Ferry Fitrianto
Penulis Kolom

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakata Jurusan Sosiologi Agama. Hobi membaca dan menulis  

Filsuf-Sufi Suhrawardi

Suhrawardi adalah satu diantara ulama yang mulititalenta, bahkan dapat dikatakan ketenaranya bisa disejajarkan dengan Al-Ghazali, Al-Basri, Al-Jailani, Rumi, Al-Junaid dan Ibnu Arabi.

Suhrawardi memiliki nama lengkap Syihabuddin bin Habasy bin Amirak bin Abu Al-Futuh as-Suhrawardi. Nama Suhrawardi lebih popular dibanding nama aslinya. Hal ini sudah biasa dalam tradisi ulama klasik. Namanya tersebut dinisbatkan pada nama daerah tempat tinggalnya sebagaimana Al-Bukhari juga menisbatkan namanya dengan asal daerahnya.

Suhrawardi lahir di sebuah desa kecil sebelah barat laut Persia. Ia lahir pada tahun 1154 M. Shurawardi lahir dimana masa keemasan Islam mengalami kemunduran ilmu pengetehuan mulai redup setelah sebelumnya bersinar pada masa Dinasti Abbasiyah tepatnya pada masa Harun Ar-Rasyid.

Sebelum bicara lebih jauh mengenai kehidupan sufi sekaligus filsuf ini alangkah baiknya bila kita melihat track recordnya terlebih dulu. Suhrawardi menempuh pendidikan formalnya di kota Zanjan Irak atau Persia. Di kota Zanjan ini Suhrawardi mendalami ilmu keislaman sekaligus ia mendalami filsafat dan teologi pada Majd ad-Din al-Jili guru dari Fakhruddin Ar-Razi, setelah merasa puas belajar di Zanjan kemudaian ia berkelana ke Isfahan dan berguru pada Fakhruddin Mardini. Kemudian ia pindah ke kota Anatolia dan mengabdikan dirinya pada penguasa dinasti Seljuk, dan pada tahun 1183 akhirnya ia meninggalkan Anatolia dan menetap di Aleppo.

Baca juga:  Ulama Banjar (110): KH. M. Kurdi Baseri

Sewaktu tinggal di Aleppo Suhrawardi masih berusia 30 tahun dan bersahabat dekat dengan al-Malik azh-Zhahir putra Salahuddin al-Ayubi. Di kota Aleppo Suhrawardi menjadi guru, ia mengajar dan memiliki banyak prestasi cemerlang. Namun itu tak berselang lama. Pasalnya ia dicemburui oleh kelompok eksoterik (fuqaha).

Suhrawardi dituding telah menyimpang dari ajaran Islam. Tuduhan tak berdasar itu akhirnya membawa Suhrawardi menuju ajalnya. ia dieksekusi mati di uisa 38 tahun tepatnya pada tahun 1191 M. Kematianya yang tragis dan ironis ini menjadikan dia dijuluki gelar Al-Maqtul (yang terbunuh). Suhrawardi adalah salah satu ulama yang menjadi korban fitnah politik selain Ibnu Rusyd yang juga dibunuh karena fitnah dari kaum esoterik.

Suhrawardi merupakan ulama yang produktif menulis ia banyak menulis karya konon karyanya mencapai 50 buah meskipun tidak semua karyanya sampai ke tangan kita hari ini. Di antara karya tulisnya yaitu Hikmah Al-Isyraq, Al-Hayak an-Nur, Al-Waridat Al-Ilahiyat, At-Talwihat, Al-Muqawamat, Al-Ghurbat al-Gharibiyah, Al-Masy’air wa al-Mutharakat dan masih banyak lagi. Tema yang ditulis Suhrawardi meliputi bidang filsafat, tasawuf, dan teologi.

Semua kitab karya Suhrawardi ini berisi ajaran, uraian, dan simbol-simbol yang diramu menjadi karya orisinal dalam bahasa lain disebut mensinkretiskan dari berabagai ajaran menjadi satu pemahaman. Semua ajaran sufi, warisan filsafat Yunani disatukan dan membentuk khazanah baru yang tertuang dalam bukunya yang berjudul Isyraq.

Keluasan ilmu Suhrawardi melampaui zamannya. Menurut penyunting dan penerjemah karya-karya Suhrawardi yaitu Henry Cobin, ia mengatakan bahwa pemikiran Suhrawardi sangat luas dan mendalam. Misalnya konsep Suhrawardi tentang Iluminasi yang ternyata membuka jalan baru bagi pengalaman spiritual atau mistis dalam kajian ilmiah modern.

Baca juga:  Tuan Guru dan Perkembang Islam di Pulau Lombok

Mungkin pada masa itu karya Suhrawardi ini dianggap karya yang menyimpang penuh kontroversi yang ternyata sangat ilmiah bila dikaji hari ini. Suhrawardi merupakan seorang ulama dan filsuf yang multitalenta, bidang kajianya yaitu tasawuf falsafi sebagaimana Al-Ghazali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top