Sedang Membaca
Mengungkap Usia Aisyah Saat Menikah dengan Nabi (1): Menelusuri Sumber Klasik
Abad Badruzaman
Penulis Kolom

Wakil Rektor III IAIN Tulungagung. Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir. Penulis Buku-buku Keislaman.

Mengungkap Usia Aisyah Saat Menikah dengan Nabi (1): Menelusuri Sumber Klasik

Img 20200917 Wa0009

Perlu penelusuran ulang terhadap sumber-sumber klasik tentang berapa sebenarnya usia Aisyah saat menikah dengan Nabi Saw. Boleh jadi kita menemukan sumber yang dapat menjadikan kebanggaan kita akan panutan kita, Nabi Muhammad Saw., semakin menguat dengan ditemukannya data bahwa beliau menikah dengan Aisyah di usia remaja yang cukup matang, bukan di usia anak-anak berumur 7 atau 9 tahun.

Ada beberapa langkah dalam penelusuran-ulang sumber-sumber klasik itu: Pertama, menelusuri sumber yang selama ini dijadikan rujukan. Dalam hal ini sebagian besar riwayat yang menceritakan pernikahan Nabi Saw. dengan Aisyah di usia belia diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya. Seharusnya ada dua atau tiga orang lainnya yang meriwayatkan hal yang sama.

Cukup aneh, di Madinah, tempat di mana Hisyam tinggal, tidak ada seorang pun meriwayatkan hal ini. Hisyam sendiri baru menceritakan hal ini saat usianya 71 tahun. Aneh juga, tokoh tersohor yang ada di Madinah sekelas Malik bin Anas pun tidak menceritakan mengenai usia Aisyah saat menikah. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Irak di mana Hisyam kemudian tinggal di sana setelah pindah dari Madinah di usia tua.

Dalam Kitab Tahdzib al-Kamal dikatakan bahwa menurut Ya’qub ibn Syaibah, Hisyam sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Irak. Dalam Tahdzib al-Tahdzub dinyatakan bahwa Malik ibn Anas menolak hadis Hisyam yang ia riwayatkan ke penduduk Irak.

Baca juga:  Pagebluk di Mata Pujangga

Dalam Mizan al-I’tidal juga dikatakan bahwa di masa tuanya ingatan Hisyam mengalami kemunduran yang mencolok. Dari paparan ini saja dapat ditarik kesimpulan bahwa ingatan Hisyam sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindah ke Irak tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

Berikut teks hadits tentang pernikahan Nabi Saw. dengan Aisyah riwayat Hisyam dalam Shahih al-Bukhari:

حَدَّثَنِي فَرْوَةُ بْنُ أَبِي المَغْرَاءِ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، فَقَدِمْنَا المَدِينَةَ فَنَزَلْنَا فِي بَنِي الحَارِثِ بْنِ خَزْرَجٍ، فَوُعِكْتُ فَتَمَرَّقَ شَعَرِي، فَوَفَى جُمَيْمَةً فَأَتَتْنِي أُمِّي أُمُّ رُومَانَ، وَإِنِّي لَفِي أُرْجُوحَةٍ، وَمَعِي صَوَاحِبُ لِي، فَصَرَخَتْ بِي فَأَتَيْتُهَا، لاَ أَدْرِي مَا تُرِيدُ بِي فَأَخَذَتْ بِيَدِي حَتَّى أَوْقَفَتْنِي عَلَى بَابِ الدَّارِ، وَإِنِّي لَأُنْهِجُ حَتَّى سَكَنَ بَعْضُ نَفَسِي، ثُمَّ أَخَذَتْ شَيْئًا مِنْ مَاءٍ فَمَسَحَتْ بِهِ وَجْهِي وَرَأْسِي، ثُمَّ أَدْخَلَتْنِي الدَّارَ، فَإِذَا نِسْوَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ فِي البَيْتِ، فَقُلْنَ عَلَى الخَيْرِ وَالبَرَكَةِ، وَعَلَى خَيْرِ طَائِرٍ، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِنَّ، فَأَصْلَحْنَ مِنْ شَأْنِي، فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضُحًى، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِ، وَأَنَا يَوْمَئِذٍ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Telah menceritakan kepadaku Farwah bin Abi al-Mighra`, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Hisyam dari ayahnya dari Aisyah ra., ia berkata, “Aku dikawin oleh Nabi Saw. dalam usia enam tahun, kemudian kami berangkat ke Madinah, tinggal di Bani al-Harits dari suku Khazraj, kemudian aku sakit panas sehingga rontok rambutku dan tinggal jummah (rambut yang sampai bahu), dan ketika aku sedang bermain ayunan bersama kawan-kawanku, ibuku Umm Ruman menjerit memanggil aku, maka segera aku lari kepadanya, lalu dipegang tanganku sehingga nafasku masih sengal-sengal. Sampai tenang, kemudian ibuku mengusap wajah dan kepalaku lalu aku dibawa masuk rumah, tiba-tiba di rumah banyak wanita Anshar, dan mereka memberi selamat kepadaku, “’Ala l-khair wa al-barakah, wa ‘ala khairi tha’ir (selamat baik dan berkat), lalu ibu menyerahkan aku kepada mereka, lalu mereka menghiasku dan aku tidak sangka tiba-tiba Rasulullah Saw. masuk kepadaku di waktu dhuha, lalu mereka serahkan aku kepada nabi saw. di saat itu aku berusia sembilan tahun.

 

Baca juga:  Sejarah Nahdlatul Ulama: Majalah Swara Nahdhatoel Oelama dan Laporan Keuangan Publik
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top