Sedang Membaca
Riwayat Gus Dur Meledek dan Menyerang HMI

Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Hamzah Sahal
Penulis Kolom

Founder alif.id. Belajar di sejumlah pesantren serta aktif di Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU.

Riwayat Gus Dur Meledek dan Menyerang HMI

Selain tak ragu mengolok diri sendiri, Gus Dur fasih mengolok Himpunan Mahasiswa Islam, atau yang biasa disingkat dengan tiga huruf: HMI. Susah ditampik, bahwa Gus Dur punya hubungan emosional dengan HMI. Maksudnya adalah, bawaannya emosi terus jika menyaksikan tindak-tanduk organisasi dengan identitas warna hitam dan hijau ini. Ada apa, hingga Gus Dur begitu amat?

Gus Dur tahu betul, HMI diselamatkan dari “amukan” Bung Karno oleh guru dan besan ayahandanya: Kiai Haji Saifuddin Zuhri. Memang agak aneh NU ini. Jelas bahwa HMI tidak satu garis dengan NU, namun saat Bung Karno hendak membubarkan organisasi yang didirikan tahun 1947 oleh Lafran Pane dan kawan-kawannya ini, dibela dengan sungguh-sungguh oleh seorang menteri agama dari NU.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Saya memberi tahu kepada Saudara, selaku Menteri Agama, bahwa saya akan membubarkan HMI!” Presiden Soekarno kepada menterinya, Saifuddin Zuhri. Orang NU tulen ini mengaku sangat kaget.

“Seketika aku seperti mendengar suara petir,” tulis Saifuddin Zuhri.

Lalu Saifuddin bertanya: Mengapa HMI akan dibubarkan?”

Dalam catatannya, Saifuddin menggambar bahwa Bung karno “kelabakan” menjawab pertanyaan-pertanyaan retoris pembantunya ini. Saking terdesaknya, Bung Karno melontarkan statemen bernada emosional:

“Tetapi bagaimana pun HMI dan SBII bakal saya bubarkan. Kalau HMI bubar, NU kan untung, PMII makin besar!”

“Soalnya bukan masalah untung atau bukan untung. Sulit buat saya selagi masih menteri agama ada organisasi Islam yang dibubarkan tanpa alasan kuat,” jawab Saifuddin, yang kala itu, anaknya bernama Fahmi dan Farida adalah aktivis PMII.

Baca juga:  Perusakan Situs Budaya Adat Dayak

Saifuddin mengaku memberanikan diri mengatakan itu kepada presiden. “Qulil haqqa walau kaana murran…!” tulisnya. Tak hanya itu, Saifuddin Zuhri nekat menyatakan akan mengundurkan diri dari menteri agama jika presiden berkeras hati membubarkan HMI.

Bung Karno kaget bawahannya tidak mau menjalankan perintahnya. Dan akhirnya, Bung Karno mengalah. Dia tidak jadi membubarkan HMI, karena Saifuddin Zuhri berargumen lebih kuat bahwa HMI tidak boleh dibubarkan dengan semena-mena.

***

Dialog yang saya salin di atas sebagian kecil saja dari dialog-dialog panjang antara Bung Karno dan menterinya itu. Saifuddin Zuhri merekamnya hampir empat halaman, dalam memoarnya yang berjudul Berangkat dari Pesantren, terbit pertama tahun 1984.

Jelas sikap NU pada organisasi yang bersebrangan proporsional dan adil. “Adil sejak dalam pikiran,” pernyataan Pram ini sungguh tepat untuk menggambarkan jalan pikiran Kiai Saifuddin Zuhri ini.

Saat rezim berganti dari Soekarno ke Soeharto, NU yang Soekarnois ikut diamputasi. Tahun 1970an adalah awal-awal masa suram NU di era Orde Baru. Pemilu 1971, saat NU masih menjadi partai, tak ragu penguasa melakukan represi. Meskipun begitu, Partai NU masih mendapatkan 58 kursi, peringkat kedua di bawah Golkar pemerintah yang langsung melejit mendapat 236 kursi.

