Sedang Membaca
Mengaji Al-Ghazali atau Refleksi Ulil Abshar Abdalla Sendiri?
Amin Mudzakkir
Penulis Kolom

Peneliti di LIPI. Gelar sarjana didapat di UGM, Jurusan Sejarah. Masternya di bidang filsafat, STF Driyarkara, Jakarta.

Mengaji Al-Ghazali atau Refleksi Ulil Abshar Abdalla Sendiri?

Ketika mengikuti ngaji online kitab Al-Munqidz min Al-Dhalal selama bulan Ramadan kemarin, sejujurnya saya membatin: bagaimana Ulil Abshar-Abdalla (selanjutnya ditulis Ulil) bisa menyajikan karya Al-Ghazali tersebut sedemikian bagusnya? Betul memang dia cerdas, wawasan keilmuannya mendalam, artikulasi bicaranya terjaga, tetapi apakah hanya karena itu? Saya ragu. Soalnya selain Ulil ada juga kyai dan intelektual Islam lainnya yang pintar. Dari sini saya kemudian merenung-renung, ada apa di balik ini?

Akhirnya, justru setelah ngaji Al-Munqidz berakhir, saya agak menemukan jawabannya. Sekurang-kurangnya dugaan. Lebih dari sekadar kecerdasan, ketika ngaji Al-Munqidz Ulil sesungguhnya bukan hanya sedang menyajikan teks autobiografis yang ditulis oleh Al-Ghazali, melainkan juga sedang merefleksikan perjalanan hidupnya sendiri. Terlihat sekali dia sangat menjiwai.

Semacam Temuan atau dugaan ini akan didapatkan oleh mereka yang mengikuti karir intelektual dan politik Ulil sejak awal. Seperti Al-Ghazali, dia memang seorang peziarah yang berpindah-pindah. Dia tidak menetap hanya pada satu tempat. Seorang sahabatnya, Abdul Moqsith Ghazali, tidak mengira Ulil akan berlabuh di tasawuf.

Kehidupan intelektual Ulil penuh dinamika. Selepas belajar di pondok pesantren tradisional seperti lazimnya anak NU, dia sempat kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) milik pemerintah Saudi. Pada periode itu dia mengaku pernah menjadi pengagum Sayyid Qutb, “Qutbiisme”, yang sangat keras. Kita tahu Qutb adalah salah seorang ideolog Ikhwanul Muslimin yang paling berpengaruh menyebarkan gagasan Islam politik ke seluruh dunia. Namun setelah berkenalan dengan pemikiran Gus Dur dan Cak Nur, Ulil melompat ke sisi sebaliknya. Bersama sejumlah rekannya dia mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang jelas sekali merupakan anti-tesis dari gagasan Islam politik ala Qutb.

Baca juga:  Warung Kecil Juga Penting

Ulil sendiri menuliskan dalam sebuah postingannya di Facebook bahwa sehabis menghayati “Qutbiisme”, dia sempat terpelanting secara kontras ke “saintisme”. Dia tidak menjelaskan kapan itu terjadi, tetapi saya pikir itu merujuk pada periode JIL. Tentu saja JIL sendiri tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai eksponen saintisme yang dalam sejarah pemikiran telah mempunyai arti yang cukup definitif. Lebih dari sekadar penggunaan metode ilmiah untuk memperoleh pengetahuan, saintisme menganggap bahwa sains yang bersumber dari ilmu alam adalah satu-satunya metode untuk memperoleh pengetahuan. Mungkin istilah yang lebih tepat bagi saintisme ini adalah “positivisme logis” yang sangat berjaya pada awal abad ke-20.

Namun, menurut saya, yang juga menarik dari sosok Ulil adalah peziarahan pertemanannya. Ketika berkiprah di JIL yang berkantor di Komunitas Utan Kayu, saya lihat teman-temannya Ulil bukan hanya orang NU. Sebagian besar mereka malah lebih dekat ke lingkaran Goenawan Mohamad dan kemudian Rizal Mallarangeng. Belakangan Rizal mendirikan Freedom Institute di mana Ulil bergabung di dalamnya. Jarang sekali anak muda NU saat itu yang dekat dengan kelompok mereka.

