Merti Dusun, Metode Orang Jawa Berwudu dari Dosa

Hamidulloh Ibda

Jika individu harus bersuci, dari najis kecil dan besar, maka sebuah dusun, kampung, desa, bahkan negara harusnya juga demikian. Sebab, banyak sekali kotoran-kotoran diproduksi, melekat dan selalu hadir di tiap elemen tersebut.

Orang Jawa, terutama yang beragama Islam, sejak dulu memiliki ribuan cara untuk bersuci, berwudu, dari hadas kecil maupun besar. Salah satunya melalui “Merti Dusun”, sebuah tradisi bersyukur pada Allah sekaligus wahana berwudu orang-orang desa.

Tiap orang memiliki dosa, sesuai kodrat manusia sebagai tempat salah dan lupa. Begitu pula dengan desa, kota, dan negara yang tak mungkin suci seratus persen.

Untuk itu, orang Jawa yang kental akan religiositas dan teknologi batin yang kuat, mereka memiliki banyak cara untuk bersuci yang berbeda dari bangsa lain. Selain nyadran, saya mencatat ada sedekah bumi, sedekah laut, termasuk di dalamnya adalah merti dusun, sebuah ritual orang Jawa untuk menyucikan desa.

Metode Bersuci dari Dosa
Secara epistemologi, Merti Dusun, Merti Desa, atau bisa disebut Merti Tani, berasal dari kata “merti” yang berarti “bersih-bersih” dan “dusun” yang berarti desa, atau sebuah tempat di daerah tertentu. Merti Dusun dimaknai sebagai bersih desa, atau biasa dirangkai dalam sedekah bumi sebagai wahana membersihkan desa dari dosa sekaligus ungkapan rasa syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan.

Dalam praktiknya, Merti Dusun dilakukan dengan ziarah kubur, selawatan, tahlilan, pengajian, sedekah, dan mengirim doa kepada pendiri desa, wali desa, ahli kubur, dan para sesepuh desa yang sudah berjuang memajukan desa. Selain itu, merti dusun memiliki keunikan hanya digelar di beberapa tempat, khususnya di Jawa Tengah dan di Jogjakarta.

Di Jawa Tengah, misalnya, merti dusun yang kental di daerah Magelang dan Temanggung. Sementara di daerah pesisir atau pantai utara hanya mengenal sedekah bumi atau sedekah laut yang secara subtansi sama. Salah satunya, membersihkan desa dan bersyukur atas nikmat dari Sang Pencipta.

Pelaksanaan Merti Dusun, biasanya digelar usai panen raya, baik panen padi, jagung, ketela, atau hasil bumi yang lain. Di Temanggung sendiri, merti dusun digelar di sejumlah kecamatan, seperti Kaloran, Gemawang, dan sekitarnya yang dimulai sejak Desember 2018 sampai Januari 2019 ini.

Baca Juga:  Mesir Pernah Bersinar, Jepang pun Datang Belajar

Di tengah globalisasi dan gempuran teknologi era Revolusi Industri 4.0 ini, tidak semua dusun menggelar Merti Dusun. Meski sebagian sudah lupa, bahkan tidak melestarikan dan mengenalnya sama sekali, namun masih banyak beberapa dusun yang melakukan Merti Dusun untuk menjaga keseimbangan alam.

Meninggalkan Merti Dusun, akan berdampak pada nasib kampung, dusun atau desa. Imantoko (2017) mencatat, Merti Dusun sudah dilakukan sejak Mataram Kuno, kemudian Mataram Islam, dan terus eksis hingga kini. Merti dusun bertujuan menghormati dan bersyukur kepada Tuhan atas kenikmatan yang diberi¬kan. Merit Dusun mengajak untuk hormat, bakti kepada guru, orang tua, dan leluhur. Dengan semesta, tradisi ini mengajarkan kita untuk menjaga alam sekitar untuk diselamatkan, agar memproduksi hal baik dan tradisi ini diwariskan kepada anak cucu.

