Rohmatul Izad
Penulis Kolom

Dosen Filsafat IAIN Ponorogo. Alumni Akidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga dan Pendidikan Pascasarjana di Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ketua Pusat Studi Islam dan Ilmu-Ilmu Sosial Pesantren Baitul Hikmah Krapyak Yogyakarta.

Ajaran Mistik Islam Kejawen dalam Serat Wedhatama

Serat Wirid Hidayat Jati, By Mangoenwidjaja.pdf

Serat Wedhatama merupakan satu-satunya kitab dalam khazanah kepustakaan Islam kejawen yang merupakan karya K.G.P.A.A Mangku Negara IV. Secara historis, Mangku Negara IV lahir pada tahun 1809 M. Ayahnya adalah P.H. Hadiwijaya I. mengenai riwayat pendidikan Mangku Negara tidak diketahui secara pasti, yang jelas ia banyak menghabiskan masa kecil bersama kakeknya yang tak lain adalah Mangku Negara II dan sempat mempelajari kebudayaan dan kesusastraan Jawa bersamanya.

Terlepas dari riwayat hidup Mangku Negara IV, Serat Wedhatama merupakan kitab mistik kejawen yang boleh dibilang cukup ringkas dan padat serta sarat makna. Kitab ini disusun dalam bentuk sekar macapat dengan gaya sastra yang sangat indah, sehingga amat digemari oleh para pecinta kepustakaan dan kesenian Jawa.

Secara umum, kitab ini berisi tentang tuntunan moral bagi masyarakat Jawa, khususnya bagi para priyayi dan keluarga istana. Meski begitu, inti terdalam yang terkandung dalam Serat Wedhatama lebih mengacu pada ajaran-ajaran mistik Islam kejawen. Karenanya, ajaran-ajaran moral yang terkandung dalam kitab ini tidak akan mudah dipahami tanpa terlebih dahulu memahami berbagai kata kunci dalam ajaran mistik.

Artinya, seseorang tidak akan mampu memahami secara baik dan benar ketika mengkaji Serat Wedhatama bila tanpa dibekali pengetahuan tentang ajaran mistik atau tasawuf pada umumnya. Serat Wedhatama banyak mengungkapkan istilah-istilah dan konsep moral yang bersumber dari tasawuf. Oleh sebab itu, pengenalan terhadap ajaran tasawuf merupakan pintu masuk bagi pemahaman akan kandungan Serat Wedhatama.

Baca juga:  Bom di Mesir, Setelah di Gereja, Kini di Masjid

Memang, Serat Wedhatama tidak terlalu banyak mengungkapkan uraian tentang Tuhan bersama dengan sifat-sifatnya. Namun demikian, beberapa bait dalam kitab ini membuat uraian yang mencerminkan bahwa Tuhan dinyatakan bersemayam atau bersembunyi dalam diri manusia, hal ini sebagaimana ditemukan dalam Pupuh Pucung bait ke-12 sebagai berikut: “Tuhan yang agung bersemayam dalam pusat jantung. Di situ kesukaan Hyang Mahakuasa, itulah singgasana suci yang tersembunyi; tidak demikian bagi para pemuda yang mengikuti nafsu angkara murka”.

Sementara itu, terkait dengan tujuan hidup bagi orang yang telah mencapai derajat bijaksana adalah berusaha sebisa mungkin menyelami samudera Manunggaling Kawula-Gusti (kemenyatuan antara hamba dan Tuhan), hal ini sebagaimana diungkapkan dalam Pupuh  Pangkur bait 12, 13, 14 sebagai berikut:

“Hendaklah waspada terhadap penghayatan Roroning Atunggil (dua tetapi menjadi satu kesatuan), agar tiada ragu terhadap kesatuannya sukma, penghayatan ini terbuka di dalam penyepian tersimpan di dalam pusat kalbu, adapun proses terungkapnya tabir (penutup alam gaib). Laksana terlitasnya dalam kantuk bagi orang yang sedang mengantuk. Penghayatan gaib itu datang laksana lintasan mimpi. Sesunguhnya orang yang telah menghayati semacam ini, berarti telah menerima anugerah Tuhan. Kembali ke alam sunyi hawa, tiada menghiraukan kesenangan duniawi. Yang Mahakuasa telah mencakup dalam dirinya. Dia telah kembali pada asal-usulnya….”.

Baca juga:  Ini Sifat Kafir yang Ada di Diri Kita

Bila melihat diksi dari keterangan bait di atas, jelaslah bahwa ajaran mistik  Islam kejawen yang terkandung dalam kitab Serat Wedhatama mengandung ajaran tentang wahdatul wujud atau kesatuan wujud antara manusia dengan Tuhan. Dari kepekaan penghayatan spiritual itu, manusia mampu menyatu dengan Tuhan.

Artinya, manusia telah menyatu dengan Tuhan dan sudah tidak terpisah lagi, ia menjadi manusia sekaligus Tuhan, begitupun sebaliknya. Konsep kesatuan ini maksudnya, manusia adalah bukan Tuhan, tetapi juga bukan selain Tuhan.

Selain itu, dalam Serat Wedhatama juga diterangkan, sebagaimana juga terdapat dalam ilmu tasawuf, bahwa bila seseorang telah mampu melakukan penghayatan makrifat kepada Tuhan, maka ia disebut sebagai insan kamil atau manusia sempurna. Ia telah menjadi orang yang paling dekat dengan Tuhan, berbudi luhur, dan telah menjadi manusia suci sebagaimana Tuhan itu sendiri.

Bila melihat inti-inti pokok dari kandungan Serat Wedhatama, maka dapat dikatakan bahwa kitab ini membuat tiga aspek ajaran, yakni moral, kesatuan wujud, dan insan kamil. Ketiga-tiganya menyatu dalam satu wadah laku spiritual seorang anak manusia yang tidak terpisahkan. Bila seseorang mengamalkan ajaran moral sebagaimana terkandung dalam kitab ini, maka otomatis kedua ajaran lainnya mengikuti dan tidak terpisahkan. Ini menunjukkan tentang kesatupaduan ajaran dalam sebuah wadah spiritualitas.

Baca juga:  Malam Ini Haul Gus Dur di Surabaya: Kebudayaan Menertawakan Kehidupan

Terlepas dari itu semuanya, bila merunut semua khazanah kitab dalam kepustakaan Islam kejawen, maka ada semacam benang merah yang menyatukan berbagai ajaran yang terkandung dalam kitab-kitab itu. Tema yang menyatukan berbagai karya itu adalah ajaran tentang Manunggaling Kawula Gusti atau konsep tentang kesatuan wujud. Bahwa hampir semua karya- karya itu membuat ajaran inti berupa konsep penyatuan antara manusia dan Tuhan.

Memang tidak bisa dipungkiri terdapat ajaran-ajaran lain, misalnya seperti ajaran teosentrisme dan antroposentrisme sebagaimana ditemukan dalam Serat Wirid Hidayat Jati, namun kitab ini sejatinya juga berpangkal pada ajaran kesatuan wujud yang menjadi ajaran inti bagi penganut mistik Islam kejawen. Sehingga, apapun ajaran dan konsep mistiknya, semuanya selalu berpangkal pada konsep kesatuan wujud tersebut.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top