Jalaluddin Rumi, penyair dan sufi besar, menjalani hidup sederhana meski memiliki pengikut yang banyak dan pengaruh yang luas. Ia menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari ketenangan hati dan kedekatan dengan Tuhan.
Dalam era modern, kesederhanaan Rumi menjadi teladan menghadapi budaya konsumtif. Banyak generasi muda merasa harus membeli barang mahal atau menampilkan diri di media sosial untuk diterima, padahal ketenangan batin lebih bernilai.
Rumi mengajarkan melalui kisah dan puisinya bahwa keterikatan pada dunia materi mengaburkan pandangan spiritual. Kesederhanaan membantu seseorang fokus pada hal yang esensial: amal, ilmu, dan hubungan manusia yang tulus.
Kesederhanaan juga meningkatkan kreativitas. Dengan hidup minimalis, seseorang bisa lebih menghargai ide dan peluang yang ada, tanpa tergantung pada fasilitas mewah.
Rumi menunjukkan bahwa kesederhanaan membebaskan hati. Ketika tidak tergantung pada kemewahan, hati lebih lapang untuk mencintai, memaafkan, dan menolong orang lain.
Generasi sekarang bisa mencontoh Rumi dengan memilah gaya hidup, memilih konsumsi yang bijak, dan menilai keberhasilan dari dampak positif, bukan jumlah harta.
Kesederhanaan Rumi telah membuka pintu kebahagiaan sejati: hidup lapang, berkah, dan bermakna. Sampai kini nama beliau tetap harum dan diterima umat dengan sepenuh hati.