Di zaman digital sekarang, tak sedikit manusia dirundung sindrom lebih takut terlihat biasa daripada benar-benar menjadi baik. Kita rela hidup lelah, asal tetap tampak mengesankan di layar; rela kehilangan kedalaman, asal tidak kehilangan citra.
Kita bangun tidur bukan untuk menyapa realitas, tapi untuk mengecek notifikasi: berapa banyak orang yang masih peduli pada panggung kecil bernama “diri kita” hari ini. Hidup bukan lagi perjalanan, melainkan pertunjukan tanpa jeda; bukan lagi ziarah, melainkan siaran langsung berkepanjangan.
Erving Goffman pernah menggambarkan kehidupan sosial sebagai teater, di mana kita semua adalah aktor yang menata panggung depan dan menyembunyikan panggung belakang. Di era analog, panggung depan itu bisa berupa kantor, ruang kelas, masjid, gedung DPR. Di era digital, panggung depan adalah apa pun yang bisa di-screenshot.
Kita hidup dalam keadaan selalu diawasi, bukan oleh Tuhan, tetapi oleh mata algoritma yang tak pernah tidur. Ia menghitung, mana konten yang paling menguntungkan, mana pose yang paling menjual, mana kemarahan yang paling laku. Dari situ, pelan-pelan algoritma ini menjadi ‘agama baru’, dengan kitab suci berupa data dan pahala berupa engagement.
Akibatnya, lahirlah generasi yang mahir impression management, tapi gagap melakukan self-reflection. Kita sekolah bertahun-tahun untuk belajar tampil meyakinkan, bukan untuk belajar jujur. Kita sibuk merawat persona, bukan kepribadian. Bahkan ibadah pun kadang dikemas sebagai konten; doa dilafalkan sambil memastikan angle kamera tidak terlalu buruk. Kesalehan menjadi sesuatu yang bisa diatur pencahayaannya, bisa diedit, bisa difilter, bisa diberi caption menyentuh. Di bawah algoritma kepura-puraan, semua hal suci berisiko direduksi menjadi estetika.
Dalam konteks sosial politik, algoritma ini menemukan panggung terbaiknya. Politisi hari ini tidak hanya menjadi pengambil kebijakan, mereka juga harus menjadi influencer. Mereka belajar kalimat pendek yang mudah dikutip, gaya marah yang fotogenik, pose merakyat yang mudah dipercaya di layar. Mereka tahu, di hadapan kamera, air mata bisa lebih efektif daripada argumentasi, dan kunjungan singkat ke lokasi bencana bisa lebih berkesan daripada kerja pelan yang tak terlihat. Maka lahirlah politik simulasi: seolah-olah mendengar, seolah-olah peduli, seolah-olah bekerja untuk semua, padahal sesungguhnya hanya sibuk menjaga jarak antara kursi dan pantatnya sendiri.
Yang lebih lucu, sebagian besar dari kita ikut memainkan peran sebagai penonton yang mudah tersentuh dan mudah lupa. Kita marah sebentar, memuji sebentar, mencaci sebentar, lalu pindah ke drama berikutnya. Algoritma mengurasi kemarahan kita, memaketkan kekecewaan menjadi konten, dan menjualnya kembali sebagai angka. Sementara di belakang layar, struktur kuasa berjalan seperti biasa. Kolusi, patronase, nepotisme, dan dinasti politik berjalan tenang di luar jangkauan kamera. Kita sibuk memviralkan potongan pidato, lupa mempertanyakan isi rancangan undang-undang.
Di dunia akademik, algoritma kepura-puraan menjelma dalam bentuk lain: indeks sitasi, skor kinerja, konferensi internasional yang lebih mirip festival gelar daripada pertemuan nurani. Dosen dan peneliti berlomba menambah daftar publikasi, meski tidak yakin siapa yang benar-benar membacanya.
