Sedang Membaca
Sapiens dan Pelajaran Bahasa Nabi Adam
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sapiens dan Pelajaran Bahasa Nabi Adam

Irfan L Sarhindi

Tujuh belas tahun yang lalu ketika saya masuk SMP, teori evolusi Darwin adalah teori paling dibenci. Bukan semata karena ia ‘berseberangan’ dengan narasi penciptaan Nabi Adam dalam Alquran, tetapi juga pada bagaimana kami tidak berdaya untuk meng-counter.

Para guru Biologi seperti tidak punya pilihan selain mengajarkan, kami mendengarkan sambil diam-diam menggerutu tentang kenapa pemerintah tidak menolak teori itu padahal kita kan muslim?

Semoga di ujian akhir semester nanti tidak ada pertanyaan tentang asal-muasal manusia karena kami khawatir akan menjadi murtad.

Di SMA setali tiga uang: teori Darwin tetap diajarkan secara setengah hati, para guru juga seperti tidak punya bantahan yang memuaskan. “Untunglah” pada saat itu ada Harun Yahya, ilmuan Muslim asal Ankara, Turki, yang dengan gagah berani menentang semua teori evolusi Darwin dan menulis berjilid-jilid buku tentang bagaimana sebetulnya alam semesta dan manusia didesain oleh Allah menurut perspektif Islam.

Bagi kalangan awam beremosi labil di tengah ketidakjelasan standpoint para guru Biologi, Harun Yahya adalah pahlawan. Semakin heorik ia ketika kami mengetahui bahwa ia mengorbankan harta warisannya demi jihad saintifik ini.

Barulah kemudian perspektif saya tentang Harun Yahya agak bergeser terutama karena sejumlah temuan dan kritik, walau saya masih menganggap perdebatan ihwal asal-muasal manusia itu ‘belum selesai’—dan tidak perlu harus selesai karena pemahaman kita memang terbatas, bukan? Itu sebabnya ketika saya diperkenalkan pada Sapiens karya Yuval Noah Harari saya menjadi sangat antusias. Buku ini, bagaimanapun, seperti menawarkan titik temu antara Darwinisme dengan narasi penciptaan Adam walau bisa jadi Harari tidak bermaksud melakukan itu. Tetapi, bagaimana bisa?

Baca juga:  Harapan pada Petir 

Dalam pemahaman saya yang sederhana, narasi penciptaan Adam yang dijelaskan dalam surah al-Baqarah memuat cerita tentang ‘makhluk-makhluk sebelum Adam’ yang juga berlaku maksiat dan menumpahkan darah. Tafsir Jalalain menyebut makhluk-makhluk ini dari golongan jin yang kemudian ‘dibinasakan’ Malaikat atas perintah-Nya: dilemparkan ke gunung-gunung, ke pulau-pulau. Bagaimana jika, saya bertanya-tanya, makhluk-makhluk sebelum Adam ini adalah spesies lain dari homo semisal Homo Rudolfensis, Homo Erectus, dan Homo Neanderthalensis?

Menurut Harari, spesies homo tadinya ada beragam hingga Sapiens melakukan genosida. Sapiens menjadi spesies manusia tunggal yang menganak-pinak dalam pelbagai varian ras. Tetapi asumsi nakal tersebut memang perlu pembuktian karena banyak pertanyaan tersisa yang belum terjawab.

Misalnya, heteorgenitas spesies homo dalam tulisan Harari dipersepsikan sebagai hidup di zaman yang sama sedangkan narasi al-Quran tentang penciptaan Adam mengesankan perbedaan ‘zaman’. Protes Malaikat atas dipilihnya Adam sebagai khalifah mengisyaratkan ‘telah selesainya’ era khalifah pra-Adam.

Tetapi, ada hal menarik lain dalam buku Sapiens dan itu mungkin berkaitan dengan kemanusiaan kita—kemanusiaan Adam, terutama. Apa itu? Harari, sebagaimana para ulama dalam Islam, meyakini bahwa manusia pada dasarnya adalah binatang.

