Sedang Membaca
Puasa Orang-orang Beriman
Penulis Kolom

Ren Muhammad adalah pendiri Khatulistiwamuda dan penulis buku. Tinggal di Jakarta, menjabat Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno, serta Direktur Eksekutif di Candra Malik Institut.

Puasa Orang-orang Beriman

1 A Anak Puasa

Dari sekian banyak hewan di dunia fauna, ada ular dan ulat yang bisa kita jadikan pelajaran dalam menjalani laku puasa Ramadan. Secara gematria, para leluhur kita sepertinya sudah menemukan jawaban dari penamaan dua makhluk itu. Sama disusun dengan empat huruf. Dua huruf vokal, dan dua konsonan—yang bagian belakangnya cuma bertukar antara ‘r’ dan ‘t’. Nah, kajian kita kali ini akan coba mengupasnya sebaik mungkin.

Salah satu cara ular menjaga kelangsungan hidupnya adalah dengan berganti kulit secara berkala. Sementara untuk menjalankan ritus tersebut, ular tidak serta-merta bisa langsung menanggalkan kulit lamanya begitu saja. Tetapi ia harus berpuasa terlebih dahulu dalam kurun waktu tertentu.

Setelah puasa itu paripurna, kulit luarnya pun terlepas dan muncul kulit baru. Namun meskipun ia rajin berpuasa dan mengganti kulit secara periodik, ia tetap sebagai ular dengan tabiat dan kebiasaannya yang sama.

Sekarang kita berkenalan dengan sedulur ulat. Dalam kerajaan fauna, ia termasuk hewan yang rakus, karena hampir sepanjang usianya dihabiskan untuk makan. Tapi begitu sudah wayahnya bertugas menjadi ulat, ia akan berpuasa dengan mengasingkan diri. Menjauh dari sumber makanan, dan membungkus badannya dengan kepompong. Ia benar-benar berpuasa bukan sekadar menahan lapar dan haus semata, tetapi mulut, mata, dan anggota tubuh lainnya, juga turut berpuasa.

Setelah berpekan lamanya bertapa, maka keluarlah dari kepompong itu, seekor makhluk baru yang sangat indah, bernama kupu-kupu. Kini ulat telah malih bentuk, berganti kulit, dan mengalami perubahan drastis. Baik secara tabiat dan kebiasaannya.

Jika dua makhluk ini kita jadikan iktibar, maka muncul beberapa hal yang bisa dijadikan bahan renungan. Wajah ular sebelum dan sesudah puasa, tetap sama. Namanya juga tidak berganti. Apa yang ia makan, cara bergerak, tabiat, sifat sebelum dan sesudah puasa, juga sama.

Lain halnya dengan ulat. Wajahnya sesudah puasa, berubah indah memesona. Ia juga beroleh nama baru dari proses memeram diri itu. Jika sebelum puasa ia senang melahap dedaunan kering yang hampir layu, maka setelah menjadi kupu-kupu, ia boleh menghisap nektar (madu bunga/sari kembang). Ia pun tak lagi harus menjalar, dan sudah bisa terbang di angkasa. Hinggap dari satu bunga ke bunga lain, membantu penyerbukan. Memunculkan keindahan.

Pertanyaannya, jenis puasa siapa yang mirip dengan kita? Ular atau ulat? Sudah berapa tahun kita berkarir puasa Ramadan, sedangkan cara kita mengelola perut masih tak juga berubah? Butuh berapa Ramadan lagi untuk membuat kita insyaf bahwa menahan makan-minum selama sebulan penuh, mestinya sudah cukup menjadi bekal menjalani usia yang masih tersisa?

Jika disederhanakan, Ramadan boleh lah kita sebut sebagai bulan pelatihan, bagi begitu banyak Muslim yang sudah lintang pukang selama sebelas bulan lamanya—dan tak sempat mengangsu kawruh pada seorang kiyai untuk mendalami Islam. Menjadi wajar bila usai berlebaran, mereka yang belum lulus jadi orang bertakwa, kembali lagi ke pola hidup lamanya.

رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa pun kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690). Dalam hadits lain disebutkan pula sebuah teguran keras:

Baca juga:  Di Balik Spanduk Habib Rizieq Shihab

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

“Sesiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu mengamalkannya, maka Allah Ta’ala tidak membutuhkan puasanya.” (HR. Al-Bukhari no.1804).

Puasa yang kadung disalahpahami menahan lapar dan haus, jelas berakibat fatal pada ranah praktik. Soalnya adalah, macam mana caranya menahan lapar dan haus menyembul dari persemayamannya? Beda konsep dengan menahan diri untuk tidak makan-minum hingga waktu berbuka. Sebagian besar laku makan, biasanya berujung kenyang. Meskipun bukan makanan yang menimbulkan rasa kenyang itu.

