Sedang Membaca
“Menu Sawah” ala Desa Cingkrong

Penulis lepas, pegiat literasi, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan berminat pada kajian kuliner tradisional Nusantara. Telah menulis 60+ buku multitema. Artikelnya dimuat di berbagai koran, antara lain: Jawa Pos, Koran Jakarta, Sindo, Suara Merdeka, Solopos, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, Duta Masyarakat, dan lainnya. Tinggal di Grobogan, Jawa Tengah.

“Menu Sawah” ala Desa Cingkrong

Menu Sawah

Desa Cingkrong merupakan desa di pinggiran Kota Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Namun, data dari sidajateng.id menyebutkan, Desa Cingkrong termasuk kawasan dataran rendah yang rawan banjir saat musim hujan, namun agak kering di musim hujan.

Terdapat embung alami dan saluran sebagai penguat potensi lahan pertanian. Pemerintah Desa setempat sudah memanfaatkan embung alami yang merupakan tampungan air banjir, namun tetap bertahan meskipun kemarau.

Embung alami ini merupakan aset milik Pemerintah Desa. Lokasinya berada di belakang balai desa. Saat ini, embung telah dikembangkan menjadi wahana wisata keluarga dengan nama De Bale Cingkrong.

De Bale Cingkrong diresmikan oleh Bupati Grobogan Hj. Sri Sumarni pada 4 April 2019 sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Grobogan. Kehadirannya cukup diminati. Daya tarik unggulannya antara lain: wisata kuliner (resto), outbound, kolam ciblon, dan spot foto. Objek wisata ini dikelola oleh BUMDes dan mempekerjakan sekitar 40 orang warga desa.

Mengangkat Menu Sawah

Salah satu yang menarik dari resto di De Bale Cingkrong adalah adanya menu yang disebut sebagai “menu sawah”. Apa itu menu sawah? Menu sawah adalah hidangan yang terinspirasi dari menu-menu yang tempo dulu biasa disajikan oleh warga Desa Cingkrong pada momen-momen tertentu saat para petani atau pekerja menggarap sawah.

Kepala Desa Cingkrong, Jasmi, saat berbincang dengan penulis menyatakan, saat ini generasi muda cenderung (hanya) mengenal makanan-makanan jenis junk food dan fast food. Realitas itu yang kemudian menjadi latar belakang pihaknya menginisiasi mengangkat menu sawah sebagai menu resto di objek wisata De Bale Cingkrong yang digagasnya.

Baca juga:  Cerita dalam Perjalanan Menuju Pulang

Jadi tujuan mengangkat menu sawah, masih menurut Jasmi, (antara lain) untuk memperkenalkan aneka kuliner khas tempo dulu di kampung yang kini dipimpinnya—yang dulu biasa disajikan untuk para petani dan pekerja sawah.

Sebagai desa wisata berbasis potensi lokal, De Bale Cingkrong memang mengusung tagline: “Fun and Education”. Artinya De Bale Cingkrong tidak hanya sekedar sebagai wahana rekreasi (keluarga), namun juga mengusung misi edukasi. Di antaranya ada edukasi lalu lintas, permainan tradisional jadul, edukasi alat-alat pertanian, dan sebagainya.

Khusus untuk kuliner, De Bale Cingkrong secara khusus memperkenalkan menu sawah sebagai menu unggulan restonya. Ada empat menu sawah yang diperkenalkan oleh resto De Bale Cingkrong, yaitu Menu Ndaut, Menu Tandur, Menu Matun, dan Menu Panen.

Potret Menu Sawah

Keempat menu itu merujuk kepada istilah-istilah umum dalam pengolahan sawah di kalangan petani di Jawa. Pertama; Ndaut. Ndaut adalah istilah untuk menyebut aktivitas mencabut bibit padi dari tempat persemaian. Ndaut biasanya dilakukan setelah lahan siap ditanami padi dan umur bibit sudah siap tanam.

Hasil dautan bisa langsung dibawa ke sawah—tempat bibit padi akan ditanam. Atau bisa juga dibawa ke rumah terlebih dahulu, untuk diangin-anginkan antara satu hingga tiga hari, agar tumbuh akar baru. Sehingga ketika ditanam, bibit padi dapat tumbuh dengan baik.

