Sedang Membaca
Benarkah Sabar Ada Batasnya
Ahmad Rofiq
Penulis Kolom

Penulis adalah Santri PP. Annuqayah Latee. Alumni Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep Madura.

Benarkah Sabar Ada Batasnya

Tasawuf Cak Kus

Sering kita jumpai, seseorang ketika sedang marah atau ditimpa suatu musibah mereka berkata “Kesabaranku sudah habis” atau “Sabar juga ada batasannya”. Perkataan itu keluar karena ketidakmampuannya lagi untuk tetap bertahan dalam kesabaran. Makanya ia memilih untuk berpaling.

Kalau kita buka lembaran kitab kuning pesantren, Sabar memiliki berbagai ungkapan atau definisi. Dzun Nun al-Mishri berpendapat, “Menjauhi hal-hal yang bertentangan, tenang dalam menahan perihnya cobaan serta menampakkan dirinya kaya padahal kondisi sebenarnya ia tertimpa kefakiran”. Sedangkan menurut Ibnu Atha’ “ Menyikapi cobaan dengan beretika yang baik.

Buku Kiai Said

Dalam al-Quran Allah SWT. berfirman tentang sabar di surah As-Sajadah, 24:

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat kami”.

Atau QS. At-Tur, 48:

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu.maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri”.

Dan banyak lagi al-Qur’an menyebutkan tentang sabar.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. Iman dibangun atas empat pondasi: Keyakinan, Kesabaran, Perjuangan dan Keadilan. Sabar termasuk bagian dari Iman. Sabar diibaratkan kepala yang merupakan bagian dari jasad. Tiada artinya jasad tanpa kepala. Begitupun keimanan tidak ada gunanya tanpa kesabaran.

Kita buka lembaran sejarah masa lalu di negeri timur tengah, kisah para nabi yang semuanya memberikan teladan kesabaran dalam berdakwah, salah satunya adalah Nabi Ayyub AS. Konon katanya beliau adalah seorang Nabi yang diberikan harta berlimpah, berbagai hewan ternak seperti sapi, unta, gajah, dan keledai. Serta diberi kekayaan berupa ratusan hektar tanah perkebunan yang dirawat oleh ratusan hamba sahaya. Akan tetapi iblis dengan segala tipu dayanya memohon kepada Allah SWT, untuk menguji kesabaran Nabi Ayyub AS.

Baca juga:  Misykat al-Anwar: Misi Al-Ghazali Menyingkap Tabir Hakikat

Pada mulanya nabi Ayyub kehilangan hartanya dengan cara dibakar oleh api. Selanjutnya anak-anaknya  mati, puncaknya ia ditimpa suatu penyakit. Namun itu semua bisa dilewati dengan penuh kesabaran dalam melewati masa-masa yang sangat sulit. Dan pada akhirnya Allah SWT atas kuasanya mengembalikan apa yang dimiliki oleh Nabi Ayyub sebelumnya.

Kisah nabi Ayyub AS diabadikan oleh Allah SWT dalam QS Sad, 44:

“….. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) adalah seorang penyabar. Dialah sebaik-baiknya hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada tuhannya)”.

Sebenarnya banyak nabi yang lain dalam perjalanan hidupnya diperuntukkan untuk berdakwah menyebarkan agamanya. Akan tetapi di setiap langkahnya mesti ada dinamika dan problem yag harus dihadapi dengan penuh kegigihan dan kesabaran.

Di dekat kita, ada berbagai tokoh Ulama yang memberikan keteladan hidup bagi kita dalam berjuang dan bersabar. Mereka semua memberikan keteladanan kepada umat, yang tidak akan pernah mengering apabila ditulis dengan pena. Penulis kutip kisah keteladan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Perserikatan Muhammadiyah. Dalam film sang Pencerah, perjuangan dalam berdakwah di masa awal, banyak sekali rintangan yang datang menghampiri.

Mulai dari beliau difintah membawa ajaran orang kafir hingga pembongkaran dan pembakaran Langgar (tempat murid KH. Ahmad Dahlan belajar memperdalam ilmu agama Islam). Atau kisah KH. Hasyim Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama yang dalam perjalanan hidupnya tegas menolak segala bentuk penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan fatwa resolusi jihadnya yang menjadi cikal bakal pertempuran 10 November di Surabaya. Bahkan beliau pernah dipenjara oleh jepang, disiksa dan dipaksa tunduk kepada mereka. Kisah beliau ini terdapat pada film Sang Kiai.

Baca juga:  Ngaji Hikam: Usaha Penting, Tetapi Bukan Segala-galanya

Berbagai kisah kesabaran di atas dicontohkan oleh para Nabi, Auliya’ dan Ulama, yang menurut sebagian orang orang awam merasa tidak bisa atau tidak mampu jika hal tersebut menimpa pada kehidupan mereka sekarang. Benarlah yang dimukakan oleh ulama, kita ini termasuk golongan Shobir bukan Shobur, karena kesabaran kita tidak pada segala hal dan kondisi.

Dalam al-Qur’an Surah ali Imron, 200:

… اصبروا وصابروا ورابطوا…

Menurut imam al-Qusyairi ketiga lafal tersebut memiliki urutan level Murabithah, Mushabirah dan puncaknya adalah Sabar. Sedangkan menurut Ali bin Muhammad dalam kitab Dalil al-Falihin, Ishbiru adalah sabarlah dalam menjalankan ibadah, meniggalkan maksiat, serta cobaan yang menimpa. Shabiru artinya kalahkan para musuh dengan penuh kekuatan. Rabithu,  kita diperintahkan untuk menegakkan jihad.

Pada kitab Ihya’ Ulum Al-Din, Al-Ghazali menulis bab khusus yang menjelaskan tentang sabar. Judulnya adalah Sabar sebagian dari Iman. Di dalamnya dijelaskan, terkadang keimanan diartikan sebagai pembenaran terhadap segala ajaran inti agama (Usul al-Din), sedangkan kesabaran diartikan perbuatan-perbuatan baik yang muncul akibat dari pembenaran tadi. Ada juga mengartikan Iman sebagai sebuah pembenaran sekaligus perbuatan. Sehingga menurut al-Ghazali keimanan memiliki dua struktur (rukun); keyakinan dan kesabaran. Keyakinan disini adalah pengetahuan final tentang pokok agama (Usul al-Din), sedangkan kesabaran adalah pengejawantahan berupa mengerjakan apa yang telah diyakini. Karena keyakinan mengajarkan bahwa pekerjaan maksiat dapat mengakibatkan celaka dan melaksanakan ketaatan dapat mendatangkan manfaat, sehingga tidak tidak dimungkinkan meninggalkan ketaatan dengan alasan mengerjakan perbuatan maksiat. Inilah yang dimaksud sabar sebagian dari iman.

Baca juga:  Kemurnian Tasawuf: Inti dari Kehidupan Manusia

Kesimpulannya, sejauhmana tingkat keimanan kita, disitulah kesabaran ikut serta menyandinginya. Selaras dengan pernyataan Abu Ali al-Duqaq mengenai batasan sabar adalah selama ia tidak menolak takdir. Apabila menampakkan musibah atau cobaan yang menimpa tanpa mengeluh, maka bukan berarti hilang kesabarannya. Hal ini seperti kisah yang dialami oleh Nabi Ayyub. QS. Al-Anbiya’, 83:

“(Ingatlah kisah) Ayyub, keika dia berdoa kepada tuhannya, (Wahai Tuhanku), sungguh aku telah ditimpa penyakit parah…”

 

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top