Saatnya Mulut Diam dan Tangan Berbicara

M. Dani Habibi

Bahasa adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu yang termuat dalam lapangan pemahaman manusia. Oleh karena itu,  ketika memahami bahasa, hampir pasti kita bisa memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia.

Bahasa bisa menjadi media bagi manusia untuk berpikir secara abstrak, mentransformasikan objek-objek faktual. Oleh sebab itu, manusia dapat memikirkan sebuah benda, meskipun tidak terinderakan (tidak dilihat, dicium, disentuh, didengar, dan dikecap).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Islam mengajarkan cara berbicara yang baik. Alquran menyebut komunikasi atau berbicara sebagai salah satu fitrah manusia. “Tuhan yang maha pemurah, yang telah mengajarkan Alquran, Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara(QS. Al-Rahman :1-4). Ayat tersebut diartikan bahwa Allah Swt menciptakan manusia agar dapat berbicara dan mengetahui bagaimana  seharusya berkomunikasi dengan baik dan benar.

Alquran memberikan kata kunci yang berhubungan dengan hal berbicara. Al-Syaukani dalam Tafsir Fath al-Qadir mengartikan kata kunci al-bayan sebagai kemampuan berkomunikasi, yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana orang-orang seharusnya berkomunikasi dengan melihat kaidah-kaidah yang benar (qaulan sadidan). Adapun kata kunci untuk komunikasi adalah al-qaul.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. 4: 9). Dari al-qaul ini, Jalaluddin Rakhmat menguraikan prinsip, qaulan sadidan yakni kemampuan berkata benar.

Baca juga:  Rokat Pamengkang di Madura, Ikhtiar Merawat Islam dan Tradisi

Namun dalam perkembangannya, ternyata berbicara  tidak hanya dengan menggunakan mulut tetapi juga organ lain seperti tangan dan kaki. Hal tersebut sebetulnya telah dinyatakan di dalam Alquran surat Yasin ayat 65 yang berbunyi:

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berbicaralah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan “(Q.S:Yassin:65).

Hampir seluruh bagian dalam kehidupan manusia dilingkupi oleh bahasa sehingga bahasa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan budaya manusia. Segala aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dari unsur bahasa di dalamnya.

Untuk bisa berbicara, manusia menerima rangsang baik melalui organ reseptor umum maupun khusus, impulsnya di hantarkan  melalui saraf otak kemudian dilanjutkan ke area sensorik. Pengaruh sensorik disampaikan ke area motorik untuk kembali turun ke reseptor yang menghasilkan aktifitas bicara.

Selama ini tangan dikenal sebagai alat peraba yang struktur ototnya sangat fleksibel. Namun, rupanya tangan juga menjadi juru bicara yang amat kredibel  dan terpercaya, baik melalui sidik jari, tudingan jari telunjuk, tanda tangan ,maupun hanya sekedar “touching”.

Untuk mengetahui identitas seseorang, Daktiloskopi, suatu disiplin ilmu yang mempelajari sidik jari, mampu menerangkan dengan akurasi yang tinggi. Sebab, setiap orang memiliki garis dan guratan yang satu sama lain tidak sama, yang biasa dikenal dengan sebutan whorl atau swirl, arch, loop, dan thiradus.

Jari kedua pada tangan disebut telunjuk, di sinilah wibawa seseorang dipertaruhkan. Semakin tinggi status sosialnya semakin berwibawa jari telunjuknya. Contohnya, saat calon pembeli masuk ke sebuah toko lalu jari telunjuknya menunjuk barang tertentu, pelayan toko akan tergegas mengambilakan barang yang ia tunjuk, dan begitupun seorang bos dengan muka merah menunjuk nunjuk ke arah tertentu bisa di artikan bahwa ada persoalan penting yang harus diselesaikan.

Baca juga:  Obituari: Ki Enthus dan Dua Wajah Keislaman Lupit-Slenteng

Di samping sebagai tanda pertanggungjawaban seseorang, tanda tangan juga bisa dipakai untuk mengetahui kepribadian, emosi, dan kecerdasan. Konon tanda tangan yang lebih besar dibanding tulisanya menunjukan bahwa yang bersangkutan memiliki rasa percaya diri yang tinggi, sedangkan bentuk miring  ke kanan pada tanda tangan menujukan yang bersangkutan punya kepedulian tinggi.

Contoh lain misalnya, orang yang menyukai gadget baik yang berbasis Android maupun Windows Phone sangat akrab dengan teknologi sentuh. University of Toronto pada tahun1982, getol mengembangkan multi touch. Seiring perkembangnnya pada tahun 90-an, ilmuwan komputer Andrew Sears  melakukan studi akademis tentang interaksi manusia dan komputer.

Studi tersebut menjelaskan cara gerakan single touch seperti memutar tombol, menggesek, dan menggeser untuk mengaktifkan, kemudian multi touch  untuk menghubungkan objek dan menekan untuk memilih.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Hari ini publik menyaksikan dan menikmati peran touch screen yang semakin maju dan fantastis dalam hiruk pikuk lalu lintas bicara antar sesama. Masihkah ayat Alquran dipahami secara tekstual tanpa menyertakan konteksnya?

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top