Ibnu ‘Ajibah bukan sekadar ulama besar dari Maroko abad ke-18. Ia adalah gambaran tentang bagaimana syariat dan hakikat dapat berjalan beriringan dalam satu jiwa. Sejak muda, ia dikenal sebagai ahli fikih dan tafsir yang mumpuni. Majelisnya dipenuhi penuntut ilmu. Namun di balik keluasan ilmunya, tersimpan kegelisahan: apakah hukum-hukum lahir semata cukup untuk mengantarkan hati benar-benar dekat kepada Allah?
Kegelisahan itu membawanya menapaki jalan tasawuf. Ia belajar bahwa syariat adalah pijakan, sementara hakikat adalah kedalaman rasa. Tanpa syariat, spiritualitas akan kehilangan arah. Tanpa hakikat, syariat bisa terasa kering dan formal. Dalam proses suluknya, Ibnu ‘Ajibah tidak meninggalkan perannya sebagai pengajar. Ia justru memperdalam dimensi batin dari ilmu yang telah lama ia tekuni.
Melalui karyanya, Aiqāẓ al-Himam, ia menguraikan mutiara hikmah tasawuf dengan tetap berpijak pada dalil dan disiplin ilmu. Sementara dalam tafsirnya, Al-Bahr al-Madid, ia menampilkan harmoni antara makna zahir dan isyarat batin Al-Qur’an. Baginya, memahami lapisan batin ayat bukan untuk meniadakan hukum lahir, melainkan untuk menghidupkannya dengan kesadaran.
Ia juga mengingatkan bahaya dua kutub ekstrem. Terlalu menekankan syariat tanpa sentuhan hati bisa melahirkan sikap keras dan merasa paling benar. Sebaliknya, mengejar hakikat tanpa disiplin syariat berisiko tergelincir pada klaim-klaim kosong. Jalan para arifin, tegasnya, adalah keseimbangan: taat secara lahir, khusyuk secara batin.
Dalam kesehariannya, Ibnu ‘Ajibah hidup sederhana. Ia tetap hadir di tengah masyarakat, membimbing murid, dan menulis puluhan kitab. Ia tidak menjadikan tasawuf sebagai pelarian dari realitas sosial. Justru dengan cahaya hakikat, ia menguatkan komitmen pada tanggung jawab syariat. Inilah pesan penting bagi Muslim modern: spiritualitas tidak harus menjauh dari kehidupan, tetapi menyinari kehidupan itu sendiri.
Literatur manaqib mencatat sejumlah karomah yang dinisbatkan kepadanya. Murid-muridnya meriwayatkan ketajaman firasatnya dan doa-doanya yang kerap berbuah pertolongan tak terduga. Ada pula kisah tentang ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat hati yang gelisah menjadi tenteram di majelisnya. Namun Ibnu ‘Ajibah menolak menjadikan karomah sebagai ukuran kemuliaan. Baginya, karomah terbesar adalah istiqamah dalam ketaatan dan akhlak.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh polarisasi, teladan Ibnu ‘Ajibah terasa relevan. Ia mengajarkan bahwa syariat adalah kompas, hakikat adalah cahaya. Keduanya tidak untuk dipertentangkan, tetapi dipadukan. Dengan itulah, ibadah menjadi hidup, ilmu menjadi rendah hati, dan perjalanan menuju Allah berlangsung dalam keseimbangan.