Sedang Membaca
Romo B. Herry Priyono, Jembatan Filsafat dan Ilmu Sosial
Penulis Kolom

Peneliti di LIPI. Gelar sarjana didapat di UGM, Jurusan Sejarah. Masternya di bidang filsafat, STF Driyarkara, Jakarta.

Romo B. Herry Priyono, Jembatan Filsafat dan Ilmu Sosial

Img 20200629 Wa0012

Ketika pertama kali masuk program pascasarjana STF Driyarkara pada tahun 2010, saya mengalami sedikit perasaan gentar. Bagaimana tidak, latar belakang pendidikan S-1 saya adalah sejarah, lalu bekerja sebagai peneliti sosial di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Saya agak ragu, apakah latar belakang tersebut bisa menyambung dengan filsafat yang pastinya menjadi inti pengajaran di program pascasarjana STF Driyarkara.

Namun segera setelah mendengar Romo B. Herry Priyono berbicara di depan kelas, perasaan gentar saya segera terkelupas. Dengan sangat meyakinkan dia menggambarkan peta hubungan antara filsafat dan ilmu-ilmu lainnya. Alih-alih saling menegasikan, hubungan di antaranya justru saling menguatkan. Mereka yang mempunyai kemampuan disiplin keilmuan khusus tertentu, kata Romo Herry, justru mungkin akan lebih mempunyai keluasan wawasan dibanding mereka yang hanya belajar filsafat. Kata-kata seperti ini membuat saya senang.

Perasaan gentar saya tidak hanya terkelupas, tetapi lalu bahkan tergantikan oleh semacam perasaan senang. Bukan senang yang biasa, tetapi senang karena apa yang saya gelisahkan sebelumnya mengenai kurang reflektifnya ilmu-ilmu sosial pada satu sisi dan kurang bernuansanya tulisan-tulisan filsafat pada sisi yang lain menemukan jawabannya di kelas yang diampu oleh Romo Herry. Sejak kelas pengantar studi filsafat di program matrikulasi hingga kelas globalisasi, saya sungguh menikmati bagaimana temuan-temuan empiris ilmu sosial—yang menjadi makanan sehari-hari saya di tempat kerja—bisa dikunyah dengan cara yang menarik.

Baca juga:  Gus Sholah Kembali ke Pesantren

Kemampuan Romo Herry menjembatani filsafat dan ilmu-ilmu sosial tentu saja tidak mengherankan kalau melihat latar belakang dia sendiri. Sebagaimana imam Jesuit lainnya, dia menyelesaikan pendidikan dasar filsafat dan teologi. Namun memasuki jenjang pascasarjana, dia mengambil studi sosiologi dan ekonomi-politik. Dari sini kita bisa mengerti batas-batas cakrawala keilmuan Romo Herry yang, bahkan di lingkungan Jesuit sendiri, saya kira sangat istimewa.

Namun lebih dari itu, spirit “tegangan” yang selalu diulang-ulang oleh Romo Herry membuat saya terkesan. Spirit ini pula yang terus membayangi saya dalam menulis tesis S-2 mengenai Seyla Benhabib. Saat itu saya masih ingat sekali Romo Herry menawarkan diri jadi pembimbing. “Ya kalau kamu mau fokus pada teori-teori sosial, bisa dengan saya”, katanya dengan senyum khasnya itu. Dan benar, selama hampir dua tahun menulis tesis, penekanan Romo Herry pada “tegangan” membuat saya terus waspada agar tidak mudah terjatuh pada semacam favoritisme intelektual yang tidak perlu. “Para pemikir itu manusia biasa seperti kita, tidak perlu disembah-sembah seperti dupa”, tegas Romo Herry pada suatu ketika.

Kembali ke soal filsafat dan ilmu-ilmu sosial, perjumpaan saya dengan Romo Herry kembali terjadi di program S3. Selang satu bulan setelah lulus S2 pada pertengahan 2015, saya langsung ikut program S3 di STF Driyarkara. Di sebuah kelas yang saya sudah lupa namanya, Romo Herry mengajarkan Max Weber. Kebetulan saya mendapat tugas untuk meninjau buku The Methodology of Social Sciences. Karya Weber ini sungguh luar biasa. Saya membacanya hampir kata per kata. Berbagai konsep yang biasa diperbincangkan di kalangan ilmuwan sosial, seperti objektifitas, dikuliti lapisan-lapisan filosofisnya. Dalam hal ini Romo Herry menunjukkan betapa dekatnya filsafat dan ilmu-ilmu sosial, bahkan bisa dikatakan keduanya tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan.

Baca juga:  Ulama Banjar (156): KH. Mugeni Hasar

Di luar kelas, Romo Herry beberapa kali mengontak saya meminta bantuan mencari sejumlah literatur ilmu sosial. “Coba cari di perpustakaan LIPI, buku ini ada tidak?”, demikian biasa dia mengirim pesan. Kadang ada, tetapi lebih sering tidak tersedia. Sewaktu magnum opus-nya, Korupsi: Melacak Arti, Menyimak Implikasi, terbit, saya mengucapkan selamat lewat whatsapp. “Kalau ada waktu, tolong kasih kritik dan masukan ya?”, jawabnya—sesuatu yang belum saya lakukan sampai sekarang.

Oleh karena itu, kepergian Romo Herry yang sangat mendadak cukup pasti meninggalkan lubang besar. Tidak hanya di STF Driyarkara, tetapi juga di lingkungan akademis umumnya di Indonesia, orang dengan kemampuan seperti Romo Herry yang mampu menjembatani filsafat dan ilmu-ilmu sosial sangat langka, kalau tidak mau dibilang belum ada penggantinya. Ini adalah lubang besar yang mesti ditutupi segera.

Terakhir, sekadar usul, terutama bagi STF Driyarkara, posisi yang ditinggalkan oleh Romo Herry mau tidak mau harus dicari penggantinya. Posisi yang saya maksud bukan sekadar kepala program studi yang diemban oleh Romo Herry selama ini, tetapi posisi yang mempu menjembatani filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Terlebih di program pascasarjana yang sebagian (besar) mahasiswanya berlatar belakang ilmu-ilmu sosial. Terus terang, setidaknya berdasarkan pengalaman saya, mereka kesulitan masuk langsung ke teks-teks filsafat tanpa jembatan ilmu-ilmu sosial. Namun di atas itu semua, teks-teks filsafat itu sendiri memang membutuhkan ilmu-ilmu sosial ketika ditanya soal relevansinya, kegunaan praktisnya, khususnya bagi kita di sini saat ini.

Baca juga:  Zarifa Ghafari, Wali Kota Perempuan Pertama Afghanistan dan Perjuangan Melawan Patriarki
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top