Sedang Membaca
Mengulik Drama Simbolik Bung Karno
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mengulik Drama Simbolik Bung Karno

Susi Ivvaty
Mengulik Drama Simbolik Bung Karno

“Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung,” begitu pesan ayah kepada Sjarifudin, Bachtiar, dan Tan Tiong, yang meninggalkan Jawa menuju Flores.

Seseorang harus berpedoman pada budi pekerti dan sopan santun. “Tambahan pula sesuaikanlah dengan adat istiadat setempat, bila kamu telah mendatangi pondoknya dan juga minum airnya untuk menghilangkah haus”.

Dialog antara tokoh ayah dan tiga pemuda itu terdapat pada naskah drama Rahasia Kelimutu karangan Presiden Pertama RI, Soekarno, yang ditulis semasa pengasingannya di Ende Flores Nusa Tenggara Timur antara 1934-1938. Selain Rahasia Kelimutu, ada 12 naskah tonil lain yang disusun dan dipentaskan, yakni Rahasia Kelimutu 2, Rendo Rate Rua, Nggera Ende, Amuk, Dokter Syaitan, Kut-Kutbi, Aero Dinamit, Djula Gubi, Maha Iblis, Anak Haram Jadah, Sang Hai Roemba, dan 1945.

Kisah pun bergulir. Sarifudin, Bachtiar, Tan Tiong sampai di Flores. Seorang mandor menceritakan berbagai mitos dan tahayul tentang Kelimutu. Telaga merah bernama “tiwu ata polo”, yakni danau orang suanggi atau setan hantu. Telaga hijau adalah “tiwu ata mbupu” atau danau orang tua. Sedangkan danau biru itu “tiwu ko’o fai muamuri” atau danau pemuda-pemudi yang banyak hantunya. Kepala kampung Wolorongo memperkuat kisah sang mandor, bahwa Kelimutu adalah daerah berbahaya yang sudah memakan banyak korban.

Sampailah Sarifudin di Kelimutu untuk menguak rahasia di sana. Bachtiar dan Tan Tiong gagal karena jatuh dari kuda tunggangan dan terseret jauh. ‎Putra kepala kampung Wolorongo bernama Rimabesi menghalangi Safrufin yang diduga ingin membawa harta karun di sana. Ternyata di satu dari tiga danau itu memang ditemukan kotak kecil yang tidak dijelaskan isinya. Sarifudin dihadang beberapa orang dan sesosok hantu, yang setelah dibuka kedoknya ternyata Rimabesi.  Sarifudin ditolong oleh seorang perempuan yang memukul kepala Rimabesi hingga tercebur ke danau, menyusul teman-temannya. K‎otak rahasia pun terpental ke danau, lenyap tanpa diketahui isinya.

Seru sekali menyimak cerita sandiwara Bung Karno ini. Kisah penjahat yang berpura-pura menjadi hantu ini mengingatkan pada serial Scoby Doo. Pesan moralnya jelas, seseorang yang berperilaku jahat, mau menutupi diri dengan kedok apa pun, bakal terbongkar juga. Apalagi urusannya dengan harta dan ketamakan.

Naskah RK disimpan di Rumah Pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira Ende, ditutup dengan kaca. Padahal itu “hanya” naskah salinan yang tintanya memudar. Di mana naskah tonil yang asli?. “Naskah drama yang disimpan di sini hanya tujuh, bukan yang asli. Tulisannya sudah susah dibaca,” kata Syafrudin, juru pelihara Rumah Pengasingan Bung Karno saat saya temui di bangunan cagar budaya itu.

Syafrudin sedang tidur ketika saya datang. Pintu tertutup rapat. Rupanya situs memang ditutup untuk umum pada Sabtu. “Tapi boleh saja masuk,” katanya sambil mengucek-ucek matanya yang merah. Rupanya tidak hanya rumah itu yang sepi. Gedung Imakulata, tempat Bung Karno dan kawan-kawan mementaskan tonil juga sepi. Makam mertua Sukarno, Ibu Amsi di Kelurahan Rukun Lima Ende Selatan, senyap. Masjid Ar-Rabithah juga sunyi, pun lapangan Pancasila. Patung Soekarno duduk di bawah pohon Sukun (pohon baru) bak penjaga taman. Saya membayangkan, betapa sepinya Ende sebelum kemerdekaan. Betapa kesepiannya Bung Karno.

Makna Simbolik

Kembali soal tonil. Bagi budayawan Flores dan pengajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, Maria Matildis Banda‎, Rahasia Kelimutu (RK) menyuguhkan ironi tentang kepercayaan tradisional dan modernitas.‎ Pendekatannya dengan konsep apresiatif sederhana melalui simpati, empati, dan refleksi untuk membangun relasi teoritis antara sastra, sejarah, dan kebudayaan dalam memandang tujuan perjuangan.

“Naskah ini bebas diinterpretasi. Mengapa dimunculkan peti kecil yang tidak diketahui isinya hingga akhir, dan menjadi rebutan. Saya rasa di sinilah sisi intelektualitas Bung Karno bisa kita lihat,” kata Mery, sapaan Maria Matildis Banda.

