Alfin Haidar Ali
Penulis Kolom

Mahasantri Ma'had Aly Nurul Jadid. Bisa disapa via Ig: alfinhaidarali179.

Bagian Penting dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin: Menjaga Kesehatan Tubuh

Kitab Ihya Ulumuddin Dki

Dalam sebuah kesempatan, saya mengaji kitab monumental karya Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin juz 2, kepada seorang ustadz. Kitab ini secara garis besar terbagi menjadi empat juz atau empat bagian.

Juz pertama biasa disebut dengan rub’ul ‘adat menerangkan tentang ibadah atau seperempat bagian awal menjelaskan tentang ibadah. Juz ke dua atau biasa disebut dengan rub’ul ‘adaat menerangkan tengan adat atau kebiasan-kebiasan manusia ditinjau dari pandangan syariat.

Juz ke tiga atau rub’ul muhlikat menjelaskan tentang hal-hal yang mencelakan manusia. Sedangkan seperempat bagian terakhir atau juz empat biasa disebut dengan rub’ul munjiyat. Bagian ini menerangkan tentang hal-hal yang dapat menyelamatkan kehidupan manusia dunia-akhirat.

Pada bagian awal juz kedua kitab Ihya’, Imam Al-Ghazali memberikan pandangannya soal urgensi kesehatan badan. Beliau menulis demikian :

فَإِنَّ مَقْصِدَ ذَوِي الْأَلْبَابِ لِقَاءُ اللهِ تَعَالَى فِي ْدَارِ الثَّوَابِ، وَلَا طَرِيْقَ إِلَى الْوُصُوْلِ لِلِقَاءِ اللهِ إِلَّا بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَلَا تُمْكِنُ الْمُوَاظَبَةُ عَلَيْهَا إِلَّا بِسَلَامَةِ الْبَدَنِ وَلَا تَصْفُوْ سَلَامَةُ الْبَدَنِ إِلَّا بِالْأَطْعِمَةِ وَالْأَقْوَاتِ، وَالتَّنَاوُلِ مِنْهَا بِقَدْرِ الحَاجَةِ عَلَى تِكْرَارِ الْأَوْقَاتِ

Artinya : Sesungguhnya orang yang berakal ialah bertemu dengan Allah Taala di surga. Dan tidak ada jalan untuk bertemu dengan Allah melainkan dengan ilmu dan amal. Dan, tidak mungkin untuk melaksanakan hal tersebut kecuali dengan sehatnya badan. Kesehatan badan tidak akan didapat kecuali dengan makanan dan mengonsumsinya sesua dengan kebutuhan setiap saat. (Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali. Hal. 2. Cet. Imarotullah Surabaya).

Baca juga:  Sabilus Salikin (74): Khataman dalam Tarekat Qadiriyah

Oleh karena itu, saking pentingnya kedudukan makanan, sebagian ulama salaf sholihin mengatakan bahwasanya makan adalah urusan agama. Allah SWT. beberapa dalam al-Qur’an menyinggung perihal makan dalam beberapa ayat. Semisal pada surat al-Baqarah ayat 168 sebagaimana berikut :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

Artinya : wahai manusia, makanlah makanan di muka bumi makanan yang halal dan baik. (al-Baqarah : 168).

Imam al-Ghazali mengingatkan kita untuk menjaga makanan yang kita makan. Perkara makan bukan sekadar urusan memuaskan nafsu dan mengenyangkan perut. Tidak. Urusan makan-sebagaimana pandangan awal tadi-adalah sarana untuk menguatkan mencari ilmu, beramal serta kuat untuk menjalankan ketakwaan.

Karena makanan adalah sarana untuk melaksanakan agama, -kata Imam al-Ghazali- hendaknya kita menampakkan pelita-pelita agama padanya. Pelita-pelita agama itu adalah adab-adab dan sunah-sunah makan yang selayaknya dijaga oleh umat Islam. Sehingga umat Islam senantiasa menakar dengan timbangan syariat ketika berurusan dengan syahwat (keinginan, red) untuk makan. Baik sebelum, ketika dan setelah makan.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top