Sedang Membaca
Tafsir Surah Yasin bi Lughah Malayuwiyah Karya Syekh Ali Rawa
Arivaie Rahman
Penulis Kolom

Arivaie Rahman, M.A. Akademisi dan peneliti tafsir nusantara, lulusan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Meminati studi Alquran, tafsir, hermeneutika, pemikiran Islam klasik dan kontemporer.

Tafsir Surah Yasin bi Lughah Malayuwiyah Karya Syekh Ali Rawa

20200813 161904

Sesuai dengan judulnya, kitab ini merupakan sebuah literatur tafsir yang ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Jawi. Tafsir ini menginterpretasikan surah Yasin atau surah ke-36 dari Al-Qur’an secara runtut mulai dari ayat 1 hingga terakhir  ayat ke- 83.

Tafsir Surah Yasin ini ditulis oleh al-Ustadz al-Syekh Muhammad Ali Rawa bin al-Marhum al-Syekh Abdullah Rawa al-Hijazi al-Makki. Melalui nama dan nisbah tersebut dapat diperoleh informasi tentang asal usul beliau, yakni merujuk kepada daerah Rawa atau Rao di Sumatera Barat. Sedangkan nisbah al-Hijazi dan al-Makki merujuk pada dua kota suci: Mekah dan Madinah. Sebab, beliau merupakan pemandu dan penyedia pelayanan ibadah haji bagi Muslim Nusantara awal abad ke-20.

Dugaan di atas dikuatkan oleh endorsment yang terdapat di akhir tafsir Surah Yasin ini, Syekh  Ali Rawa menulis:

دفرمعلومكن كفد سكلين احوان المسلمين المسلماة بهوا الحقير يڠ مۑوسون اين كتاب ادا برجواتن منجادي شيخ جماعه حاج بمكه المكرمه مك برڠسياف سودي هندق برشيخ دمكه دڠنڽ مك إينله سوأان دجده سفرت يڠ دباوه اين.

 (شيخ محمد علي راوا كمفوڠ شاميه مكه).

 

تنتاڠن ڤنجڬأن دان ڤليهارأن برسره كيت برسام٢ كفد الله سبحانه وتعالى مده مداهن ڤواس هاتي دان مدهمداهن اكو بركفنجاڠن دان جكلو هندق برخصوص دڠنڽ تنتاڠن حال اتوران دمكه بوله برهوبوڠ دڠنڽ دڠن علامة يڠ دباوه اين بواة سمنتارا اينله علامتڽ دملاك.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

 شيخ محمد علي راوا باتو ٢ كمفوڠ ڤادڠ سمابوق ملاك.

Dipermaklumkan kepada sekalian ikhwan al-muslimin wa al-muslimat bahwa al-haqir yang menyusun ini kitab ada berjawatan menjadi Syekh Jamaah haji di Mekah al-Mukarramah maka barangsiapa sudi hendak ber-Syekh di Mekah dengannya maka inilah sewaan di Jeddah seperti yang di bawah ini.

(Syekh Muhammad Ali Rawa Kampung Syamiah Mekah)”.

Baca juga:  Ketika Bilal Dikritik Saat Adzan

Tentangan penjagaan dan peliharaan berserah kita bersama-sama kepada Allah subhanahu wa ta’ala mudah-mudahan kuasa hati dan mudah-mudahan aku berkepanjangan dan jikalau hendak berkhusus dengannya tentangan hal aturan di Mekah boleh berhubung dengannya alamat yang di bawah ini buat sementara inilah alamatnya di Malaka.

Syekh Muhammad Ali Rawa Batu 2 Kampung Padang Semabuk Malaka”.

Melalui kutipan di atas, menunjukkan bahwa Syekh Ali Rawa tampaknya merupakan perantau Minang (Sumatera Barat) yang telah lama menetap di Malaka, dan memiliki jasa tour and travel ke Tanah Suci di awal abad ke- 20.

Tafsir Surah Yasin yang dikarang oleh Syekh Ali Rawa ini dicetak oleh penerbit Dzi Mali Press, Kuala Pilah, Negeri Sembilan Malaysia. Tafsir ini terdiri atas 21 halaman, termasuk halaman sampul. Di halaman sampul tertera tahun penerbitan, 1367 H bersamaan dengan 1948 M.

Penafsiran Syekh Ali Rawa dalam tafsir ini dapat digolongkan menggunakan metode tafsir Ijmali (penafsiran global), sebab interpretasinya sangat singkat, dan padat. hanya fokus pada satu surah al-Qur’an yakni Surah Yasin. Tafsir ini juga dapat digolongkan menggunakan metode tafsir Maudhu’i (tematik), lebih tepatnya mengkhususkan penafsiran pada Surah Yasin saja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tafsirnya tergolong menggunakan metode Tematik-Ijmali.

