Siapa Perempuan yang Membesarkan Soekarno?

Rizki Amalia

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemakbulannya), yaitu doa orangtua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR Abu Daud).

Menjadi pemimpin yang disegani bukan hanya di Indonesia, namun juga di dunia, adalah hal yang luar biasa bagi seorang Soekarno. Namun, hanya segelintir orang saja yang menyadari bahwa kebesaran Soekarno di kancah global tak lepas dari pendidik utama dan pertamanya, yakni ibundanya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ibunda Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai atau Nyoman Rai Srimben atau Sosrodiardjo adalah perempuan kelahiran Buleleng, Singaraja, Bali. Perempuan yang diperkirakan lahir pada 1878 ini adalah keturunan Brahmana.

 

Sosrodiardjo lahir dan besar dalam lingkungan religius. Pernikahannya dengan R. Soekeni melahirkan seorang anak yang dia sadari sejak lahir akan menjadi putra sang fajar.

Hidupnya yang berat sebagai seorang istri dari guru Sekolah Rakyat yang bergaji kecil tidak membuatnya lalai dalam mendidik anaknya. Sekalipun harus bekerja menumbuk padi untuk kebutuhan hidup sehari-hari, Beliau selalu menyempatkan untuk mendidik Soekarno dan kakaknya melalui dongeng-dongeng penuh nilai yang beliau tuturkan dengan lemah lembut di malam hari.

Hubungan Soekarno dan ibundanya sangatlah dekat. Setiap kali hendak keluar negeri, Soekarno selalu meminta doa restu Beliau. Soekarno dengan hikmat bersujud di kaki ibundanya setiap kali berkunjung ke rumah orangtuanya di Blitar, Jawa Timur.

Baca juga:  Gus Dur, Ali Asghar dan Mie Instan Jepang

Ibunda Soekarno dikenal sebagai perempuan yang bersahaja. Beliau adalah perempuan yang suka tirakat, hidup sederhana dan tidak berlebihan. Dalam buku berjudul Ida Ayu Nyoman Rai: Ibu Bangsa karya Hendrowinoto, salah satu doa beliau yang membawa Soekarno menjadi orang besar dituturkan sejak Soekarno berumur 2 tahun.

 

”Nak, kelak kau akan menjadi pemimpin rakyat, karena engkau lahir jam setengah enam pagi. Anak yang lahir saat matahari terbit nasibnya telah ditakdirkan menjadi pemimpin. Jangan lupakan ucapan Ibunda bahwa engkau adalah Putra Sang Fajar,” doa ini beliau sampaikan dengan tulus dan penuh lemah lembut.

Meski jasanya dalam melahirkan dan mendidik Soekarno tak dapat diremehkan, Ibunda Soekarno tak pernah menginjakkan kaki di Istana Negara hingga akhir hayatnya. Beliau tetaplah perempuan yang rendah hati. Negara menjadikan beliau sebagai salah satu Pahlawan Nasional. Sosrodiardjo mengakhiri hidupnya pada 13 September 1958.

Di penghujung waktunya, Soekarno berkendak untuk dimakamkan di Batutulis, Bogor, Jawa Barat. Namun akhirnya keluarga memakamkannya di Taman Makam Pahlawan Blitar, Jawa Timur, di samping makam ibunya.

Ibunda Soekarno adalah contoh perempuan hebat yang rendah hati dan banyak tirakatnya sehingga doanya terkabulkan. Beliaulah perempuan yang membesarkan Soekarno yang namanya tak banyak dikenal. Namun kegigihannya dalam mendidik anak yang akhirnya dikenal orang seantero jagad adalah karya yang luar biasa.

Baca juga:  Panji Sakti: "Ngaji" Melalui Musikalisasi Puisi Religi
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top