Baca tulisan penting tentang refresi Orde Baru:

  1. Inilah Pemilu Zaman Orba: Satu Kampung Dibakar hingga Pembunuhan Kiai
  2. Soeharto Menekan Tokoh NU dengan Seruan Jihad!
Baca juga:  Keindahan Salat Malam Ramadan

Pemilu tahun 1977, pemilu pertama dengan dua partai politik dan satu golongan, nasib NU makin terpuruk. Para politisi NU disingkirkan dari arena politik, disingkirkan dengan kasar, tidak dengan pelan-pelan. PPP, yang NU ada di dalamnya, lebih mirip Masyumi daripada rumah bersama. Di sini NU hanya dimanfaatkan suaranya saja, sementara perannya di-protoli.

“Hakikatnya Masyumi dan PPP itu sama. Jadi NU seperti terperosok dua kali di lubang yang sama,” kata seorang kiai.

Di saat kondisi NU begitu, dizalimi oleh Orde Baru, tidak ada pembelaan sebagaimana NU membela HMI saat era Soekarno. Yang terjadi justru sebaliknya, HMI menikmati kedekatan dengan rezim militer. HMI tampak sekali mewakili politik Masyumi yang pernah dibubarkan oleh Soekarno. Walhasil, HMI dan NU makin jauh, makin berbeda posisi.

NU tidak berkutik sama sekali di awal-awal Seoharto berkuasa. Nyaris tidak ada perlawanan, baik oleh NU, apalagi PMII. Satu-satunya orang yang berani melawan HMI secara terbuka adalah Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur. Selain Gus sebetulnya ada dua orang lagi yang getol melawan rezim dengan tulisan-tulisannya, yaitu Mahbub Djunaidi dan Saifuddin Zuhri.

Namun Gus Dur pun terlihat tampak bingung dan ragu melawan HMI. Di satu sisi, dia kasihan melihat PMII dan para alumninya yang hampir tidak dikasih ruang bergerak, jangankan menjadi rektor atau direktur di kementerian, alumni PMII mau jadi ketua KUA saja susahnya minta ampun. Di lain sisi, Gus Dur mulai akrab dengan aktivis HMI, Dawam Rahardjo dan Djohan Effendi misalnya, lebih-lebih dengan Nurcholis Madjid yang sama-sama Jombang (Cak Nur lebih senior satu-dua tahun dari Gus Dur).

Baca juga:  Umat Islam yang Sibuk Sendiri

Tidak hanya itu, beberapa aktivis NU tahun 80an adalah alumni HMI Ciputat yang terkenal, sebut saja M. Nasihin Hasan, Hilmy Ali, dan masih ada beberapa lagi. Tidak berhenti sampai di situ, mahasiswa-mahasiswa NU pada tahun 1990an, karena iming-iming beasiswa dan masa depan cerah, makin banyak masuk HMI, bahkan HMI masuk kampus-kampus pesantren, melalui inflitrasi Golkar dan PPP.

Dalam bentuk lain, ledekan Gus Dur untuk Nurcholis Madjid dalam sebuah tulisan bisa kita baca sebagai kebingungan Gus Dur menghadapi HMI. Susah menyerang HMI karena sedang menggurita saat itu, akhirnya Gus Dur memberanikan diri “menyerang” Cak Nur dengan pelan-pelan dan bernada humor.

“Cak Nur bisa kita ledek, karena tidak akan menyerang balik. Dia kan orangnya halus, tidak blak-blakan, dan teman lama sesama Jombang,” mungkin begitu pikir Gus Dur sebelum menulis artikel tentang Cak Nur yang dimuat di majalah Tempo (Juni 1982), dengan judul “Cak Nur: Tetap Tetapi Berubah”.

Apa isi ledekan Gus Dur kepada Cak Nur? (Bersambung)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
3
Senang
2
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top