Sedang Membaca
Kisah 25 Nabi dan Rasul: Paradoks Cita-cita Hidup Manusia Modern
Penulis Kolom

Guru dan tinggal di Panjangrejo, Pundong, Bantul.

Kisah 25 Nabi dan Rasul: Paradoks Cita-cita Hidup Manusia Modern

Perjalanan Manusia Dari Zaman Kuno Hingga Modern

Semenjak kecil, kita sudah sering mendengar cerita para Nabi dan Rasul. Dari berbagai sumber. Dari guru-guru TPA, penceramah, guru-guru agama, atau bahkan dari obrolan sehari-hari dengan keluarga, teman, dan sahabat.

Karena ceritanya dikemas secara menarik, cerita para Nabi dan Rasul adalah salah satu tema cerita yang banyak diminati oleh banyak kalangan. Seorang santri TPA akan diam setelah ustadznya menceritakan kisah Nabi Nuh, padahal sebelumnya lari-larian ke sana ke mari. Seorang siswa madrasah akan khidmat ketika gurunya secara meyakinkan menceritakan kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis, padahal sebelumnya sedang sibuk berdiskusi dengan temannya tentang hal-hal di luar pelajaran. Seorang jama’ah pengajian akan tertegun ketika penceramah menceritakan kisah Nabi Yusuf, padahal sebelumnya sedang berbisik gosip.

Kita tahu, dari 25 Nabi dan Rasul itu, tidak satu pun yang cerita hidupnya sama. Setiap Nabi dan Rasul punya masalahnya masing-masing, punya area perjuangannya masing-masing dan punya kondisi hidupnya masing-masing. Kalau dipaksa dicari kesamaannya, adalah sama-sama mengabdi kepada Allah semaksimal mungkin.

Kendati cerita 25 Nabi dan Rasul sekarang sangat familiar, namun secara substantif sebenarnya sekarang tidak familiar. Dalam wacana modern, pluralisme itu adalah sesuatu yang biasa. Namun, pluralisme di sini lebih kepada SARA. Tujuan utama wacana pluralisme adalah toleransi terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan SARA. Namun, bersamaan dengan penerimaan manusia terhadap sesuatu yang bersifat SARA, cita-cita atau sesuatu yang ingin dicapai secara kasat mata malah cenderung sama. Tidak plural.

Baca juga:  Bersedih dengan Riang Gembira

Cita-cita manusia modern biasa disebut sukses, yang puncaknya adalah punya harta melimpah, kehormatan, dan kekuasaan. Jika kekuasaan tidak dimiliki, harta melimpah dan kehormatan dianggap cukup. Namun, jika kekuasaan dan kehormatan juga tidak bisa didapat, punya harta melimpah sudah cukup.

Sejak SD, kita sudah ditanyai, apa cita-citamu besok? Dan entah kenapa, bagi guru-guru yang bertanya, tidak semua cita-cita itu baik. Cita-cita baik adalah cita-cita yang punya potensi sukses sebagaimana yang sudah dijelaskan. Guru-guru akan memandang aneh jika ada seorang anak menjawab cita-citanya menjadi petani atau nelayan. Dan semakin merasa aneh jika ada yang tidak tahu cita-citanya apa.

Bisa dikatakan cerita 25 Nabi dan Rasul adalah paradoks dari cita-cita hidup manusia modern. Setiap subyek dalam 25 Nabi dan Rasul nasib hidupnya berbeda-beda. Dalam hal kepemilikan harta, ada Nabi dan Rasul yang sangat miskin, misalnya seperti Nabi Ya’kub; ada Nabi dan Rasul yang sangat kaya, misalnya seperti Nabi Sulaiman; ada juga Nabi dan Rasul yang biasa saja dalam harta, tidak kaya, juga tidak miskin. Dalam hal keberhasilan dakwah, ada yang bisa dikatakan tidak berhasil seperti Nabi Nuh, ada yang bisa dikatakan sangat berhasil seperti Nabi Muhammad saw.

Cerita 25 Nabi dan Rasul adalah sebuah referensi tentang cara menjalani nasib hidup yang berbeda-beda yang sudah digariskan oleh Allah. Bagi Nabi yang sangat miskin, tidak lantas beliau marah kepada Allah, malas berdakwah, atau malah putus asa. Bagi Nabi yang sangat kaya, tidak lantas membuat beliau sombong, dan menebarkan kerusakan-kerusakan. Bagi yang tidak berhasil dalam berdakwah, tidak membuat beliau keluar dari jalan Allah. Bagi yang sangat berhasil dalam berdakwah, tidak membuat beliau GR, dan merasa istimewa. Semuanya menjalani hidup secara biasa saja. Yang jelas, selalu menjaga hidup supaya berada di relnya Allah.

Baca juga:  Beberapa Humor Nabi Muhammad dengan Para Istrinya

Iya, karena bisa melalui itu semua, para utusan Allah itu bisa disebut sebagai Nabi dan Rasul. Bahkan sampai diceritakan di dalam al-Qur’an, dan digunakan sebagai bagian untuk memberikan pelajaran bagi yang mau membacanya. Namun, kendati beliau-beliau adalah Nabi dan Rasul, tidak lantas nasib hidupnya oleh Allah dibuat sebagaimana yang dielu-elukan oleh manusia modern? Berlimpah kekayaan dan memayungi kekuasaan.

Maka, sebenarnya aneh juga, jika di kehidupan modern, manusia serasa dituntut untuk mencapai sesuatu yang sama. Ya, memang tidak ada yang memaksa secara langsung. Tetapi, apa yang berjalan, mulai dari kehidupan sosial, budaya-budaya yang berkembang, referensi dari berbagai hal, itu semua seakan-akan memaksa, menekan, untuk mengiyakan bahwa manusia yang bernilai adalah manusia kaya raya, dihormati banyak orang, dan punya jabatan tinggi. Para Nabi dan Rasul, orang yang sudah jelas sangat dekat dengan Allah, tujuan hidupnya tidak muluk-muluk seperti itu. Lha sekarang, kita itu dekat dengan Allah saja belum tentu, lha kok keinginannya malah muluk-muluk?

Cerita Nabi dan Rasul mengajarkan sesuatu yang sederhana. Berusaha keras menjalani hidup yang sudah digariskan Allah semaksimal mungkin. Sebagaimana petani, hanya bisa merawat tanaman sebisanya dan semaksimal mungkin. Perkara tanamannya berbuah dan panen bagus atau tidak, itu urusan Allah. Bukan begitu?

Baca juga:  Menertawakan Diri Sendiri
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top