Sedang Membaca
Pemetik Puisi (5): Hamid Jabbar dan Puisi Setitik Nur
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Pemetik Puisi (5): Hamid Jabbar dan Puisi Setitik Nur

Hamid Jabbar

Para pembaca buku-buku sufi sering menemukan pembahasan nur. Buku kecil Al Ghazali pernah diterbitkan Mizan mungkin menjadi bacaan pengantar memikat dalam mengerti nur. Para pembaca juga bisa menikmati buku-buku Fariduddin Attar atau Ibn Arabi. Di Indonesia, kita membaca buku-buku Emha Ainun Nadjib, Abdul Hadi WM, atau Simuh. Nur mendapat pembahasan panjang, kadang sulit terpahamkan. Masa demi masa, nur tak usai diungkapkan dengan kata-kata dalam puisi dan prosa.

Pada 1973, Hamid Jabbar menggubah puisi berjudul “Setitik Nur”. Ia tampil dengan pengisahan penjadian dan pengharapan. Nur tak sedang dikentalkan dalam pengertian sufistik. Kita bisa merasakan panggilan dan pengalaman religius tapi tak serumit warisan puisi para sufi masa lalu. Hamid Jabbar berbagi pengisahan terpusat nur, bergerak ke segala rupa, kesan, rasa, dan penampakan. Kita mulai membaca: di dalam waktu dan malam yang mengalirkan/ gairahnya/ lahirlah aku setitik nur pijaranmu dan beranakpinak/ dari tanda/ tanya. Nur berlatarkan waktu dan kejadian menokohkan manusia tapi perlahan memerlukan ibarat-ibarat. Nur tak terjelaskan sendiri.

Manusia membahasakan dan mengartikan diri bertaut makhluk sekitar, terkuatkan suasana dan kondisi batin. Kita mendapat ibarat: bagai kupukupu aku terbang dari taman ke/ taman/ hinggap di rimbunan daun kehidupan merendamkan/ muka/ melepaskan dahaga mereguk embun yang turun/ bersama/ cahaya bulan masuk ke dalam sejuta kembang/ kembara. Kita berada dalam alam-malam. Nur terlalu berarti saat malam adalah kegelapan. Terang terlihat mengungkap kehadiran. Durasi kehadiran pelan-pelan saling berhubungan. Nur untuk semua. Pengibaratan dibuat Hamid Jabbar mengajak ke gerak dan pergaulan dari perbedaan-perbedaan predikat. Nur, pengharapan kala malam terbatasi dalam “sejenak”. Konon, nur sejenak bukan menghasilkan peniadaan.

Baca juga:  Berkanjang di Ruang Ambang: Ronggawarsita dan Kesendiriannya

Hamid Jabbar bergerak jauh, kita mengawali dengan ibarat menuju kejutan-kejutan belum tentu memudahkan mengalami durasi dan peristiwa religius, termulakan oleh nur. Kita berlanjut ke ibarat: dan bagai lautan merpati melayangkan segala gelombang/ dalam hempasan awan putih memagut layang-layang/ mencarimu/ akan/ jawab/ pasti/ pada pulaupulau yang meratap dan merayap di/ lubukhati. Kita mengikuti sampai jauh, jauh, jauh. Perubahan terentengkan imajinasi membiasakan mengacu binatang dan suasana tetap menentukan makna nur. Berawal dari taman dan melihat tokoh beribarat kupu-kupu, kita sampai ke laut, pulau, dan lubuk hati. Pada merpati, kita melihat kemolekan dan keluwesan. Nur menginginkan gerak, mempertemukan hal-hal tampak mata dan segala bergolak dalam batin.

Kita membaca tak serumit bila menekuni sastra gubahan Hamzah Fansuri atau Amir Hamzah. Kata-kata dalam puisi masih mungkin terbaca tanpa terbebani membuka kamus-kamus. Bahasa Indonesia dalam gubahan Hamid Jabbar memilih “mutakhir” ketimbang mengambil khazanah lama. Kita membaca sambil membuat tata makna dari larik-larik mungkin lekas terpahamkan. Metafor-metafor pun menjauhi misteri-misteri termiliki para leluhur dalam mengungkapkan religiositas melalui puisi-puisi. Pembaca masa 1970-an, tak terlalu sulit menikmati puisi Hamid Jabbar berbarengan dengan kemunculan puisi-puisi religius bereferensi Jawa, Melayu, atau Timur Tengah.

Pada larik-larik akhir, Hamid Jabbar memberi ibarat besar. Pembaca mengikuti saja: bumi yang dipijak dan teriak dan tak kuasa/ mengelak/ dari kuasamu/ selalu/ sampai-sampai jua aku pada batas itu/ batas tetap seperti semula. Bergerak jauh dan menuruti ibarat dikembalikan semula. Kesadaran atas batas. Kejadian-kejadian setelah ingin mengerti nur mengembalikan manusia. Durasi pun terbatas. Kehadiran dan memiliki makna tetap berlangsung, bukan peniadaan bila nur selesai mengikuti pergantian waktu seperti sering terkatakan: silih berganti malam dan siang. Pada nur, manusia mengharapkan berulang meski pengalaman berbeda. Bergerak lagi, kembali ke semula. Begitu.

Baca juga:  Islamisasi Priayi atau Priayisasi Islam?
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top