Banyak makna simbolik di balik naskah-naskah tonil Bung Karno. Bahwa mitos dan tradisi bisa juga dibenturkan dengan modernitas. Tradisi memuat kearifan lokal yang mesti dipertahankan. Peti yang diperebutkan sebagai harta karun bisa berarti ilmu terpendam yang mesti digali maknanya tanpa harus diperebutkan agar jangan lenyap. Makna simbolik itu bisa jadi ada di semua naskah Sukarno, seperti naskah Dokter Syaitan.

Film, Sastra, Teater

“Kekejaman yang paling hebat yang dapat mengganggu pikiran manusia adalah pengasingan. Sungguh hebat akibatnya. Ia dapat menggoncangkan dan membelokkan kehidupan orang”. (Cindy Adams, 1966: 146).

Ada nada protes sekaligus pasrah di dalam kalimat yang termuat di buku Bung Karno ‎Penyambung Lidah Rakyat itu. Namun, bukankah benar jika hidup Bung Karno menjadi “berbelok” ke arah yang positif? Kreativitasnya muncul. Tak hanya menulis naskah drama, Bung Karno juga melukis. Satu lukisannya tentang toleransi umat beragama dipajang di situs Rumah Pengasingan.

Menyutradarai tonil merupakan keterampilan lain dalam seni pertunjukan. Tonil merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sandiwara, serapan dari toneel yang dalam bahasa Belanda yang berarti pertunjukan (drama). Pada institusi pendidikan modern, belajar dramaturgi secara menyeluruh membutuhkan lebih dari 100 Satuan Kredit Semester.

Baca Juga

Satu pertanyaan, mengapa Soekarno memilih sastra lakon dan teater? Peneliti dan Pemimpin Redaksi Prisma Daniel Dhakidae menduga, karena masa itu seni peran sedang bertumbuh di Indonesia. Energi kreatif  dalam bentuk pembuatan film tengah menyeruak.

Sebagai catatan, pada 1926, film pertama Indonesia, Loetoeng Kasaroeng diproduksi di Bandung. Sayang,  film ini, menurut pemerhati dan distributor film Indonesia asal Australia, David Hanan, tidak diketahui rimbanya. ‎Situs filmindonesia.or.id mencatat, film Indonesia terus dibikin saban tahun sejak Loetong Kesaroeng, dan cukup riuh pada  30-an, termasuk Njai Dasima 1,2,3 (1929-1932) dan Si Pitoeng (1930).

Menurut Daniel, ada beberapa film yang diproduksi di Flores pada tahun 30-an, salah satunya Ria Rago, produksi Sicietas Verbi Divini (Soverdi) dari gereja Katolik. Film bisu yang disutradarai Pastor Simon Buis  ini diperankan warga Ndona Flores, Ria Rago. Di film itu juga digambarkan budaya dan tradisi Flores. Lokalitasnya kental. Daniel menduga, demam film memang sedang terjadi pada tahun 30-an, sehingga seni peran pun menarik hari Bung Karno.

Setelah Ria Rago, Simon Buis membikin film lain di Flores, Amorira: Benci dan Cinta di Hutan Bambu Borado-Likowali, Flores (1932). Film-film Buis ini diputar berulang-ulang di Indonesia dan Belanda hingga 1935.

Soekarno dengan 13 tonilnya menjadi satu cerita menarik tentang sisi kesenimanan proklamator bangsa. Ia menyikapi masa keterasingan itu dengan tepat. Berkesenian adalah satu jalan yang membahagiakan, diri sendiri maupun orang lain. Sayang, naskah berjudul 1945 tidak terlacak. Naskah itu satu-satunya yang tidak dipentaskan. Ada yang bilang naskah itu diberikan kepada kelompok tonil dari Filipina yang sedang pentas keliling hingga ke Ende.

Lantas, sejak kepergian Soekarno dari Ende pada Oktober 1938, apakah ada tonil yang dipentaskan ulang? Stephanus Djawanai, Rektor Universitas Flores, bercerita bahwa mahasiswa Unflor pernah mementaskan Dokter Syaitan pada tahun 2013. Dokter Syaitan itu terinspirasi oleh novel Frankenstein karya Mary Shelley, tentang ilmuwan yang menghidupkan mayat. “Saya ikut main, jadi ayahnya Dr Syaitan itu, ha-ha-ha. Saya juga menghapalkan naskah, lho,” kata Djawanai pada tahun 2015 ketika saya berkunjung ke rumahnya di Ende.

Begini satu cuplikan dialog Dokter Syaitan‎. Ayah kepada dr Amir: apabila dr MZK coba menghidupkan manusia mati, pekerjaan yang demikian ini satu-satunya pekerjaan yang menyekutui Tuhan. Dr MZK (masuk sambil tergelak, girang karena eksperimennya hampir tuntas): Ayah! Hak Allah tetap hak Allah SWT. Saya sama sekali tak merampas. Tapi sebagai dokter saya ingin memperdalamkan ilmuku sampai seluas-luasnya!”

Saya membayangkan, alangkah asyiknya jika 12 naskah drama itu dipentaskan kembali pada masa kini. ‎Barangkali, bolehlah digarap dengan sedikit pengayaan?

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top