Sedang Membaca
Gerakan Dakwah Kaum Alawiyyin di Lombok

Alumni Pascasarjana UGM, Penikmat Sejarah dan Tasawuf asal Jakarta.

Gerakan Dakwah Kaum Alawiyyin di Lombok

Baa Alawy di Lombok (Gerakan Dakwah, Pendidikan dan Sosial)

Islam dan ahlul bait adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Perkembangan Islam di seluruh dunia adalah bukti eksistensi dan komitmen para ahlul bait pada dakwah, pendidikan dan sosial. Para ahlul bait telah berjasa besar dalam perkembangan Islam di Nusantara, salah satunya di Lombok. Islam berkembang di Lombok tidak lepas dari peran serta Zurriyat Nabi Muhammad Saw sampai saat ini.

Terlepas dari perdebatan mengenai nasab, peran ahlul bait setidaknya merupakan fenomena sejarah yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Secara langsung bagaimanapun eksistensi mereka dalam menyebarkan dan mensyiarkan Islam memiliki dampak positif di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kenyataan tersebut sebagaimana dijelaskan dalam buku berjudul, “Baa’ Alawy di Lombok (Gerakan dakwah, Pendidikan, dan Sosial), yang ditulis oleh Dr. H. Ali Jadid Alaydrus tahun 2021.

Arti Alawiyyin

Novel bin Muhammad Alaydrus dalam bukunya yang berjudul, “Jalan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani Alawi”, menyatakan secara umum kata Alawy digunakan untuk setiap keturunan Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian dapat dipahami bahwa yang disebut secara umum adalah anak keturunan dari Sayyid Hasan dan Sayyid Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Namun, pada perkembangannya di Hijaz Jazirah Arab dan berbagai negara termasuk Indonesia, kata Bani Alawy atau Alawiyyin kemudian secara khusus digunakan untuk menyebut anak cucu Nabi Muhammad Saw yang berasal dari Sayyid Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Uraidi bin Ja’far Shodiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra putri Nabi Saw.

Baca juga:  Resensi Buku: Shollu ‘alan Nabi, Mengenal Sholawat Ciptaan Ulama’ Indonesia

Menurut catatan sejarah dari Imam Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir telah lahir tiga keluarga besar, yaitu: 1). Bani Basri, dari Basri bin Ubaidillah. 2). Bani Jadid, dari Jadid bin Ubaidillah. 3). Bani Alawi, dari Alwi bin Ubaidillah yang kemudian dikenal sebagai Alawiyyin. Adapun Bani Basri dan Bani Jadid telah terputus nasab mereka sekitar abad ke-7 H. Istilah Alawiyyin, Bani Alawi atau Alawiyyah berawal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir.

Sejarawan Hadramaut Muhammad Bamuthrif menganggap bahwa kabilah Bani Alawi merupakan kabilah yang terbesar di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika. Dari Hadramautlah kemudian Bani Alawi yang di Indonesia dikenal sebagai sebutan Habib atau Sayyid mulai menyebar dan mensyiarkan Islam ke Nusantara.

Dakwah Islam Kaum Alawiyyin di Lombok

Di dalam buku setebal 245 halaman ini dijelaskan bahwa kaum Alawiyyin yang tersebar di Lombok hampir ada di seluruh kecamatan. Mereka beradabtasi dan berasimilasi dengan penduduk lokal, bahkan diantara mereka terikat dengan kekerabatan dan persahabatan. Adapun nama marga kaum Alawiyyin yang tersebar di Lombok adalah Alaydrus, Al-Habsyi, Assegaf, Jamalullail, Bin Syekh Abu Bakar, dan Al-Masyhur.

Kaum Alawiyyin yang leluhurnya berasal dari Hadramaut memiliki pengaruh signifikan terhadap sebagian besar dakwah Islam di kepulauan Nusantara, salah satunya dalam aspek tasawuf. Pendekatan akhlak dan tasawuf sangat diminati penduduk Nusantara. Penerimaan, penghormatan, dan kedudukan yang diterima oleh kaum pendatang dari kaum Alawiyyin ini disertai karakter yang mengedepankan akhlak luhur dan kehalusan budi. Tentu ini menjadi faktor penting eksistensi mereka di Nusantara.

Baca juga:  Sabilus Salikin (33): Nafsu

Hadirnya kaum Alawiyyin di Lombok merupakan sebuah perjuangan dakwah melalui berbagai cara, salah satu strateginya adalah berdakwah melalui tradisi. Dalam sejarahnya, kaum Alawiyyin memiliki tradisi yang mirip dengan masyarakat suku Sasak, yakni tradisi begibung atau makan bersama.

Budaya begibung adalah sebuah karya dari pemikiran manusia dalam kehidupan di masyarakat agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Sebagai ajang penyelesaian permasalahan dan menjadi alat pemersatu masyarakat melalui budaya makan bersama dalam satu nampan. Keberagamaan yang ada di Lombok hadir dalam sinergi adat dan istiadat yang tidak terpisahkan antara agama, budaya, dan masyarakat. Begibung hadir dalam keragaman budaya sebagai pemersatu dalam keharmonisan masyarakat Lombok dengan nilai-nilai pemersatu.

Spiritual tasawuf kaum Alawiyyin yang menekankan pendekatan teologi yang mudah bagi masyarakat awam dan dipandu dengan akhlak yang luhur menjadi nilai penting eksistensi mereka diterima di masyarakat. Salah satu dampak positifnya adalah adanya penyerapan unsur-unsur Arab-Islam dalam bahasa, tradisi, dan budaya.

Bagibung di Lombok dilaksanakan pada acara-acara pertemuan keluarga, pernikahan, sunatan, dan maulid Nabi Saw. Bagibung dilakukan oleh semua elemen masyarakat, dan bukan hanya sekedar makan-makan bersama, melainkan mengajarkan untuk bagaimana saling menghormati dan mencintai sesama manusia dan masyarakat.

Judul   : Baa Alawy di Lombok (Gerakan Dakwah, Pendidikan dan Sosial)

Penulis  : Dr. H. Ali Jadid Alaydrus

Penerbit : Sanabil Mataram

Tahun   : 2021

Tebal     : 245

ISBN     : 978-623-317-312-4

 

Baca juga:  Usmar Ismail dan Nahdlatul Ulama: Estetika, Wacana, dan Gerakan

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top