Sedang Membaca
Ziarah Wali Maroko (1): Yusuf bin Ali dan Penyakit Kulit

Mahasiswa di Universitas Sidi Mohammad Ben Abdillah Fes Maroko. Pecandu teh susu, tapi kalau adanya kopi susu ya diminum juga. Berusaha menjadi pembaca yang baik sekaligus ingin menjadi pendengar budiman. Semoga menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia .

Ziarah Wali Maroko (1): Yusuf bin Ali dan Penyakit Kulit

305250c1 9e42 4ec3 A2e7 3f41dcc97f4d

Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Ali. Dia merupakan salah satu dari Saba’tur rijal yang menempati urutan pertama dalam rute ziarah yang telah disebutkan di awal.

Tidak banyak sumber dan referensi dari kitab-kitab tarajim yang mewartakan riwayat hidupnya secara lengkap. Bahkan tanggal kelahiran sosok agung ini tidak terlacak. Satu-satunya sumber utama paling awal yang mewartakan biografi singkat beliau adalah kitab At-Tasawwuf ila Rijali At-tassawwuf anggitan Yusuf bin Yahya At-Tadili, atau yang mashur dikenal dengan Ibnu Az-Zayyati.

Buku Kiai Said

Kitab ini merupakan kitab babon yang menghimpun biografi para auliya dan arifin yang tersebar di wilayah Barat Islam. Banyak tokoh-tokoh sufi besar yang tercatat di dalamnya, seperti Abu Madyan Al-Ghoush (w 594), Abu Ya’za Yalnur (w 572 H), Abul Hasan Ali Hirzihim (w 559 H) dan para auliya dari suku Berber atau Amazigh.

Kitab ini terbit pertama kali pada tahun 1958 atas kajian manuskrip yang dilakukan oleh Adholpe Faure. Dalam terbitan ini, ditemukan banyak kesalahan, mulai dari kesalahan ketik, penukilan, penisbatan nama dan tempat, serta atas usulan Dr. Muhammad Hajji kitab ini ditahqiq ulang oleh Dr. Ahmad Taufiq yang kini menjabat menteri wakaf dan urusan agama islam kerjaan Maroko dan diterbitkan oleh Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Muhammad V, Rabat. Menjadikan kitab ini sebagai referensi penting dalam khazanah keilmuan dunia barat islam, terutama di bidang tasawuf.

Kesabaran Sang Wali

Beberapa informasi terkait Yusuf bin Ali dalam penuturan Ibn Az-Zayyati, bahwa ia dijuluki Al-Mubtali, orang yang tertimpa musibah. Disebutkan bahwa Yusuf mengidap penyakit al-judham, sejenis kusta akut yang menyebabkan beberapa bagian tubuhnya mengelupas dan berjatuhan.

Ibn Zayyati sering menemui Yusuf bin Ali dan menyaksikan sendiri betapa kehidupan sang wali penuh dengan kepapahan, tapi tidak mengurangi sedikit pun rasa cintanya terhadap manusia. Dalam keadaan sakit keras, ia sering membuatkan jamuan makan untuk orang-orang fakir di sekelilingnya sebagai tanda syukur kepada Allah swt.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Gaya “Ngemong” KH M. Hasyim Asy’ari

Ada pembahasan menarik terkait penuturan Ibn Zayyati dalam kitabnya At-Tasyawuf. Ia menyifati Yusuf bin Ali dengan as-shabir dan ar-radhi di mana keduanya, menurut pandangan ahli tasawuf, adalah dua maqam yang berbeda.

Imam Al-Yafi’i menjelaskan makna keduanya sebagai berikut: Pertama, As-shabir adalah maqam di mana seseorang dicoba dengan musibah dan sabar tapi tidak senang atas cobaan yang menimpanya. Sebaliknya, Ar-radhi, ia diberi cobaan, sabar dan menerima segala ketentuan tuhan dengan bahagia.

Kedua, As-shabir ialah tatkala seorang hamba sabar atas bala yang menimpanya dan dia punya keinginan kuat agar malapetaka yang menimpa segera lenyap dari dirinya. Sebaliknya, Ar-radhi, tidak menginginkan bala hilang dari dirinya, karena pada dasarnya ia menganggap bahwa cobaan adalah karunia tuhan. Dan hanya Allah lah yang berhak mencabut segala kepayahan yang ia alami.

Kritik atas kontradiksi Az-Zayyati ini dikemukakan oleh Muhammad As-Shagir Al-Ifrani (w 1140 H) dalam kitabnya Ad-Durarul Hajjal fi Manaqib Sab’atir Rijal. Ia berpendapat jelas bahwa Imam Yusuf bin Ali berada di maqam ar-radhi bukan sebaliknya.

Suatu ketika, Imam Ibnu Arabi Al-Hatimi ditanya, “Sungguh Allah mencintai para nabi dan kekasihnya. Bagaimana seorang kekasih menyiksa yang dikasihi dengan sangat pedih. Serta atas dasar apa hal itu terjadi padahal statusnya mereka adalah yang kinasih?”

Kemudian Ibnu Arabi menjawab, “Kalian pasti tahu, bahwa Allah mencintai para nabi dan auliya, begitu pun sebaliknya. Tentu malapetaka tidak akan terjadi tanpa adanya dakwaan (bahwa mereka mencintai Allah). Setiap dakwaan harus ada bukti. Tatkala Allah mencintai seorang hambaNya. Maka Allah tumbuhkan mahabbah dari sisi yang tak diketahui hambaNya.

