Sedang Membaca
Wawancara dengan Pak AR 37 Tahun Silam: Dari Asas Tunggal, Regenerasi hingga Tajdid 1918 
Penulis Kolom

Alumni Pesantren Tarbiyatul Mubtadiin, Danawarih, Balapulang, Tegal dan Alumni Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah, Kambangan, Lebaksiu, Tegal.

Wawancara dengan Pak AR 37 Tahun Silam: Dari Asas Tunggal, Regenerasi hingga Tajdid 1918 

Foto Pak Ar

Abdur Rozak Fakhruddin atau akrab disapa Pak AR merupakan sosok ulama Muhammadiyah yang sangat ramah dan bersahaja. Beliau lahir pada 14 Februari 1916  di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta. Beliau merupakan putera dari  pasangan sang Penghulu Puro Pakualaman KH. Fakhruddin dan ibu  Maimunah binti K.H. Idris Pakualaman.  Dalam sejarah  permuhammadiyahan beliau merupakan pemimpin PP Muhammadiyah terlama  (1968-1990).

Pada tahun 1985, dalam suasana yang hangat penuh dengan keakraban Pak AR berkenan untuk diwawancarai oleh Supardji dan Eddy Heraldi dari Panjimas mulai dari hal Asas Tunggal, Regenerasi hingga Tajdid 1918. Dua tahun sebelumnya, atau tepatnya tahun 1983 Nahdlatul Ulama dalam Munas NU Desember 1983 di Situbondo menerima Pancasila sebagai asas NU, yang kemudian pada Muktamar 1984 di tetapkan sebagai salah satu poin dari hasil Muktamar NU 1984.

Lalu bagaimana tanggapan Pak A.R tentang Asas Tunggal sebagai ideologi dalam organisasi Muhammadiyah? Bagaimana juga tanggapan beliau atas isu regenerasi dan tajdid 1918  dalam organisasi dengan bendera warna hijau yang diselimuti dua kalimat syahadat tersebut? Berikut saya tuliskan kembali hasil wawancara dari Supardji dan Eddy Heraldy –yang sudah saya sunting pada bagian pertanyaannya–  yang pernah dimuat oleh Panjimas No.488  – Tahun XXVII 28 Rabiul Awal 1406 H atau 11 Desember 1985, dan berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana tanggapan Pak AR tentang Asas Tunggal dalam tubuh Muhammadiyah?

Soal itu saya belum bisa memberi komentar. Konsep saya pribadi selaku PP. Muhammadiyah tentang bagaimanakeputusan menerima atau menolak asas tunggal, juga saya tidak mau menggambarkan. Sebab dalam organisasi sendiri mungkin suadara sudah tahu, itu tidak boleh. Jadi, ya tunggu keputusan di Muktamar.

Baca juga:  Ulama Banjar (94): KH. Ahmad Nabhan Rasyid

Lalu soal regenerasi dalam organisasi yang Pak AR pimpin, itu bagaimana polanya, dan apakah  Pak AR keberatan dengan adanya regenerasi dalam tubuh Muhammadiyah? 

Regenerasi itu memang sudah ada dalam pikiran kami, dan itu nanti akan dikemukakan di Mukatamar. Hanya memang tidak sembarangan misalnya siapa-siapa orang muda yang nanti akan duduk. Tidak sembarangan masuk. Misalnya saudara yang dicalonkan, itu mesti dilihat dulu siapa saudara; apakah saudara memang bersedia dicalonkan; apakah saudara dipandang mampu; bagaimana keterlibatan saudara selama ini pada Muhammadiyah –itu nanti masuk dalam daftar panitia dan diputuskan.

Sebenarnya tidak betul kalau dikatakan kami keberatan memasukan orang-orang muda. Saya pernah memberikan kesempatan kepada seorang muda. “Bapak saja yang maju, nanti saya di belakangan.” Tapi eh … orang muda itu, sepertinya takut atau minder dengan orang tua. Kaderisasi ada. Semisal saudara Amien Rais, itu anak kita sendiri wong dari IMM-nya di solo (Red) – seperti juga Syafi’i Ma’arif, juga dari Muallimin. Apa latar belakangnya mungkin karena mereka pegawai negeri atau alasan lainnya? Sedangkan terus terang saja, memang Muhammadiyah belum bisa menjamin, misalnya berapa harus digaji seperti pegawai negeri. Itu sampai sekarang Muhammadiyah belum bisa sebagai organisasi wiraswasta. Itu juga menjadi pemikiran kami –atau terus terang, saya lah dalam hal ini.