Di Desa Cingkrong, menu yang biasa dihidangkan saat Ndaut adalah nasi putih dengan soun nyémék, tahu, tempe, telur, serundeng asin, dan rempeyek. Menu inilah yang kemudian diadaptasi sebagai “Menu Ndaut” di resto De Bale Cingkrong.

Baca juga:  Sepenggal Kisah Kopi di Khan Khalili: Maqha, Bak Istri Kedua

Kedua; Tandur. Setelah bibit padi diambil dari persemaian dan telah diangin-anginkan, aktivitas petani selanjutnya adalah Tandur alias menanam padi. Inilah tahap yang memiliki makna filosofis dari akronim kata Tandur yang berarti: nata karo mundur. Menanam dengan cara mundur.

Tradisi petani memang menanam padi secara mundur. Karena kalau secara maju, bibit padi yang sudah ditanam akan terinjak-injak dan rusak. Makna filosofis dari cara ini sering dimaknai sebagai “mundur untuk maju”. Artinya, dalam melakoni kehidupan, tidak melulu harus melangkah maju, namun kadang harus memilih mundur (mengalah) untuk memperoleh hasil yang diinginkan.

Di Desa Cingkrong, menu yang biasa dihidangkan saat Tandur adalah nasi putih, oseng daun kates (pepaya), tempe goreng, sambal, ikan asin, dan rempeyek. Menu inilah yang kemudian diadaptasi sebagai “Menu Tandur” di resto De Bale Cingkrong.

Ketiga; Matun. Setelah Tandur, kemudian Matun, yaitu aktivitas menyiangi rumput beberapa minggu setelah padi ditanam. Tujuannya agar rumput tidak mengambil nutrisi tanaman padi. Sehingga selanjutnya padi bisa tumbuh dengan baik.

Di Desa Cingkrong, menu yang biasa dihidangkan saat Matun adalah nasi putih, urap sayuran (gudangan), oseng geréh lombok ijo, sambal, lalapan, dan tahu. Menu inilah yang kemudian diadaptasi sebagai “Menu Matun” di resto De Bale Cingkrong.

Keempat; Panen. Panen adalah “hari raya”-nya petani. Karena saat inilah mereka memanen apa yang telah mereka tanam dan rawat dengan baik. Dalam khazanah masyarakat desa di Jawa tempo dulu, dalam panen ini ada istilah Derep, yaitu memanen padi dengan menggunakan alat yang bernama ani-ani.

Baca juga:  Taiwan pun Hormati Muslim dengan Kuliner Halal

Ani-ani sendiri adalah alat dari sekeping kayu dan bambu kecil dengan sebilah logam di pinggir kayu yang berfungsi sebagai pisau. Pisau inilah yang digunakan untuk memotong bulir padi dari batangnya.

Dikenal juga istilah Ngedos, yaitu proses panen padi dengan cara memotong batang padi menggunakan sabit, lalu dirontokan dengan peralatan tradisional penuh paku yang diputar dengan tenaga kayuh seperti sepeda atau menggunakan tenaga mesin (disel).

Saat ini proses memotong padi dan merontokkan bulir padinya bisa menggunakan mesin traktor modern, sehingga jauh lebih efektif.

Di Desa Cingkrong, menu yang biasa dihidangkan saat Panen adalah menu yang relatif istimewa, yaitu Becek—hidangan berkuah, berbahan daging sapi, dan bercita rasa asam, gurih, dan segar. Taste asamnya diperoleh dari daun kedondong atau daun dayakan. Becek ini adalah memang kuliner khas Grobogan yang lazim disajikan dalam pelbagai pesta hajatan warga, seperti saat pesta pernikahan (walimatul ‘ursy), pesta khitanan (sunatan), serta acara istimewa lainnya.

Menu Sawah Sebagai Local Genius

Menu sawah adalah local genius (kearifan lokal) yang dimiliki Desa Cingkrong dalam bidang kuliner. Menu ini menjadi cerminan kondisi sosial masyarakat Desa Cingkrong yang hidup dalam kesederhanaan khas desa. Juga bentuk gaya hidup sosial budaya pada zamannya.

Di tengah serbuan kuliner modern, mengangkat (kembali) “hidangan ndeso” seperti menu sawah merupakan langkah genial untuk meneguhkan identitas budaya desa yang sarat kearifan dan nilai-nilai adiluhung. Meski tampak sederhana, menu-menu sawah ala Desa Cingkrong adalah potret budaya kuliner khas desa yang layak untuk diuri-uri (dilestarikan).

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top