Sedang Membaca
Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (4): Masjid Qiblatain
Nasrullah Jasam
Penulis Kolom

Kepala Kantor Urusan Haji Indonesia, Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Menyelesaikan S3 di Universitas Abd. Malik Al Sa'adi, Maroko, bidang Sejarah Agama dan Peradaban Islam (2010).

Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (4): Masjid Qiblatain

Whatsapp Image 2022 08 02 At 23.20.59

Bagi umat Islam yang menjalankan ibadah umroh atau ibadah haji dan menyempatkan diri untuk berziarah ke kota Nabi SAW pasti tidak asing dengan Masjid Qiblatain, karena biasanya dalam program paket ziarah di kota Madinah salah satu tempat yang dikunjungi adalah Masjid Qiblatain.

Qiblatain dalam bahasa Arab adalah bentuk mutsanna yaitu kata yang menunjukkan bilangan dua seperti syahadatain yang berarti dua kalimat syahadat. Jika dalam bahasa Indonesia atau Inggris satu adalah bentuk tunggal dan dua ke atas adalah bentuk jamak, maka dalam bahasa Arab, ‘dua’ adalah ‘tasniyah‘ atau ‘mutsanna‘, tiga ke atas baru bisa disebut bentuk jamak. Inilah keunikan bahasa Arab, di samping jumlah kata gantinya (ضمير) lebih banyak dari bahasa lain, karena setiap kata ganti membedakan antara laki-laki dengan perempuan.

Qiblatain adalah bentuk tasniyah dari kata qiblah/kiblat, qiblatain artinya dua kiblat, Masjid Qiblatain adalah masjid yang memiliki dua arah kiblat. Disebut demikian karena di masjid inilah salah seorang sahabat yang sholat bersama Rasulullah menghadap Ka’bah berdasarkan perintah wahyu (al-Baqoroh: 144) memberitahukan kepada para sahabat lain yang sedang sholat bahwa kiblat sudah pindah dari masjid al-Aqsho ke arah masjid al-Haram maka saat itu juga mereka yang saat itu dalam posisi ruku’ berputar menghadap ke arah masjid al-Haram.

Baca juga:  Telaah Jaringan Tegalsari dalam Proses Islamisasi di Wilayah Madiun Selatan

Seperti di ketahui bahwa Baitul Maqdis sebelumnya menjadi kiblat umat Islam dalam menjalankan ibadah sholat kurang lebih selama 16 bulan. Selama itu pula orang Yahudi selalu mengejek Rasulullah SAW, “agama Muhammad berbeda dengan agama kita, akan tetapi dalam sholatnya menghadap kiblat kita, jika tidak ada agama kita tentunya Muhammad tidak akan mengetahui kemana ia akan menghadap dalam sholatnya”. Ejekan tersebut tentunya semakin menambah keinginan Rasulullah SAW untuk sholat menghadap Ka’bah, kiblat leluhur beliau, yaitu Nabi Ibrahim as.

Diriwayatkan bahwa beliau SAW. berkata kepada Jibril: “aku berharap jika Allah Swt memalingkanku dari kiblatnya bangsa Yahudi….”. untuk itu beliau SAW selalu menengadahkan wajahnya ke langit memohon kepada Allah Swt. dengan harapan akan turun wahyu yang berisikan perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah baitullah[1].

Sampai pada akhirnya turun lah ayat 144 surat al-Baqarah:

قد نرى تقلب وجهك في السماء فلنولينك قبلة ترضاها، فولّ وجهك شطر المسجد الحرام….

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram

Maka sejak saat itu, sholat tidak lagi menghadap ke arah Baitul Maqdis tetapi menghadap ke arah Masjidil Haram, dan menurut satu riwayat, sholat pertama yang menghadap ke arah Masjid al-Haram adalah sholat ashar dan peristiwa tahwil al qiblah (perpindahan arah kiblat) ini menurut pendapat sebagian besar ulama seperti yang dikatakan oleh Imam Thabari dalam kitab tarikh (sejarah) nya terjadi pada malam Nisfu Sya’ban. Kiranya di saat malam Nisfu Sya’ban yang penuh berkah, disamping kita memperbanyak sholat malam dan berdoa’a kepada Allah Swt sebagaimana yang di dicontohkan oleh Rasulullah SAW, ada baiknya kita juga mengingat dan merenungi peristiwa bersejarah ini. Semoga bermanfaat.

Baca juga:  Mencari Historiografi Islam Indonesia yang Mandiri

[1] Syaik Muhammad Ali ashôbuni, rawâ’i al bayân tafsir âyât al ahkâm, hal 107, Dârus salâm

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top