Sedang Membaca
Apa yang Dikatakan Rasulullah Saat Aisyah dan Fatimah Bersitegang?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Apa yang Dikatakan Rasulullah Saat Aisyah dan Fatimah Bersitegang?

Ulin Nuha

Di antara beberapa istri Rasulullah saw yang menonjol dalam perjuangaanya untuk Islam tentu adalah Syidah Khadijah dan Sayidah Aisyah. Sayidah Khadijah memiliki jasa yang besar dalam dakwah, beliau mengeluarkan harta dalam jumlah yang besar untuk dakwah Rasulullah saw.

Sedangkan Sayidah Aisyah merupakan salah satu ulama dalam kalangan sahabat yang mempunyai kontribusi besar dalam periwayatan hadis. Ibnu al‘Amaad al-Hambali dalam kitabnya Syadzaratudz Dzahabi fi Ahbari Man Dzahaba juz 1 mengutip perkataan al Hafidz adz-Dzahabi bahwa Sayidah Aisyah meriwayatkan hadis berjumlah 2210.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pernah suatu ketika terjadi perdebatan ringan antara Sayidah Aisyah dan Putri Sayidah Khadijah, yaitu Sayyidah Fatimah. 

Perdebatan tersebut terekam dalam Nurudz Dzalam karangan Syaikh Nawawi al-Bantani. Asal mula Perdebatan tersebut ditengarai oleh Rasulullah saw yang masih cinta dan teringat Sayidah Khadijah padahal sudah meninggal seperti dalam Sahih Bukhori

اسْتَأْذَنَتْ هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ أُخْتُ خَدِيجَةَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَعَرَفَ اسْتِئْذَانَ خَدِيجَةَ فَارْتَاعَ لِذَلِكَ  فَقَالَ، اللَّهُمَّ هَالَةَ ، قَالَتْ : فَغِرْتُ ، فَقُلْتُ : مَا تَذْكُرُ مِنْ عَجُوزٍ مِنْ عَجَائِزِ قُرَيْشٍ حَمْرَاءِ الشِّدْقَيْنِ هَلَكَتْ فِي الدَّهْرِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Haalah binti Khuwailid (saudari Sayidah Khadijah) meminta ijin menemui Rasulullah saw, maka Rasulullah teringat suara Sayidah Khodijah (karena suara Haalah mirip suara Sayidah Khadijah), Lalu Rasulullah saw berubah hatinya (karena terkenang dengan Sayidah Khadijah). Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Ya Allah, ternyata Itu Haalah”. Aku (Sayidah Aisyah) pun cemburu dan aku berkata, “Yang engkau (Rasulullah saw) masih mengenang seorang wanita tua dari golongan Quraisy, yang merah gusinya, telang meninggal dunia ditelan masa, dan Allah swt telah menggantikan bagimu yang lebih baik darinya”.

Dalam kitab Nurudz  Dzalam diriwayatkan suatu waktu Sayidah Aisyah berkata kepada Sayidah Fatimah,

وروى ان عائشة قالت لفاطمة يا فاطمة أنا خير من أمك لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم تزوج أمك وهى ثيب وتزونى وأنا بكر

Baca juga:  Ihwal Ditinggal Istri: dari HB Jassin, Dawam Rahardjo hingga Opick

“Wahai Fatimah! Aku itu lebih baik daripada ibumu, Khadijah, karena Rasulullah saw menikahi ibumu dalam status janda, sedangkan beliau menikahiku masih dalam status perawan.”

Mendengar perkataan Sayidah Aisyah, Sayidah Fatimah menjadi merasa kurang enak. Kemudian, Dia menemui Rasulullah saw untuk mengadukan permasalahannya dengan ibu tirinya yaitu Sayidah Aisyah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ketika mendengar aduan Sayidah Fatimah, Rasulullah tidak langsung marah dan tersinggung, beliau malah menimpali Sayidah Fatimah dengan jawaban yang santai dan bercanda,

قولى لما صدقت أن رسول الله تزوج أمى وهى ثيب وتزوجك وأنت بكر ولكن رسول الله حين تزوج أمى هو بكر وحين تزوجك هو ثيب فبكارة رسول الله صلى الله عليه وسلم خير من بكارتك

“Katakanlah kepada Aisyah bahwa Rasulullah memang benar menikahi Khadijah yang berstatus janda dan kamu (Aisyah) masih perawan, akan tetapi ketika Rasullah menikahi ibuku beliau masih perjaka, dan ketika beliau menikahi kamu sudah dengan kondisi duda. Tentunya keperjakaan Rasulullah itu lebih baik daripada keperawanan kamu.”

Setelah mendengarkan jawaban Rasulullah saw, Sayidah Fatimah kembali menemui Sayidah Aisyah dan berkarta persis seperti apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Mendengarkan perkataan Sayidah Fatimah, Sayyidah Aisyah tidak marah, akan tetapi malah meminta Sayidah Fatimah untuk berterimakasih kepada Rasulullah saw. Karena beliau mengajarkan jawaban kepada Sayidah Fatimah dengan jawaban rileks dan santai.

Apa yang telah dikisahkan di atas tentu menjadi pelajaran bagi umat Islam, bahwa dalam menghadapi masalah rumah tangga, tidak harus dihadapi dengan serius dan marah, akan tetapi adakalanya bisa diselesaikan dengan santai. Wallahu a’lam.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top