Lantas siapa saja yang mendakwa bahwa ia mencintai Allah, maka Allah uji dengan bala dan malapetaka atas dasar dakwaan mereka. Begitu pun tatkala Allah menganugerahi nikmat dan karunia. Maka karunia itulah lambang dari mahbubiah Allah kepada hambanya yang mendaku diri sebagai muhibbin. Dan para pecinta sejati menganggap bahwa bala dan musibah tersebut sebagai bukti dari dakwaan mereka, yaitu mahabbah kepada Allah yang maha kasih.”

Baca juga:  Melacak Nama Kiai Abdul Wahab Turcham dari Surabaya

Guru dan Ajaran

Sangat sedikit referensi yang meyebutkan silsilah keilmuan Imam Yusuf bin Ali secara detail. Az-Zayyati hanya menyebut bahwa Yusuf adalah murid dari pada sufi besar Abu Usfur Ya’la bin Wein Yufan (w 583 H). Sementara Abu Usfur merupakan murid dari sufi agung Abu Ya’za Yalnur yang telah disebut di atas.

Bisa dibilang, Yusuf bin Ali tidak pernah keluar kota Marakesh. Ia hanya berada di sekitar distrik bernama Al-Judhama’ dan tinggal satu daerah dengan gurunya. Dengan gurunya inilah ia menimba ilmu agama, meniti jalan spiritual, serta mengambil tarekat yang sambung kepada Abu Ya’za. Tidak disebutkan bahwa Yusuf bertemu dengan Abu Ya’za yang juga guru dari Abu Madyan Al-Ghous.

Inti dari ajaran Imam Yusuf bin Ali adalah at-taladdhudh bil bala’. Menikmati segala cobaan yang datang dengan lapang hati dan riang gembira. Mungkin benarlah firman tuhan, la khofun alaihim wa la hum yahzanun. Mereka tak pernah takut dan tak pernah bersedih hati.

Ketika kita membaca sejarah hidup para wali, tentu kita akan menemukan berbagai kisah karomah atau keramat, yang Allah berikan kepada para kekasihNya. Baik itu berada dalam nalar dan cara pandang manusia normal, atau yang khoriqul adah atau nulayani adat.

Begitu pun saat membaca kisah hidup Yusuf bin Ali. Az-Zayyati meriwayatkan bahwa ia mendengar Yusuf bin Muhammad berkata: Tatkala saya menunaikan shalat jumat di masjid Al-Qasr Al Jadid (yang dibangun pada tahun 591 H). Tiba-tiba Abul Abbas Al-Kharraj pingsan. Beberapa saat kemudian ia sadar dan sontak berkata, “Saya melihat Abu Yaqub telah wafat.”

Kemudian kami bergegas menuju rumah Yusuf bin Ali di kawasan Al-Ajdham. Kami pun masuk ke dalam rumahnya. Ketika hendak bersalaman, Abu Yaqub langsung berseloroh, “Apakah engkau melihatku meninggal dalam mimpimpu?”

“Ya.”

Lalu Abu Ya’qub menjawab, “Umurku tersisa..” sambil memberikan isyarat dengan jarinya yang bermakna 40 hari. Kemudian mereka pamit.

Baca juga:  Ngaji Rumi: Beragama dengan Gembira

Setelah genap 40 hari, tepat pada hari itulah Imam Yusuf bin Ali meninggal dunia. Yaitu pada bulan Rajab tahun 593 H. Dikuburkan di luar Bab Agmat di di dalam gua tempat ia menghabiskan sisa umurnya.

Beberapa kali, saya sempat menziarahi makam Imam Yusuf bin Ali ini. Komplek pemakaman yang bagus dan bersih. Ditambah beberapa kuncen yang mengaku masih keturunan beliau, ikut menjaga agar kuburan ini tetap bersih dan nyaman dikunjungi.

Uniknya, makam Imam Yusuf bin Ali yang di atasnya dibangun kubah dan ditutup kain hijau, ternyata dalamnya bukan langsung tanah. Melainkan terdapat ruang bawah tanah yang sudah dikeramik dan terdapat tangga yang menghubungkan antara tempat ziarah dan ruang bawah. Hanya orang tertentu yang bisa masuk ke dalam, tentunya atas seizin kuncen yang menjaga.

Ternyata rasa penasaran saya akan keunikan makam tersebut terjawab setelah membaca catatan Al-Ifrani mengenai letak dan riwayat pemugaran area pemakamam sang imam. Berikut saya kutipkan:

Tatkala Imam Yusuf bin Ali Wafat, banyak orang yang mengiringi jenazah sang imam. Mereka berkumpul menuju depan lobang goa. Para pelayat beramai-ramai turun ke lobang melalui tangga dengan kondisi yang gelap. Hanya sedikit sekali bangunan yang dibangun kala itu.

Pada kisaran tahun 1134 H atau 1721 M terjadi banjir bandang yang menimpa kawasan itu. Gelombang besar masuk ke dalam goa dan masjid. Rumah-rumah di sekitaran gua roboh dan rusak. Banyak harta yang lenyap.

Setelah musibah itu, wali kota Marakesh mengeluarkan kebijakan untuk memugar komplek pemakaman sebagai bentuk penghormatan. Dibangunlah kubah yang kokoh dan makam pun digali lebih dalam. Lalu dibuatlah tiang penyangga makam serta tangga penyambung antara ruang atas dan makam yang berada di bawah tanah. Agar siapa saja yang ingin ziarah bisa dari atas, atau jika ingin masuk ke makam bisa menuruni tangga. (RM)

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Casabanca, Jumat 06 Maret 2020

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top