Sedang Membaca
Sejarah dan Makna Filosofis Tradisi Kupatan

Kandidat Doktor Ilmu Al Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sejarah dan Makna Filosofis Tradisi Kupatan

8d19f663 F663 4cac A041 91dd35b80a67 169

Beberapa masyarakat Jawa tidak bisa lepas dari ritual slametan karena termasuk jantungnya agama Jawa. Slametan adalah upacara makan bersama setelah diawali dengan doa-doa, yang bertujuan untuk menciptakan keadaan sejahtera, aman, dan terbebas dari gangguan makhluk lain. Sehingga keadaan yang diharapkan adalah selamet, baik bagi yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal.

Menurut Clifford Geertz (seorang antropolog dari Amerika Serikat), kupatan adalah tradisi slametan kecil yang dilaksanakan pada hari ketujuh bulan Syawal. Hanya mereka yang memiliki anak kecil dan telah meninggal saja, yang dianjurkan untuk mengadakan slametan ini. Hal ini tentu mencakup hampir semua orang yang telah berkeluarga di Jawa, walaupun kenyataannya slametan ini tidak sering diadakan. Menurut Geertz, tradisi ini umumnya banyak dilaksanakan oleh masyarakat Jawa Abangan.

Lebaran ketupat atau tradisi kupatan diangkat dari tradisi pemujaan Dewi Sri (Dewi pertanian dan kesuburan, pelindung kelahiran dan kehidupan, kekayaan dan kemakmuran). Ia adalah Dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris. Ia dimuliakan sejak masa kerajaan kuno seperti Majapahit dan Pajajaran. Namun dikemudian hari, terjadi desakralisasi dan demitologisasi. Dewi Sri tak lagi dipuja sebagai dewa padi atau kesuburan, tapi hanya dijadikan lambang yang direpresentasikan dalam bentuk ketupat yang bermakna ucapan syukur kepada Tuhan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Namun, Dewi Sri tetap dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Beberapa keraton di Indonesia, seperti Cirebon, Ubud, Surakarta, dan Yogyakarta tetap melestarikan tradisi ini. Sebagai contoh upacara slametan atau syukuran panen di Jawa disebut Sekaten atau Grebeg Mulud yang juga berbarengan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. Dalam upacara ritual semacam itu, ketupat menjadi bagian dari sesaji, seperti yang terjadi dalam upacara adat di Bali. Beberapa masyarakat Jawa sering menggantung ketupat pada pintu masuk rumah sebagai semacam jimat atau penolak bala.

Ada pula sumber lain yang berpendapat bahwa tradisi kupatan di tanah Jawa sudah ada sejak zaman Hindu dan Budha yang diaplikasikan dalam bentuk sesajen. Hal tersebut bertujuan agar arwah manusia yang meninggal dunia dalam masa bayi bisa tenang. Maka, di dalam tradisi Jawa kuno, kupatan itu sama dengan hari raya kecil atau hari raya untuk ritual arwah-arwah anak kecil.

Tradisi kupatan dalam Islam merupakan akulturasi budaya pada masa Walisongo dan pemerintahan Demak. Sunan Kalijaga memasukkan ketupat, simbol yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat, dalam perayaan lebaran ketupat, perayaan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal atau sepekan setelah hari raya Idul Fitri dan enam hari berpuasa Syawal.

Menurut H.J. de Graaf (sejarawan Belanda yang menulis sejarah Jawa), ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. Ia menduga bahwa kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janur dimaknai oleh de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Zastrouw Al-Ngatawi menegaskan bahwa tradisi kupatan merupakan bentuk dari sublimasi dari ajaran islam dalam tradisi masyarakat Nusantara. Hal ini merupakan cara walisongo untuk mengenalkan ajaran Islam mengenai cara bersyukur kepada Allah Swt, bersedekah, dan saling menjalin silaturrahim. Para walisongo menjadikan tradisi kupatan sebagai media untuk meyebarkan syi’ar agama.

Dalam tradisi tersebut, diadakan upacara yang perlengkapannya menggunakan ketan, kolak, apem yang diberi wadah pisang yang dibentuk sedemikian rupa yang disebut takir. Setiap bagian dari upacara tersebut memiliki makna filosofis yang merupakan dasar dari ajaran agama. Ketan merupakan simbol yang diambil dari kata “khatam” (selesai) melakukan ibadah, takir dari kata “dzikir”, dan apem dari kata afwan yang berarti ampunan dari dosa.

Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Ungkapan ini memberikan isyarat bahwa semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan kepada sesama. Sedangkan janur atau daun kelapa yang membungkus ketupat merupakan kependekan dari kata “jatining nur” (hati nurani). Sedangkan beras yang dimasukkan dalam anyaman ketupat menggambarkan nafsu duniawi.

Dengan demikian, bentuk ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani. Tradisi kupatan ini berfungsi sebagai pengingat agar manusia mengakui kesalahan masing-masing, kemudian rela untuk saling memaafkan. Orang yang bertamu akan disuguhi ketupat pada hari lebaran dan diharuskan memakannya sebagai pertanda sudah rela dan saling memaafkan. Perilaku ini diharapkan dapat menjadikan kehidupan masyarakat yang damai, tenang dan tentram. 

Ketupat memiliki dua bentuk. Bentuk segi empat dan segi lima. Bentuk segi empat mencerminkan prinsip “kiblat papat lima pancer” yang bermakna bahwa kemana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah. Kiblat papat lima pancer ini, dapat juga diartikan sebagai empat macam nafsu manusia, yaitu amarah (nafsu emosional), aluamah (nafsu untuk memuaskan rasa lapar), supiah (nafsu untuk memiliki suatu yang indah), dan muthmainnah (nafsu untuk memaksa diri). Keempat nafsu ini yang ditaklukkan selama berpuasa.

Jadi dengan memakan ketupat disimbolkan sudah mampu menaklukkan keempat nafsu tersebut. Sebagian masyarakat juga memaknai rumitnya anyaman bungkus ketupat mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia. Sedangkan warna putih ketupat ketika dibelah dua mencerminkan kebersihan dan kesucian setelah memohon ampun dari kesalahan. Beras sebagai isi ketupat diharapkan menjadi lambang kemakmuran setelah hari raya.

Sedangkan ketupat yang berbentuk segi lima, mempunyai arti “barang limo rak keno ucul” (ada lima hal yang tidak boleh lepas), yaitu: sembahyang lima waktu: Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Ngisa’. Kemudian, salah satu lauk dalam hidangan ketupat adalah kerupuk. Makna dari kerupuk itu adalah “ketumpuk-tumpuk”. Apa artinya?

Artinya, kesalah-kesalahan di masa lalu yang telah tertupuk-tumpuk tersebut bisa terhapus dengan saling memaafkan satu dengan lainnya. Orang Jawa, khususnya yang beragama Islam, jika paham betul dengan kejawaan, hatinya akan legowo serta bisa memaklumi dan memaafkan kesalahan-kesalahan bagi orang yang minta maaf. Wallahu A’lam

Baca juga:  Padasan, Padusan, Ramadhan: Budaya Menjaga Kesucian Melawan Wabah
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top