Keterlibatan Ulil dalam periode JIL dan Freedom Institute kurang disukai karena pemahaman mengenai liberalisme itu sendiri. Bagi sebagian orang, liberalisme berarti kebebasan tanpa batas. Dalam konteks agama, itu sering diartikan boleh melanggar syariah asalkan masuk akal dan tidak mengganggu orang lain. Anggapan seperti ini tentu saja sulit diterima di tengah masyarakat religius seperti di Indonesia.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Selain itu, di kalangan progresif, liberalisme dinilai problematik. Mereka yang belajar filsafat dan ilmu-ilmu sosial paham bahwa istilah itu tidak hanya merujuk pada gagasan kebebasan politik, tetapi juga kebebasan ekonomi. Pengertian terakhir ini, yang sejak tahun 1980-an mengemuka dalam bentuk neoliberalisme, mempunyai implikasi luas. Di banyak tempat, apalagi di bekas negeri jajahan seperti Indonesia, neoliberalisme berarti eksploitasi kelas pemodal terhadap kelas pekerja—rakyat pada umumnya.

Baca juga:  Tentang "Kerata Basa": setelah "Pasa" lalu "Bada" dan "Kupatan"

Berdasarkan cara memahami liberalisme seperti itulah sebagian anak muda NU sendiri pada dasarnya kurang suka dengan kiprah Ulil di JIL dan Freedom Institute. Namun ketidaksukaan ini lebih berupa gerundelan daripada pedebatan. Saya belum menemukan tulisan yang secara terbuka mengkritik posisi Ulil mengenai soal ini.

Akan tetapi, pada saat yang sama Ulil juga tetap aktif di NU. Dia pernah memimpin jurnal Tashwirul Afkar yang diterbitkan oleh Lakpesdam PBNU. Jurnal ini merekam dengan sangat baik dinamika intelektual di tubuh NU terutama mulai akhir 1990-an hingga akhir 2000-an. Melalui jurnal ini Ulil tetap merawat jangkar kulturalnya, selain kenyataan bahwa dia adalah anak seorang kyai alim dan mantu dari Gus Mus—salah seorang ulama yang paling dihormati di lingkungan Nahdliyyin.

Lalu Ulil sekolah ke Amerika Serikat di Boston dan Harvard. Bagi seorang santri, ini adalah sebuah loncatan besar. Belajar bahasa Inggris saja sudah merupakan perjuangan. Sayangnya Ulil memutuskan tidak melanjutkan studinya doktoralnya di Harvard, kampus yang sangat prestisius, dengan alasan yang saya belum paham.

Sepulang dari Amerika Serikat, Ulil maju ke ajang pencalonan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke-32 di Makassar. Meski gagal, Ulil ternyata mendapatkan sejumlah dukungan dari beberapa cabang. Ini kejutan karena sebelumnya dia diramalkan tidak akan memperoleh suara sama sekali mengingat kiprahnya selama periode saintisme liberal.

Baca juga:  Kata Tahun Ini

Setelah gagal di ajang “politik” NU, Ulil membuat kejutan lagi dengan bergabung ke Partai Demokrat bentukan Susilo Bambang Yudhoyono yang sedang berkuasa. Sepanjang 2010-2015 dia tercatat sebagai salah satu ketua departemen dalam kepengurusan pusat. Ini adalah periode Ulil sebagai seorang politisi, pernyataan-pernyataannya pun sangat politis dan sering tendensius. Terus terang saja saya sendiri tidak sreg.

Namun dunia politik praktis yang berkubang di sekitar kekuasaan tampaknya tidak cocok, juga tidak memberi keuntungan bagi Ulil. Dia kemudian mengundurkan diri. Saya cukup yakin saat itu dia memikirkan ulang perjalanan hidupnya sepanjang periode politik itu. Tidak hanya memikirkan ulang, tetapi juga gamang, mirip kegamangan Al-Ghazali ketika hendak memutuskan apakah tetap bekerja sebagai penasehat kekhalifahan Abbasyiyah atau mengasingkan diri, uzlah, dari hiruk pikuk duniawi. Saya kira dari pengalaman inilah penjiwaan Ulil terhadap Al-Munqidz berasal.

Sempat agak menghilang dari perbincangan, akhirnya pada 2017 Ulil hadir kembali ke tengah umat dengan sebuah gebrakan: ngaji kitab kuning mulai dari Hikam hingga Ihya Ulumuddin secara online. Iip Dzulkifli Yahya telah menulis di alif.id mengenai fase-fase ngaji online Ulil ini dengan bagus. Rupanya Ulil telah memutuskan. Seperti Al-Ghazali, dia memilih tasawuf sebagai jalan menuju kebenaran setelah melewati jalan-jalan lainnya yang berbelokan tajam.

Oleh karena itu, terutama ketika membaca dan memaknai Al-Munqidz di bulan Ramadan kemarin, saya merasa tidak hanya sedang mendengarkan pengalaman Al-Ghazali, tetapi juga refleksi diri Ulil Abshar-Abdalla—Al-Ghazali-nya Indonesia awal abad ke-21.

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
5
Terhibur
1
Terinspirasi
4
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top