Sedang Membaca
Tradisi Chaharsambeh Sori dan Nowruz di Iran
Ulummudin
Penulis Kolom

Mahasiswa Studi al-Qur'an dan Hadis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tradisi Chaharsambeh Sori dan Nowruz di Iran

Sajian Perayaan Nowruz Sumber Kumparan.com

Iran sebagai salah satu peradaban tua mempunyai tradisi yang sudah berjalan selama ribuan tahun. Salah satu tradisi kuno yang masih dirayakan hingga saat ini adalah tradisi nowruz atau tahun baru Persia yang didahului oleh chaharsambeh sori. Kedua tradisi ini tetap lestari walau waktu silih berganti.  

Tradisi Chaharsambeh sori ini dilangsungkan pada hari rabu sebelum perayaan nowruz. Chaharsambeh sendiri berarti rabu dan sori bermakna merah sebagai representasi api. Pada malam rabu, jalan-jalan akan ramai oleh orang-orang yang menyalakan api bisa berupa petasan atau jenis lainnya.

Tradisi ini mempunyai akar dari Zoroastrianisme. Api dalam tradisi Zoroastrianisme merupakan simbol dari kebijaksanaan Tuhan. Penyalaan api merupakan simbol pengusiran roh-roh jahat yang menyelimuti kehidupan di tahun sebelumnya.

Selain itu, ada pula ketika perayaan berlangsung atraksi melompati api. Aksi semacam itu dimaksudkan untuk membuang dan menjauhkan kesialan dari tahun sebelumnya, sehingga di tahun yang baru ini dapat diawali dengan keadaan diri yang suci dan bersih. Mereka pun dapat menyambut nowruz dengan suka cita seolah-olah semuanya terlahir kembali baik diri maupun alam.

Setelah melaksanakan Chaharsambeh Sori, masyarakat Iran bersiap untuk merayakan nowruz. Nowruz ini merupakan tahun baru bangsa Persia yang telah dirayakan sejak 3000 tahun yang lalu. Wajar saja jika tradisi ini diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia yang tetap harus dilestarikan.

Baca juga:  Rimpu, Dato’ Melayu, dan Aurat Perempuan Bima

Nowruz tidak hanya dirayakan di Iran, tetapi juga di negara sekitar yang pernah dipengaruhi oleh budaya persia seperti Turki, Azerbaijan, Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, dan Pakistan. Sebelum terbentuknya negara bangsa, bahasa Persia menjadi lingua franca bagi bangsa-bangsa di Asia tengah. Tak heran jika warisannya masih membekas hingga hari ini.

Nowruz atau nuruz sendiri terdiri dari dua kata yaitu nu yang berarti baru dan ruz yang bermakna hari. Jadi, secara harfiah bisa diartikan sebagai hari baru. Nowruz ini bertepatan dengan awal musim semi yang jatuh sekitar tanggal 21 Maret setiap tahunnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Bagi orang Iran musim semi adalah musim yang sangat spesial. Musim ini menandai dimulainya kehidupan setelah selama tiga bulan bergelut dengan musim dingin yang disimbolkan sebagai kematian. Di musim ini bunga-bunga bermekaran dan tumbuh-tumbuhan kembali hijau setelah tertidur oleh dinginnya salju.

Pada saat musim semi, taman menjadi tempat favorit untuk dikunjungi. Di sana kita bisa berjalan-jalan sambil menyaksikan berbagai bunga seperti tulip, mawar, dan jenis lainnya. Taman menjadi hijau kembali oleh rumput-rumput yang tertata rapi. Banyak pengunjung yang pergi ke taman beserta keluarganya.

Di taman-taman ini pula ketika perayaan nowruz tiba, kita akan menyaksikan apa yang disebut dengan boneka Haji Piruzi. Boneka tersebut merujuk pada sosok penjaga api supaya tidak padam di kuil Zoroaster. Maka tak heran jika wajah boneka tersebut akan hitam karena selalu berdekatan dengan api. Selain itu, boneka ini juga selalu berpakaian merah dan memakai kopiah runcing khas Iran. Ini menjadi simbol bahwa ia siap menghibur dan memberikan kesenangan bagi masyarakat yang merayakan nowruz.

Pesan Kerudung Bergo

Yang paling khas dari nowruz, keluarga Persia selalu menghadirkan tujuh makanan yang dimulai dengan huruf sin. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah haft sin. Pertama, sabzeh atau tanaman hijau yang berarti kelahiran kembali atau kesuburan. Kedua, samanu atau puding krim gandum yang melambangkan kemakmuran. Ketiga, sib atau apel yang menyimbolkan kecantikan. Keempat, senjid atau buah lotus yang menunjukkan cinta. Kelima, sir atau bawang putih yang menandakan kesehatan. Keenam, somagh atau sejenis rempah yang berarti kemenangan atas kejahatan. Ketujuh, serkeh atau cuka sebagai simbol dari kesabaran dan kelestarian.   

Nowruz dapat dikatakan sebagai perayaan terbesar di Iran. Suasananya seperti Idul Fitri di Indonesia. Kantor dan sekolah-sekolah diliburkan selama kurang lebih dua minggu. Waktu tersebut dimanfaatkan oleh para perantau untuk mudik atau pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Baca juga:  Mengenang Tauhid, Film Haji yang Terlupakan (2/2)

Pada saat nowruz, Tehran yang dikenal sebagai kota metropolitan mendadak sepi. Tehran seperti kota mati yang ditinggalkan oleh penghuninya. Jalan raya yang biasanya ramai mendadak menjadi lengang. Selain itu, pasar dan warung hampir semuanya tutup, sehingga untuk membeli kebutuhan sehari-hari pun cukup sulit.

Berbeda dengan Tehran yang sepi, kota-kota turis seperti Isfahan, Yazd, dan Shiraz mendadak ramai. Kota-kota tersebut akan kebanjiran pengunjung dari berbagai penjuru Iran. Tiga kota tersebut merupakan kota utama tujuan turis di Iran saat nowruz. Hotel dan penginapan di ketiga kota tersebut hampir dipastikan penuh.

Banyak di antara pengunjung yang berlibur menggunakan kendaraan pribadi. Mereka membawa serta semua anggota keluarga. Oleh karenanya, jika Anda berencana mengunjungi Iran, disarankan untuk menghindari nowruz kalau Anda lebih menyukai suasana tenang.  Pada saat nowruz, semua spot-spot wisata di Iran akan ramai oleh turis lokal yang sedang berlibur untuk merayakannya.

Perayaan nowruz memang benar-benar meriah dan atmosfernya luar biasa. Nowruz bukanlah jenis perayaan keagamaan, sehingga acara ini menembus batas-batas agama dan negara. Setiap orang yang mempunyai keterkaitan dengan budaya Persia akan ikut dalam euforianya.

Perayaan nowruz akan diakhiri dengan sizdah bedar yang sesuai namanya berlangsung pada hari ke-13 setelah nowruz. Di Iran, hari tersebut diperingati sebagai hari lingkungan. Masyarakat akan pergi ke luar rumah bersama para keluarganya. Biasanya, yang menjadi destinasi adalah taman-taman atau tempat yang nyaman di pinggir sungai. Mereka akan menggelar tikar dan menikmati hari dengan bermain, bercengkrama, dan makan bersama.

Baca juga:  Catatan Sufistik: Burung pun Berakal

 

 

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top