Sedang Membaca
Mualaf Rahmatan lil Alamin (4): Arnoud Van Doorn, Politisi Pembenci Islam yang Kini Berubah Haluan
Hasna Azmi Fadhilah
Penulis Kolom

Peneliti dan pemerhati politik yang tinggal di Jatinangor Sumedang. Bisa dijumpai di akun Twitter @sidhila

Mualaf Rahmatan lil Alamin (4): Arnoud Van Doorn, Politisi Pembenci Islam yang Kini Berubah Haluan

Whatsapp Image 2020 06 09 At 10.27.34 Pm

Pada tahun 2008 lalu, umat muslim global dikejutkan oleh diluncurkannya film pendek berjudul ‘Fitna’. Dokumenter singkat 17 menit yang diproduseri Arnoud Van Doorn dan disokong oleh partai sayap kanan Belanda, Dutch Freedom Party (PVV) tersebut sontak membuat banyak orang Islam meradang. Selain menampilkan banyak ayat yang salah tafsir, sepanjang film hanya ada deretan gambar teroris yang diambil serampangan untuk meneguhkan propaganda bahwa Islam adalah agama kekerasan.

Bahkan, Nabi Muhammad SAW pun dideskripsikan sebagai individu yang menaruh bom di atas kepalanya. Dengan randomnya penafsiran Al Quran yang dimunculkan, film ini kemudian dilarang tayang secara luas di Belanda. Meski akhirnya lolos juga untuk ditayangkan secara online melalui Liveleak.

Yang menarik, lima tahun usai Fitna tayang dan menuai protes serta demonstrasi besar-besaran di berbagai negara berpenduduk mayoritas muslim, sang produser justru mengumumkan dirinya seorang muslim. Melalui akun twitternya, Van Doorn memposting tweet kalimat syahadat yang langsung membuat banyak warga Belanda terperangah, selain juga menganggap apa yang dilakukan oleh politisi kelahiran 18 Maret 1966 itu hanyalah lelucon belaka.

Walau baru mendeklarasikan diri sebagai muslim pada tahun 2013, sesungguhnya Van Doorn mempelajari Islam karena keingintahuan sudah sejak lama. Pendalaman mengenai Islam itulah yang kemudian membuatnya menarik diri dari PVV pimpinan Greet Wilders di bulan Desember 2011. Sesaat setelah mundur dari partai anti-Islam tersebut, Van Doorn mengakui bahwa ia kehilangan banyak kolega. Rekan-rekannya menganggap berbicara dengannya akan memperburuk citra mereka di mata publik. Atas sikap mereka, Van Doorn paham bahwa itu memang hal wajar. Terutama karena ia mengambil posisi yang berbeda 180 derajat dari apa yang ia suarakan dahulu.

Baca juga:  Terorisme dan Media (1): Sel Terorisme dan Bom Bunuh Diri  

Kawan-kawan yang membelanya tak lagi berpihak padanya, justru orang-orang yang tadinya ia musuhi kini malah bersimpati pada pria kelahiran The Hague tersebut. “Saya bisa memahami orang-orang yang skeptis dengan pilihan saya, yang bagi sebagian orang tak diharapkan,” kata Arnoud pada Al Jazeera. “Ini adalah keputusan besar yang sama sekali tak bisa saya anggap enteng.” Dia mengaku, rekan-rekan di lingkaran dalam partainya sudah lama mengetahui ia secara aktif meneliti Alquran, Hadis, Sunah, dan tulisan tentang Islam lainnya.

