Sedang Membaca
Sumur Ha’ (6): Airnya Sejernih Bunyi Huruf Hijaiyyah Itu
Penulis Kolom

Dosen di Unusia, Jakarta. Menyelesaikan Alquran di Pesantren Krapyak Jogjakarta dan S3 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Sumur Ha’ (6): Airnya Sejernih Bunyi Huruf Hijaiyyah Itu

Sumur Ha’ (6): Airnya Sejernih Bunyi Huruf Hijaiyyah Itu

Sumur Ha’ sekarang ini berada di dalam mesjid Nabawi di sisi utara dekat Ban al-Malik Fahd. Dahulu berada persis di depan mesjid, sehingga airnya yang sejernih bunyi huruf hijaiyyah Ha’ itu lebih banyak dikonsumsi dan digunakan bersuci oleh Rasulullah maupun para sahabatnya.

Sumur ini awalnya milik seorang sahabat bernama Abu Thalhah al-Anshari, salah satu anggota suku Khazraj. Beliau merupakan sahabat yang kaya raya, yang dikisahkan setiap pulang dari berdagang dari Syiria membawa rombongan anak buah laksana barisan karnaval. Namun setelah bergaul lama dengan Rasululullah Saw, sahabat ini berniat meninggalkan usahanya dan memilih menjadi manusia yang meniti jalan Allah Swt.

Salah satu kekayaan yang sangat dicintai Abu Thalhah ialah kebun kurma yang berada persis di depan mesjid. Di dalam kebun yang luas itu juga berdiri rumah yang ditinggalinya bersama istri bernama Ummu Salim bt. Milhan dan kedapatan sebuah sumur Ha’ yang airnya sangat jernih dan adem.

Dijelaskan dalam kitab al-Sirah al-Nabawiyah, bahwa Rasulullah dan para sahabat sering masuk dan berlindung dari terik matahari ke dalam kebun ini. Beliau juga sering mengadakan pertemuan dengan para sahabat di sini. Beliau juga sering tiduran di atas balai yang sengaja disedikan pemilik kebun ini.

Baca juga:  Ketika Mark Rutte dan Gus Dur Meminta Maaf: Refleksi atas Permintaan Maaf Belanda kepada Indonesia

Dalam satu riwayat disebutkan Ummu Salim terbiasa menadahi keringat dari tubuh Rasulullah dalam sebuah wadah. Keringat itu kemudian dipakainya sebagai campuran parfum karena aromanya sangat wangi. Ketika Rasululullah terbangun, istri Abu Thalhah itu terbiasa menyuguhkan air minum yang berasal dari sumur Ha’.

Sumur Ha’ pada akhirnya diwakafkan oleh Abu Thalhah ketika turun ayat “Tidak akan mendapatkan kebajikan sehingga (seseorang) mendermakan milik yang dicintainya”. Sahabat Abu Thalhah berdiri dan berkata kepada Rasulullah Saw: “Allah telah berfirman demikian dan sesungguhnya harta yang paling aku sayangi adalah sumur Ha’. Sekarang aku sedekahkan sumur itu. Aku mengharap kebajikannya dan Aku tabungkan kepada Allah. Jadi, ambillah airnya kapan saja kamu mau!” Kemudian Rasulullah Saw berkata: “Itulah harta yang tidak ada ruginya”.

Sejak itu air dari sumur Ha’ dimanfaatkan oleh masyarakat luas, termasuk oleh keluarga Rasulullah Saw, baik untuk konsumsi sehari-hari maupun untuk bersuci ketika hendak masuk ke dalam mesjid Nabawi.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top