Ada juga peristiwa makan berulangkali dalam sehari, yang tak menerbitkan kenyang. Pun begitu dengan minum, yang tidak sama dengan menghilangkan dahaga. Segar dalam kerongkongan juga tidak melulu berkaitan dengan peristiwa minum. Anda pasti pernah mengalami suatu hari berpuasa, tanpa banyak minum saat sahur. Tapi tidak kehausan sepanjang hari. Anda juga mungkin pernah mengalami minum segentong saat berbuka, tapi tetap saja kehausan.

Namun berdasar keawaman, makan itu karena lapar dan minum karena haus, maka kita bisa menarik benang simpul—bahwa hulu keduanya adalah keinginan. Mestinya dalam renjana inilah puasa disematkan. Ramadan sedang melatih kita terbebas dari belenggu keinginan: ingin untuk ingin, ingin untuk tidak ingin, tidak ingin untuk ingin, tidak ingin untuk tidak ingin. Karena keinginan merupakan sumber penderitaan. Panduan terkait ini bisa kita temukan dalam hadist yang berisi:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالَّرَفَث

“Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi puasa adalah menjauhi perkara yang sia-sia dan perkataan kotor.” (HR. Ibnu Khuzaimah no.1996)

Perkara sia-sia adalah perbuatan apa pun yang tak berdampak pada pertumbuhan jiwa kita. Dibanding tindak-tanduk perbuatan, ada dua hal dalam diri kita yang lebih sulit mengurusnya, yaitu: kebablasan saat berpikir yang berujung buruk, dan berlebihan dalam merasakan yang berdampak nelangsa. Mudah mencari contohnya. Anda melihat seseorang masuk ke dalam rumah makan pada siang hari Ramadan, dan seketika itu juga Anda memosisikan orang tersebut berada di tempat yang salah, sementara Anda lah yang benar, karena berpuasa.

Padahal bisa saja orang itu bukan Muslim, atau seorang Muslim pekerja kasar yang harus bekerja dengan mengandalkan tenaga besar. Jadi sangat mungkin sekali ia sedang mengambil rukhsah. Ada banyak contoh lain yang perlu Anda gali sendiri berdasar fenomena kehidupan kita dalam keseharian.

Upawasa

Jauh sebelum Islam berkembang di persada Nusantara, bangsa kita sudah punya ritus semacam puasa Ramadan. Serupa tapi tak sama. Secara etimologi, kita bisa memahami laku upawasa sebagai upaya merasakan kedekatan dengan Sang Hyang Widi Wasa. Allah Swt. Karena ia menyatu padu dengan makhluk, tapi bukan makhluk. Dia menggerakkan tapi tidak terlibat dalam perbuatan ciptaan-Nya. Summum Bonum. Islam menjelaskan perihal ini dengan istilah min hablil warid (lebih dekat dari urat leher).

Baca juga:  Arus Kencang Kesusastraan Kita

Leluhur kita berpuasa semata demi menahan gejolak keinginannya, dan untuk mengetahui sampai di mana mereka dapat mengatur kekuatan dalam dirinya. Bagi mereka, upawasa itu semacam perenungan dengan kebersatuan pikiran-perasaan yang penuh menyeluruh dalam kesadaran. Saat yang tepat untuk mawas dan memeriksa diri. Semua dilakukan berdasar niat dan tekad yang sangat pribadi. Bukan karena ajakan atau demi menghindari sangsi sosial.

Wajar bila ada begitu banyak jenis upawasa dalam masyarakat Jawa, misalnya. Dari yang sangat berat, ringan, hingga terkesan lucu.

Ada wetonan yang beda tipis dengan puasa Senin-Kamis. Kenapa? Karena Nabi Muhammad Saw sendiri yang ngendika, bahwa ia sedang memuasai hari lahirnya dan hari lahir sang ibunda, Aminah binti Wahb.

Kisanak pernah bertirakat pendem, pati geni, ngalong, ngrowot, mbisu, mutih, dan ngedan?

Khusus yang terakhir itu, seseorang yang sedang ngedan, akan terlihat seperti orang gila pada ghalibnya. Pergi ke mana saja tanpa tujuan, tanpa bekal apa pun. Makan apa saja yang ditemui, dan tidur di sembarang tempat. Namun hatinya tetap eling pada Hyang Mahakuasa. Sehingga ia tidak akan mengganggu, mengamuk, atau merugikan orang lain yang ditemui.

Lain cerita dengan orang yang sepertinya waras, tapi gila beneran, seperti orang yang sudah kaya-raya tapi masih menilap uang rakyat. Kelakuan itu kan sama dengan ‘kadang panas-kadang hujan, kadang waras-kadang edan.’