Hanya saja pada waktu itu mereka berpikir bahwa, ia mendalami itu untuk lebih banyak menemukan kelemahan Islam. Padahal yang terjadi malah sebaliknya: semakin ia menggali pengetahuan tentang Islam, ia semakin merasa bahwa jauh lebih banyak kebenaran yang disingkapkan padanya. Ia yang awalnya sangat anti-islam pun mengalami kebimbangan hebat. Ia seakan tak percaya apa yang ia peroleh dari pembelajarannya mengenai islam. Ia sempat berpikir bahwa ia sedang diperdayai oleh Islam, terlebih setelah ia berkunjung ke masjid setempat, bukannya dicaci maki ketika datang, ia justru disambut hangat, ramah, dan penuh senyuman. Batinnya pun bergejolak dan merasa bahwa ia sedang berada dalam pengaruh hipnotis atau semacamnya, “ini tidak bagus, mereka telah mengerjai saya, mereka telah memanipulasi pikiran saya, saya telah dicuci otak! Sudahlah, saya akan melupakan saja semua ini. Saya tidak akan pernah kembali lagi ke sana.”

Baca juga:  Alquran dan Keanekaragaman Hayati

Ketulusan imam masjid dan umat islam yang ia temui seperti delusional. Apalagi selama ini ia terkenal menjadi orang yang sangat membenci islam dan mempropagandakan bahwa islam adalah kepercayaan sesat para pemuja setan. “Setelah begitu banyak hal negatif yang saya dan PVV perbuat, bagaimana mungkin mereka bisa begitu bersahabat?”

Ia yang awalnya hanya ingin berkunjung sebentar, tak dinyana malah menghabiskan waktu 2,5 jam untuk bertanya tentang Islam secara intensif. Setelah kunjungan pertamanya tersebut, ia pun tergerak untuk memikirkan kembali perspektifnya tentang Islam. Dengan modal awal Al-Qur’an terjemahan bahasa Belanda, selama 1,5 tahun ia giat belajar seperti apa konsep islam sebenarnya melalui berbagai cara, dari mengikuti kajian di masjid hingga belajar langsung dari imam yang ia kenal. Hingga ia berada di titik kesimpulan bahwa banyak individu di negara barat, termasuk dirinya telah salah kaprah memahami islam. Setelah sadar akan kesalahannya di masa lampau, pria dengan lima bersaudara ini kemudian mantap untuk mengikrarkan syahadat di tempat yang dulu ia benci.

Bahkan tak lama setelah memeluk islam, Arnoud langsung mendaftarkan diri untuk berhaji dengan niat tulus ingin berdoa di tanah suci agar semua dosanya terampuni. Selama di sana, ia mengakui bahwa ia seperti terlahir kembali. Apalagi saat ia berziarah ke makam Rasulullah, ia merasa malu atas banyaknya fitnah yang ia perbuat terhadap islam, baik melalui gerakan partainya maupun film pendek yang ia produseri. Tak pelak, ia pun tertunduk menyesal dan hanya bisa berharap semoga Allah mengampuni seluruh tindakan negatifnya yang merugikan islam maupun para muslim.

Baca juga:  Jelang Munas Alim Ulama (5): Tiga Ulama Sumbawa dan Tiga Tuan Guru Pertama

Sejak menjadi muslim, Arnoud pun banyak berubah. Ia tak ingin sekadar tahu ‘kulitnya’ islam, tapi ia berusaha sebaik mungkin mengimplementasikan ajaran islam melalui tingkah laku seperti yang dicontohkan Rasul. Dan teladan baik itulah yang kemudian membuat anak laki-lakinya, Iskander terpukau dan mengikuti jejaknya untuk menjadi muslim di bulan April tahun 2014, “saya melihat ayah saya menjadi lebih damai setelah beralih ke Islam,” kata Iskander, “saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang baik dalam agama ini dan itu membuat saya mengubah persepsi saya tentang umat Islam.”

Melihat banyaknya kebaikan yang ia peroleh saat masuk islam, Arnoud pun semakin terdorong untuk berbuat lebih banyak, termasuk memproduseri film yang meluruskan film ‘Fitna’ yang berjudul ‘Muhammad: Master of Human Beings’. Selain itu, ia tetap meneruskan kiprahnya di politik dengan mendirikan partai baru bernama Islamic Party for Unity dan menggawangi European Dawah Foundation, serta menjadi duta dari Canadian Dawah Association.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top