Saya pernah memanggil profesor Mubyarto untuk membicarkan itu. Yang pertama ditunjuk Mubyarto adalah memang soal profesi. Muhammadiyah harus ditangani oleh orang-orang yang profesional, yang full time menanganinya. Sekarang Cuma amatir-amatiran saja. Sambil lalu, mislanya nyambi jadi pegawai negeri yang tentu saja waktunya tidak cukup. Tidak seperti bapak-bapak dahulu.

Baca juga:  Mbah Rusmani, Santri Pendiri NU dari Wonogiri, Berpulang

Tentang tajdid 1918, menurut  Pak AR apakah hal tersebut masih relevan?

Tajdid itu sesungguhnya watak dari Islam itu sendiri. Jadi bukan watak Muhammadiyah. Yang jumud itu watak-wataknya orang musyrik. Islam itu mesti tajdid, memperbarui. Ada hal dalam Islam yang memang, ibadat formal; kalau boleh saya katakan, seperti shalat, itu memang dogmatis. Tapi dalam soal muamalah, tajdid itu, ya, watak Islam. K.H. Dahlan sendiri mulai ‘berangkat’ sudah tajdid.

Tentang PP Muhammadiyah yang di Yogya, itu respons Pak AR seperti apa dan bagaimana ?

Kita ini, seklek betul, juga tidak bisa. Bagaimanapun juga kekeluragaan itu mesti ada. Dulu, kalau di Jakarta itu Cuma kantor perwakilan. Setelah pemilihan ternyata fiftyfifty; yang di Jakarta separo, yang di sini  separo. Nah di sana (Jakarta) dijadikan perwakilan, tidak mau, toh – mungkin karena lebih berbobot, karena lebih banyak orang Doktor, SH  dan sebagainya. Nah, ahirnya, begini saja: Yogyakarta soal-soal organisasi, yang berhubungan dengan cabang dan ranting. Sedang di Jakarta berhubungan dengan luar; pemerintah, organisasi-organisasi luar negeri; dan organisasi-organisasi nasional lainnya.

Dalam hal amal usaha Muhammadiyah, mulai dari pendidikan, hingga rumah-rumah sakitnya itu kabarnya semakin komersil, untuk hal ini tanggapan Pak AR bagaimana?

Baca juga:  Pujangga Kesusastraan Islam Jawa (4): Ronggasasmita: Pujangga Keraton dari Tarekat Sattariyah

Sebenarnya, tidak juga. Coba saudara bandingkan dengan pendidikan di UII atau di Al Azhar (Jakarta), yang katanya, memasukkan anak TK saja harus membayar ratusan ribu. Soal rumah sakit, tidak jarang ini berhubungan dengan gengsi. Ada seorang yang merasa bangga jika melahirkan di PKU, meskipun biayanya mahal. Dan tentu saja, itu diimbangi dengan servis.

Pokoknya semua kritik atau saran yang selama ini muncul, akan kami bicarakan di Muktamar. Termasuk keberanian meninggalkan tradisi lama –yang dalam taraf-taraf tertentu bertentangan dengan semangat tajdid itu sendiri– yang ada pada Muhammadiyah. Misalnya (selain tradisi “Hitam-Putih”, yang menurut Peunoh Dali memang sudah dipolakan) tradisi untuk tidak berapresiasi pada pola pemikiran yang bersifat liberalistis (filsafat) dan pada pemikiran tasawuf. Padahal dengan mengapresisi pada dua pemikiran ini sebagaimana dikatakan Mukti Ali, “hal itu akan lebih menggugah intelektualisme Muhammadiyah.”

Itulah hasil wawancara yang dilakukan oleh  Supardji dan Eddy Heraldy dari Panjimas kepada Pak AR yang saya tulis ulang dari majalah Panjimas No.488  – Tahun XXVII 28 Rabiul Awal 1406 H atau 11 Desember 1985 halaman 26-27.  Pak AR sendiri wafat pada pada Jumat 17 Maret 1995 di Jakarta, kemudian jenazah beliau diterbangkan dengan menggunakan pesawat Hercules ke Yogyakarta dan disumarekan di “kampung pesarean” Purwangan, Yogyakarta.

Kagem Pak AR, kula ndhèrèk naksèni, bilih panjenengan menika tiang ingkang saè, mugi swargi langgeng kanggè panjenengan. Amin…

Linnabi lahul fatihah …  

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top