Syahdan. Salah seorang dari kami, pernah bercerita pengalamannya saat tapa ngedan. Kala itu malam sudah sangat larut. Hujan yang turun sejak sore belum juga mereda. Ia kelaparan, dalam kesendirian, dan kedinginan di emperan sebuah toko. Sementara tak jauh darinya, ada warung tenda yang sepi pengunjung. Di sana hanya ada pemilik warung dan beberapa orang wanita tuna susila.

Lantas salah seorang wanita itu menghampiri dan memberinya sebatang rokok yang sudah dinyalakan, beberapa kue, dan kopi hangat yang diseduh dalam bekas botol air kemasan. Melihat itu, kawan kami pun membatin, “Aku melihat jiwa yang sedemikian tulus dan indah di dunia yang sedemikian kelam, sehingga aku tak lagi punya keberanian menghakimi sesama makhluk Allah.”

Jauh hari sebelum Ramadan tiba, iklan minuman, makanan, obat maag atau lambung, termasuk mie instan, mulai berjejalan di depan mata kita. Seleb yang ngustadz pun tak mau ketinggalan jadi bintang iklannya. Kapitalisme mengkomodifikasi agama dengan janji surga. Umat Muslim yang kalap menyambut bulan suci pun, termakan hasutan tuk membeli barang dagangan mereka. “Toh setahun sekali saja kita begini…” kilah mereka.

Becermin dari perilaku banyak orang tersebut, sejatinya kita bisa menakar diri sendiri. Adakah kita turut meramaikan kegilaan musiman itu, atau malah kita yang turut menambahi kegilaan model baru di tengah masyarakat?

Sebagai pungkasan dari risalah ini, kami hendak mengajak sidang pembaca sekalian untuk bertanya ulang tentang awalan ayat puasa Ramadan yang termaktub dalam QS al-Baqarah [2]: 183, yang disusun dengan redaksi, “Ya ayyuhalladzina amanu: Duhai orangorang yang beriman…” Kenapa Allah tidak menggunakan kata aslamu saja, sebagai panggilan khusus untuk umat Muslim? Mungkinkah Anda menyahut jika yang dipanggil nama orang lain?

Baca juga:  Melihat Allah

Baiklah, bukankah dengan menjadi seorang Muslim, kita sudah sama dengan beriman kepada Allah, para Rasul-Nya, Kitab Suci-Nya, para Malaikat-Nya, Hari Akhir, Qadha (ketetapan) dan Qadar (ketentuan)? Sah saja jika memang itu yang Anda yakini. Tapi Al-Qur’an memberi petunjuk tentang siapa saja golongan manusia yang pantas disebut dengan orang beriman, yaitu:

Pertama, mereka yang tidak takut dengan penambahan dosa dan pengurangan pahala (QS. al-Jin [72]: 13).

Kedua, mereka yang tak diliputi rasa khawatir, dan tidak pula bersedih hati (QS. Yunus [10]: 62-63).

Keempat, “… mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. al-Anfal [8]: 2)

Kelima, orang yang khusyuk dalam sembahyangnya, orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya (QS. al-Mu’minun [23]: 1-11).

Keenam, “… sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar…” (QS. at-Taubah [9]: 71)

Ketujuh, mereka yang berjihad dengan jiwa dan hartanya (QS. al-Hujurat [49]: 13).

Ibn Mas’ud yang diridhai Allah, merumuskan sebuah kaidah dalam memahami ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan, “Hai orang-orang yang beriman,” bahwa setelah seruan itu adalah sebuah kebaikan yang Allah Swt perintahkan, atau sebuah keburukan yang dilarang. Perintah dan larangan itu diperuntukkan untuk kebaikan orang-orang yang beriman. Karena memang hanya mereka lah yang mampu berpuasa dengan baik dan benar.

Merujuk pada ciri-ciri di atas, nampaknya saya masih belum pantas disebut beriman. Lantaran hati saya baru bergetar bila mendengar lagi nama mantan terindah yang dibawa oleh angin. Saya juga masih terlampau khawatir dalam melakoni hidup sendiri. Terutama, mengkhawatirkan kekhawatiran tersebut. Bahkan saya masih tak yakin bakal masuk surga yang mana: Firdaus, Ma’wa, Na’im, ‘Adn, Darussalam, Darul Muqomah, Maqomul Amin, Khuldi, atau “Jannati (Surga-Ku),” sebagaimana yang difirmankan Allah dalam (QS. Al-Fajr [89]: 27-30).

Masih teramat banyak sesembahan palsu yang berselemak dalam pikiran saya, dan sebagian besarnya dipantik oleh kecenderungan untuk mencari aman sendiri—bukan demi kepentingan kemanusiaan. Padahal Islam dihadirkan di tengahtengah kita, untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Lantas kenapa kita begini rupa tingkah polahnya?

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan dan Allah membiarkan (mereka) sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran juga hatinya, dan meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkannya tersesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al Jatsiyah [45]: 23).

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top