Malam itu sunyi, hening. Namun justru di saat paling hening sejarah bergerak paling jauh. Seorang Nabi dipanggil, bukan untuk bersembunyi dari luka dunia, melainkan untuk menerima amanah yang akan mengikat bumi dengan langit, iman dengan peradaban, ibadah dengan tanggung jawab.
Isra’ adalah perjalanan tubuh, Mi‘raj adalah kenaikan ruh. Keduanya bukan kisah penghibur iman, bukan pula dongeng bagi mereka yang malas berpikir. Ia adalah pesan keras bagi manusia yang sering terjebak antara materialisme yang membutakan dan spiritualisme yang melarikan diri dari realitas sosial.
Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, Nabi Muhammad Saw melintasi ruang dan waktu. Bukan untuk mempertontonkan mukjizat, tetapi untuk menegaskan: agama tidak pernah steril dari sejarah, dan kesucian ibadah selalu beririsan dengan penderitaan manusia serta ketimpangan yang diciptakan kekuasaan.
Di Aqsha, para nabi berdiri dalam satu saf. Tak ada raja, tak ada budak, tak ada penguasa dan yang dikuasai. Seolah berkata kepada umat hari ini: jangan memisahkan tauhid dari keadilan, jangan memisahkan doa dari pembelaan, jangan memisahkan masjid dari jerit kaum tertindas yang sering dikorbankan atas nama stabilitas dan pembangunan.
Lalu Mi‘raj dimulai. Langit demi langit dilewati, hingga sampai pada batas yang tak mampu dijangkau makhluk. Di sanalah shalat diwajibkan, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai hadiah. Hadiah agar manusia tidak sepenuhnya tenggelam dalam beban dunia yang kerap menggerus nurani dan memabukkan para pemegang kuasa.
Shalat adalah Mi‘raj orang beriman. Saat dahi menyentuh bumi, ruh justru sedang naik ke langit. Saat manusia mengakui kelemahannya, Tuhan menanamkan kekuatan. Ia bukan sekadar rangkaian gerak yang dihafal sejak kecil, bukan rutinitas yang dijalani tanpa rasa dan makna. Namun di sinilah kegelisahan itu lahir. Betapa sering shalat kehilangan daya ubahnya. Sajadah digelar, tetapi kebohongan tetap dipelihara. Takbir dikumandangkan, namun kezaliman dilegalkan melalui aturan, prosedur, dan bahasa kebijakan yang dingin. Nama Tuhan disebut, sementara hak rakyat dipangkas tanpa rasa bersalah. Padahal shalat adalah kritik struktural.
Takbir adalah penolakan atas segala bentuk pengultusan kekuasaan. Rukuk adalah koreksi atas arogansi jabatan. Sujud adalah perlawanan sunyi terhadap kesombongan sistem yang menganggap manusia sekadar angka dan statistik. Jika shalat benar-benar hidup, ia tidak akan diam melihat hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Ia tidak akan netral ketika kemiskinan dipelihara demi keuntungan segelintir orang. Ia tidak akan jinak di hadapan kekuasaan yang melupakan amanah.
Namun hari ini, shalat sering dipisahkan dari keberanian moral. Ia dipersempit menjadi urusan privat, dijinakkan agar tidak menegur istana, dibungkam agar tak mengganggu pasar.
Isra’-Mi‘raj dirayakan, tetapi shalat dijauhkan dari kritik sosial dan keberpihakan nyata. Padahal Nabi kembali dari Mi‘raj tidak menetap di langit. Beliau turun, hidup bersama manusia, menegur penguasa yang lalim, dan membela yang dilemahkan. Dari langit, beliau membawa shalat.
Dari shalat, seharusnya lahir kejujuran dalam amanah, keadilan dalam kebijakan, dan keberanian menolak kezaliman. Isra’-Mi‘raj adalah undangan abadi, agar manusia tidak membatu oleh dunia, dan tidak pula melayang tanpa tanggung jawab.
***
Dalam konteks inilah, shalat seharusnya menjadi cermin yang paling jujur bagi kehidupan publik. Ia menegur bukan dengan teriakan, tetapi dengan konsistensi moral. Seorang yang mengaku menjaga shalat, tetapi menutup mata terhadap ketimpangan, sesungguhnya sedang mereduksi ibadah menjadi simbol kosong.
Shalat yang hidup akan melahirkan kepekaan terhadap nasib buruh yang diperas, guru yang diabaikan, petani yang dipinggirkan, dan rakyat kecil yang kehilangan suara. Ia menolak normalisasi kemiskinan struktural yang dibungkus jargon pembangunan. Ia mengganggu kenyamanan elite yang terbiasa berdoa panjang, tetapi lalai menunaikan keadilan. Dalam shalat, setiap manusia berdiri setara di hadapan Tuhan; maka ketimpangan yang dilembagakan oleh sistem sesungguhnya adalah pengkhianatan terhadap spirit shalat itu sendiri. Jika shalat tidak melahirkan keberanian untuk berkata “cukup” pada ketidakadilan, maka ia berhenti sebagai ritual pribadi, belum menjelma amanah sosial sebagaimana diturunkan pada malam Isra’-Mi‘raj.
Ia mengajarkan: semakin tinggi seseorang naik dalam ibadah, semakin besar tuntutan untuk berpihak kepada keadilan. Itulah Mi‘raj yang sejati, ketika shalat tidak berhenti di sajadah, tetapi menjelma sikap, keberanian, dan tanggung jawab sosial untuk memanusiakan manusia serta menjaga bumi sebagai amanah dari langit.