Sedang Membaca
Ketika Gus Dur Menggambarkan Fisik Kiai Sahal
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ketika Gus Dur Menggambarkan Fisik Kiai Sahal

Ketika Gus Dur Menulis Kiai Sahal

Kiai Sahal dan Gus Dur bukan saja kolega sesama kiai yang punya pandangan mirip-mirip soal fikih, tapi juga punya kedekatan dari sisi kekeluargaan. Gus Dur yang lebih muda tiga tahun (lahir 7 September 1940/5 Sya’ban 1359) dari Kiai Sahal (lahir 17 Desember 1937/14 Syawal 1356 H) memanggil Kiai Sahal “Man Sahal”. Man ini panggilan ringkes “paman”. Semua cucu Kiai Bisri memanggil Kiai Sahal seperti itu, karena “urutan” nasab.

Kesamaan pandangan dan kedekatan dari sisi famili membuat Gus Dur berani “meledek” Kiai Sahal. Bagaimana Gus Dur meledek Kiai Sahal?

Gus Dur menulis mengatakan Kiai Sahal bertubuh kecil, kurus, perokok, dan batuk-batuk. “Beraninya” lagi, Gus Dur mengatakan itu bukan dalam obrolan ringan antarteman, tapi ditulis di media massa.

“Sebagaimana banyak terjadi pada kiai pesantren, Kiai Sahal Kajen adalah perokok kelas berat. Itu tidak hanya tampak pada rokok yang selalu dipegang dan diisapnya, tapi juga keadaan fisiknya: kurus-kering dan tenggorokan yang acap terkena penyakit batuk,” tulis Gus Dur.

Gus Dur memang tidak mengada-ada, ya begitulah kondisi fisik pamannya yang alim di bidang ilmu fikih ini. Namun Gus Dur menganggambarkan fisik tidak. Tapi menulis begitu tanpa niatan merendahkan, melainkan untuk kedekatan. Dan setelah itu, Gus Dur mendeskripsikan Kiai Sahal dalam bentuk pujian penuh, meski ada nada nasihat untuk tidak merokoknya.

Baca juga:  Salat Jumat di Gereja

“Kebiasaan merugikan itu mungkin datang dari ‘kebiasaan kiai’ untuk sedikit tidur dan berlama-lama dalam keadaan bangun. Kalau tidak untuk membaca kitab-kitab agama sendirian hingga larut malam, tentu untuk menemui tamu yang mengajak berbincang tentang banyak hal. Belum lagi kedudukan sebagai Sekretaris Syuriah NU Wilayah Jawa Tengah, yang membawa tambahan kerja rutin menerima tamu atau mengikuti rapat yang menghabiskan waktu,” tulis Gus Dur di esainya yang berjudul “Kiai Pencari Mutiara”, Majalah Tempo, 16 Oktober 1982.

Itulah cara Gus Dur berkomunikasi. Ia sangat cair, tidak formal, dan bahkan bisa bernada ledekan. Sangat manusiawi. Kedua tokoh kita ini punya hubungan yang hangat hingga akhir hayat. Gus Dur wafat lebih dahulu, 30 Desember 2009 atau 13 Muharam 1430 H, sementara Kiai Sahal wafat 14 Januari 2014 bertepatan dengan 25 Rabi’ul Awal 1435 H.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top