Sebagian warga desa di kawasan Bantul, DIY, misalnya, sejak terjadinya peristiwa G30S/ PKI telah meninggalkan Merti Dusun. Namun, dampak bagi warga desa begitu besar, karena mereka kehilangan pegangan, lingkungan rusak, pertanian yang dulunya alami, mulai digempur bahan kimia, merusak tanah dan akh¬irnya gagal panen.

Dengan fakta ini, sudah jelas bahwa Merti Dusun tidak sekadar menjadi metode bersuci, berwudu dari dosa, namun juga melanggengkan kemesraan spiritual antara manusia, alam, dan Tuhan. Merti Dusun tidak sekadar soal tradisi, namun di dalamnya terkandung nilai-nilai religi yang tinggi, filosofis, dan erat akan jalan sufi.

Baca Juga:  Keragaman di Sepiring Santapan

Dalam Islam, kita diajarkan untuk berwudu sebelum salat, dan melakukan ibadah. Orang Jawa, sangat cerdas menangkap kaifiyah (cara) Islam itu dan memasukkannya ke dalam konteks fikih sosial dengan menggelar sejumlah tradisi sebagai metode bersuci.

Jika dalam wudu yang dibasuh adalah muka, tangan, kepala, kaki, dan lainnya, maka desa juga sama, membasuh semua dosa melalui ritual susi seperti merti dusun.

Mengislamkan Desa
Tiap desa, meskipun berada di kota santri atau bumi wali, pasti tidak semuanya beragama Islam. Lebih penting dari itu, mengislamkan desa bukan berarti memaksa semua penduduk desa beragama Islam, melainkan menghidupkan tradisi Islam yang berbasis budaya agar dapat diterima semua kalangan.

Baca Juga
Bertemunya Agama dengan Adat

Merti Dusun, selain menjadi metode bersuci, juga menjadi metode dakwah agar pesan, nilai, dan subtansi Islam dapat diimplementasikan semua warga desa tanpa pandang agama. Begitu indahnya Islam yang dapat menyatu dengan masyarakat tanpa harus memaksa, mengafirkan, atau mengolok-olok saudara di luar Islam.

Baca Juga:  Humor: Menyembuhkan Batin, Menanamkan Spiritualitas

Meski demikian, tiap desa yang pasti memiliki dosa dianjurkan untuk bersuci. Mengapa?

Sebab, peribahasa Arab “kebersihan adalah sebagian dari iman” merupakan implementasi dari hadis Kanjeng Nabi Muhammad berbunyi ”ath-thahuuru syatrul iimaan…” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi). Penjelasan As-Suyuthi, dalam kitab al-Jami’ Ash-Shaghir (II/57) itu, menjadi penguat bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian dari iman.

Jika iman ini diberlakukan di desa yang plural, majemuk, dan kompleks, tentu dengan cara menjaga tradisi merti dusun, bersih desa, sedekah desa, yang otomatis menjaga keimanan warga desa lewat kebersihan desa. Baik itu fisik, rohani, atau kebersihan warga desa dari moral yang negatif.

Jadi sudah jelas, mengislamkan desa kelas pertama dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan desa, karena menjaga kebersihan desa adalah wujud dari keimanan warga desa.

Jika desa sudah bersih, imannya terjaga lewat perilaku yang tidak sekadar doktrin, maka orang non-Islam pun akan mudah menerima Islam, mereka akan berbondong-bondong masuk Islam karena wajahnya ramah, bersih, dan tidak memaksa-maksa. Dus, sudah saatnya merti dusun menjadi metode berwudu, dan metode mengislamkan desa secara jangka panjang.

Dalam Islam, hanya ada dua posisi orang dalam konteks kebersihan, pertama suci, kedua najis, kotor atau kepet (tidak pernah bersuci). Jika tidak pernah melakukan Merti Dusun, bersih desa, apakah Anda mau desa Anda kepet? Dan dengan kemaslahatan begitu, apakah Anda masih mengatakan Merti Dusun adalah bid’ah?

Lihat Komentar (0)

Komentari