Tetapi manusia bertransformasi menjadi puncak rantai makanan karena manusia mengalami revolusi kognitif melalui perantara bahasa. Akibatnya, manusia dapat menjelaskan, menganalisa, dan memformulasi ide-ide abstrak, narasi-narasi fiktif, yang menggubah keseluruhan konstalasi semesta dunia.

Baca juga:  Membayangkan Dunia Tanpa Fakta

Harari sendiri mengakui kebingungannya ihwal bagaimana revolusi kognitif harus senantiasa berkaitan dengan bahasa tetapi jika kita tarik ke ranah filsafat bahasa, kita akan menemukan pendapat yang pelik dan retorik ini: manusia mencapai kemanusiaannya dengan bahasa, tetapi untuk bisa berbahasa manusia harus mencapai terlebih dahulu kemanusiaannya. Jadi mana yang dimulai dan dipicu: kemanusiaan dulu atau penguasaan bahasa dulu? Tidak ada jawaban clear yang disepakati, persis seperti mana yang lebih dulu: ayam atau telur?

Baca Juga

Padahal, bahasa memang bertanggungjawab atas kemampuan manusia berpikir secara kompleks karena bahasa membantu menjembatani dan menerjemahkan apa-apa yang kita pikirkan, analisa, dan formulasikan di dalam mind (benak) kita. Bahasa membantu menjawab paradox Mano-nya Plato—paradoks yang bercerita ihwal bagaimana manusia bisa tiba dalam pemahaman yang kompleks padahal yang ia lihat dan alami hanya serentetan pengalaman, stimulus, dan ide-ide sederhana dan faktual.

Lebih lanjut bahasa diyakini menjadi fundamen pembentukan identitas manusia. Kenapa? Karena bahasa membantu cara dan pola berpikir manusia, sedangkan cara dan pola berpikir ini akan menegaskan karakter kemanusiaan kita.

Jika ditarik ke dalam konteks keilmuan Islam, jelas sekali peran yatafakkarun dan bahasa ini menjadi aktivitas akal (yang kadang didefinisikan sebagai perpaduan antara otak dan qolbu). Sedangkan akal adalah garis pemisah antara binatang dan manusia. Secara sederhana: manusia adalah binatang berakal yang dengan akalnya mampu menanggalkan kebinatangannya.

Baca juga:  Newt Scamander dan Mazhab Sihir Wasatiyah

Dan instrumentalitas bahasa inilah sepertinya yang coba dijelaskan Allah dalam al-Baqarah 31 di mana Allah mengajari Nabi Adam ‘nama-nama’ (asmaa), baik nama benda mati maupun hidup sebagai salah satu bukti kepantasan Adam menjadi wakil Allah di muka Bumi. Mulanya saya menduga-duga bahwa pelajaran nama-nama ini sesederhana pelajaran ‘nama-nama latin’ ala pelajaran Biologi saat SMA. Tetapi kemudian saya mengerti bahwa pelajaran nama-nama ini jauh lebih kuat ketimbang menghafalkan nama-nama benda: ia adalah pelajaran berbahasa, pengajaran konstruksi berbahasa.

Dan karena ia adalah pelajaran bahasa, maka ia menjadi pemicu proses pendayagunaan akal, proses berpikir dan menganalisa, proses bertransformasi (atau berhijrah) dari binatang menjadi manusia dengan segala keterbatasan kemanusiaannya.

Dan bukankah proses itu yang menjadi motor utama revolusi kognitif yang bergerak kepada revolusi-revolusi lain mulai dari revolusi pertanian hingga revolusi sains? Dari pendomestifikasian gandum hingga penemuan mobil otonom ala Google? Dari kehina-dinaan sperma menjadi sombong menahun karena merasa bisa ‘merebut otoritas’ Tuhan melalui rekayasa saintifik hingga jangankan kematian, kiamat pun dapat dikalahkan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top