Secara teknis, tafsir ini diawali dari menuliskan basmalah tanpa menafsirkannya, kemudian Syekh Ali Rawa menambahkan kalimat “wabihi nasta’in” (dengan-Nya kami memohon pertolongan). Setelah itu baru menafsirakan ayat-ayat dari surah Yasin dengan cara memenggalnya per-kata, bukan per-ayat, kecuali ayat pertama. Penggalan per-kata atau per-kalimah tersebut dibatasi oleh dua tanda kurung. Sementara, tanda berakhirnya ayat ditutup dengan tanda bintang segi enam (*), kemudian paragraf baru, sama sekali tidak terdapat penomoran ayat.

Baca juga:  20 Tahun Pembantaian Guru Ngaji di Banyuwangi (2/2)

Syekh Ali Rawa mengawali penafsiran terhadap ayat pertama (Yasin) dengan menuliskan “Allahu a’lamu bimuradih”. Meskipun diawali begitu, namun Ali Rawa tetap menafsirkannya lebih lanjut. Ia mengutip pendapat Ibn Abbas, yang senada dengan pendapat Muqatil dan Al-Dhahak. Ia juga mengutip pendapat Muhammad ibn Hanafiyah, pendapat Mu’amar dari Qatadah, dan pendapat Syahr ibn Hawasyib. Ia tidak menetapkan pilihan, lagi-lagi ia menuliskan “Wallahu a’lam”.

Dalam tafsir ini kerap sekali mengutip pendapat ulama tanpa menyebutkan nama tokohnya, contohnya ia menyebut: “dan kata satu qaul lagi” (halaman 3) atau “dan berkata satu qaul lagi” (halaman 3), dan pernah pula “menurut keterangan ahli tafsir” (halaman 19). Tentu saja salah satu tujuan penulisnya adalah untuk meringkas nama sekaligus pendapat tokoh, namun boleh jadi pula karena si penulis tafsir lupa tentang nama tokoh yang dikutipnya tersebut.

Tafsir Surah Yasin karya Syekh Ali Rawa sangat tertarik menguraikan kisah Al-Qur’an, misalnya berkaitan Allah telah mengkaburkan padangan Abu Jahal seolah-olah ada dinding ketika hendak menimpa kepal Nabi. Ada pula kisah “Ashab al-Qaryah” yang didatangi dua orang utusan bernama Yukha dan Bulis, keduanya murid Nabi Isa dari kalangan Hawariyun. Syekh Ali Rawa juga menukilkan kisah Ubay bin Khalaf yang datang kepada Nabi sambil meremuk-remuk tulang untuk membuktikan bahwa orang yang telah mati dan hancur tidak akan dapat diciptakan kembali. Semua kisah-kisah ini memang memiliki relevansi dengan ayat-ayat dalam surah Yasin.

Baca juga:  Ulama-Ulama Besar yang Belum Pernah Berhaji

Syekh Ali Rawa tidak membedakan terjemahan dari kata “ja’ala” dan “khalaqa”. Pada ayat ke-80  ia menerjemahkan “ja’ala” (menjadikan ia) penerjemahan serupa terjadi pada ayat ke-81 kata “khalaqa” (menjadikan ia). Kejadian serupa kembali terulang untuk kata “khalaqa dan “ja’ala” yang telah disisipi dhamir, misalnya pada ayat ke-9 (halaman 3)“waja’alna” (dan telah kami pihak Allah subhanahu wa ta’ala jadikan), kemudian pada ayat ke- 42 (halaman 11) “wakhalaqna” (dan kami pihak Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan). Peneerjemahannya tetap tidak berubah, maka dengan demikian, tampaknya menurut Ali Rawa tidak ada perbedaan prinsipil antara kedua kata tersebut.

Syekh Ali Rawa menutup uraian penafsirannya dengan penutup sebagai berikut:

وبعد دهارف كفد سكلين اخوانناالمسلمين يڠ ادا مطالعه اين كتاب يڠ كچيل جكالو سسكيراڽ ادا خلاف اتو كسلاهن تولڠ بتولكن دان معافكن معلومله مأنسي اين تيدق سوچي درفد خلاف دان كسلاهن وما سومي الإنسان الا لنفسه. والله اعلم بالصواب واليه المرجع والماءب.

(وفوق كل ذي علم عليم).

Waba’du diharap kepada sekalian ikhwanuna al-muslimin yang ada muthala’ah ini kitab yang kecil jikalau sesekiranya ada khilaf atau kesalahan tolong betulkan dan maafkan maklumlah manusia ini tidak suci daripada khilaf dan kesalahan wama summiyal insan illa linafsih. Wallahu a’lam bi al-shawab wa ilaihi al-marji wa al-ma’ab. (Wa fauqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim).

 

 

 

 

 

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top