjadi penting untuk dipelajari oleh generasi hari ini. Dalam keterangan Dr. Syukri Abubakar dalam seminar bertemakan Kesultanan Bima, Pusat Islam Nusa Tenggara, 1 Juli 2020 yaitu terdapat 73 naskah keislaman yang terdiri dari Aqidah, Tasawuf, Fiqh, Falsafah, terdapat 7 naskah Hikayat, ada 82 naskah BO, 37 naskah catatan dan dokumen kerajaan serta terdapat 19 naskah Silsilah yang sampai hari ini hanya sebagian kecil saja naskah BO telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya terdapat hampir ratusan naskah yang belum diterjemahkan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top