Sedang Membaca
Abu Nawas Mengajari Kita Menahan Diri
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Abu Nawas Mengajari Kita Menahan Diri

Mukhammad Lutfi

Pada suatu ketika, Abu Nawas enggan berkomentar pada pertanyaan yang diajukan kepadanya. Keengganan berkomentar yang dipilih Abu Nawas ini bukan tanpa dasar, melainkan memang ini di luar kemampuan dari Abu Nawas untuk menjawabnya. 

Kisah kali ini akan menceritakan bagaimana Abu Nawas memilih untuk menahan diri berkomentar ihwal permasalahan yang ia sendiri tidak tahu persis, dan menyarankan untuk menyerahkan permasalahan tersebut pada ahlinya. Ini ceritanya

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Alkisah, ketika Abu Nawas sedang duduk-duduk bersama teman-temannya di sebuah warung milik pedagang dari Baghdad, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiri Abu Nawas. Tanpa basa-basi laki-laki tersebut menanyakan ihwal permasalahan yang sedang ia alami.

“Wahai Abu Nawas, hari ini aku merasakan sakit yang begitu hebat di perutku, serasa usus dalam perutku robek tak karuan, apa kau bisa mengobatiku?” tanya laki-laki itu sambil meringis kesakitan.

Melihat si laki-laki kesakitan, Abu Nawas lantas bertanya “Apa yang telah kau makan kemarin sore?”.

Si laki-laki itu pun menjawab, “Aku tak makan apa pun kecuali beberapa butir gandum.”

Mendengar jawaban laki-laki tersebut, Abu Nawas tak mau berspekulasi dan berkomentar panjang ihwal sakit yang dialami si laki-laki tadi. Lantas Abu Nawas menjawab, “Sebaiknya kau pergi saja ke tabib, dan ceritakan tentang sakit yang kau alami padanya, dia lebih mengerti dan ahli dariku tentang penyakit.”

Si laki-laki yang sakit tadi pun pergi berlalu.

Ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari kisah Abu Nawas di atas, betapa menahan diri untuk berkomentar tentang sesuatu yang kita tidak tahu itu sangat penting, dan bahkan sangat bijak sekali, tentunya ini dalam rangka untuk menghindari kesalahan dan tidak mudah menyalahkan orang lain. 

Keputusan Abu Nawas yang tak mau berkomentar panjang ihwal permasalahan yang ia sendiri tidak tahu persis tak ubahnya sebuah kebijaksanaan sederhana untuk menghindari kesalahan beruntun yang mungkin saja bisa terjadi. Ini semacam cara sufi mengelola mentalnya dari tadbir usaha yang sia-sia. Bagaimana dengan Anda?

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top