Sedang Membaca
Inilah Pedang Nabi Muhammad yang Berasal dari Nusantara
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Inilah Pedang Nabi Muhammad yang Berasal dari Nusantara

Kholili Kholil

Bangsa Arab dan Nusantara sebenarnya sudah lama saling berhubungan dalam perdagangan internasional. Bahkan tercatat sejak sebelum tahun seribu Masehi keduanya sudah saling berhubungan. Selain rempah-rempah, ada satu komoditas yang cukup penting dalam percaturan perdagangan internasional pada masa itu, yakni senjata tradisional.

SQ Fatimi sempat merekam perdagangan senjata Arab-Nusantara dalam papernya yang berjudul Malaysian Weapons in Arabic Literature. Namun karena beberapa hal, peristiwa ini tak terekam secara meluas dalam khazanah historiografi Nusantara.

***

Dalam Tarikhul Muluk wal Umam, Thabari sempat merekam kejadian berikut:

“Ketika menaklukkan Bani Qainuqa’, Rasul saw mendapatkan tiga pedang: pedang Battar, pedang Qala’i, dan pedang Hatf.”

Memperkuat hal ini, Mubarak Ibnul Atsir mencatat dalam an-Nihayah bahwa Nabi saw pernah bersabda:

وأسيافنا قلعية

“Pedangku berjenis Qala’i.”

Pedang Nabi saw memang ada banyak. Selain Zulfikar yang masyhur itu, ada beberapa pedang lain yang beliau miliki. Seperti pedang Rasub, Ma’tsur, Qadhib dan lain-lain. Namun kita fokuskan pembahasan kali ini pada pedang Qala’i.

Pedang Qala’i memang sangat masyhur dalam kesusasteraan Arab. Abu ‘Ali al-Qali merekam dalam majelisnya yang kemudian dibukukan menjadi Al-Amali bahwa Gubernur Basra Mujasyi’ bin Mas’ud pernah membuat sayembara gulat dengan hadiah pedang Qala’i, di samping juga sejumlah uang, kuda, dan budak yang ahli membuat roti. Sayembara ini kemudian dimenangkan oleh ‘Amr bin Ma’dikarib. Ia pun mendapat pedang Qala’i.

Tak heran jika penyair-penyair Arab kuno mengagumi kualitas pedang yang terbuat dari timah ini. Bahkan Nuwairi dalam magnum opus-nya yang berjudul Nihayatul Irbi merekam satu peribahasa bagus:

إن السيف متى قُلِّعَ بالهند وطبع باليمن فناهيك به

“Jika pedangmu sudah di-qala’i-kan di Hind dan dibuat di Yaman, maka lengkap sudah hidupmu.”

Qulli’a bil Hind?

Di-qala’i-kan di Hind?

Hind? Hmm..

Baca Juga

Baca Juga:  Alquran dan Peradaban Nusantara

Dalam tarikh Arab, Hind memang cukup fenomenal dalam urusan senjata. Kemasyhuran pedang Muhannad (مُهَنَّد, secara harfiah berarti di-Hind-kan) adalah satu bukti tentang kualitas pedang “Hind”. Namun dalam pembahasan Qala’i kali ini, manakah yang dimaksud Hind tempat asal pedang Qala’i milik Nabi ini?

Beruntungnya, Qazwini dalam Atsarul Bilad memberitahu kita tentang asal-usul pedang Qala’i dari catatan seorang utusan Dinasti Samaniyah yang pergi menuju Tiongkok pada tahun 942. Utusan itu bernama Mus’ir bin Muhalhil. Ketika menjelaskan sebuah kota bernama Kalah (كله, di masa kini dikenal dengan nama Klang di Malaysia) di Selat Malaka dekat Sumatera, Qazwini mengutip catatan Mus’ir:

“Kota Kalah adalah tempat dibuatnya pedang Qala’i. Pedang Qala’i adalah pedang luar biasa dari Hind. Kota Kalah adalah satu-satunya tempat di dunia dimana pedang Qala’i dibuat.”

Jadi nama pedang Qala’i merupakan arabisasi dari nama kota Kalah. Mengenai lokasi Kota Kalah, catatan tua dari Sulaiman dari Siraf tentang Kerajaan Zabag memberi kita sebuah gambaran yang cukup bagus:

“Di antara kota kekuasaan Maharaja Zabag adalah Kota Kalah. Sebuah kota yang tepat berada di tengah Arab dan Cina. Kota Kalah memiliki luas 80 farsakh. Dan kota ini memiliki banyak komoditas, di antaranya adalah gaharu, kamper, cendana, gading, dan timah khas Kalah (raśāś al-qala’ī).”

Timah Kota Kalah (bandingkan kata Kalah dengan nama-nama kota berawalan Kuala seperti Kuala Namu atau Kuala Lumpur) memang sangat terkenal di masa itu. Salah satu hadis di Sahih Bukhari menyebut adanya tombak berjenis ānuk yang digunakan para Sahabat Nabi saw. Tombak ini ditafsiri oleh Ibnul Jauzi—sebagaimana dikutip Ibnu Hajar—sebagai tombak timah dari Kalah (min ar-raśāś al-qala’i). Jadi timah dari Nusantara kualitasnya sangat terkenal masa itu.

***

Maka bisa disimpulkan bahwa pedang Qala’i milik Rasul saw adalah pedang yang berasal dari Kota Kalah yang pada abad ketujuh berada dalam genggaman Maharaja Sriwijaya (Zabag). Wallahu a’lam.

Lihat Komentar (0)

Komentari