Artikel ilmiah yang seharusnya menjawab problem publik dan intelektual, justru sering disusun untuk menyenangkan sistem penilaian dan menambah jumlah angka. Yang penting bukan apakah hasil pemikiran itu mengubah kenyataan atau membangun kesadaran, tetapi apakah ia bisa menambah angka di laporan kinerja dan menambah pundi-pundi penghasilan di tabungan. Di titik ini, pengetahuan berubah menjadi dekorasi, bukan penggerak perubahan dan melahirkan kesadaran.
Bahasa ilmiah pun seringkali ikut terseret arus. Ia menjadi semakin rumit, semakin jauh dari bahasa orang biasa. Jargon dipakai bukan untuk memerinci, melainkan untuk meninggikan diri. Sebagian akademisi merasa aman berdiri di balik dinding istilah yang tidak dipahami masyarakat, lalu menyimpulkan, “Rakyat kita memang belum siap.” Padahal yang belum siap barangkali mereka sendiri: belum siap melepaskan topeng kehebatan, belum siap mengakui bahwa ilmu tanpa keberanian turun ke bumi hanyalah hiasan di rak perpustakaan.
Di wilayah agama, algoritma kepura-puraan menemukan bahan bakarnya: rasa bersalah dan rasa takut manusia. Di sini, religiusitas bisa dikomodifikasi dalam bentuk ceramah singkat, kutipan ayat bergambar indah, atau testimoni dramatis tentang hijrah dan taubat. Pengikut dihitung seperti penggemar, dan perbedaan mazhab ditempatkan sejajar dengan perbedaan fandom. Makin keras retorika, makin tinggi sensasi. Makin kasar menyalahkan, makin tegas di mata pengikut. Padahal, sering yang terjadi bukan pembelaan terhadap kebenaran, melainkan pembelaan terhadap merek.
Sebagian agamawan pun terjebak menjadi brand ambassador Tuhan, lengkap dengan tagline, gaya bahasa khas, dan merchandise. Mereka marah ketika dipertanyakan, tersinggung ketika disindir, dan panik ketika jamaah berkurang. Seolah-olah surga akan sepi tanpa kanal YouTube-nya, seolah-olah keabsahan agama ditentukan oleh jumlah followers. Di sini, kesakralan bergeser pelan-pelan menjadi performa. Bukannya menuntun manusia mengurangi ego, agama malah berisiko menjadi panggung raksasa untuk memelihara ego bersama.
Filsafat sebenarnya sudah lama mengendus kepalsuan ini. Nietzsche, misalnya, pernah mengejek moralitas yang hanya menjadi topeng kehendak berkuasa. Kierkegaard mengecam kekristenan resmi yang kehilangan kedalaman eksistensial. Para pemikir kritis mengingatkan bahwa ide besar sering dijadikan selimut untuk menutupi nafsu kecil. Di era sekarang, filsafat bisa saja menertawakan bagaimana kata “otentik” dijual sebagai gaya hidup, bukan sebagai perjuangan sunyi terhadap diri sendiri. Keaslian dikemas dalam paket perjalanan, lokakarya, dan buku motivasi, sementara kehidupan batin tetap dikendalikan oleh statistik.
Para sufi melangkah lebih jauh: mereka bukan hanya mengkritik, tapi juga menjadikan hidup sebagai eksperimen radikal dalam kejujuran. Mereka menelanjangi kesombongan spiritual maupun intelektual. Rabi’ah al-Adawiyah, dalam kisah-kisahnya, menggugat ibadah yang motivasinya bukan cinta, melainkan gengsi di hadapan Tuhan. Para sufi seolah sedang berkata, “Kalian terlalu sibuk membangun karakter di panggung, sampai lupa menanyakan: siapa yang sedang memerankan ini semua?”
Di hadapan algoritma kepura-puraan, para sufi mengajari kita sabotase kecil yang efektif, merusak keseriusan palsu, dan mencegah kita menganggap diri terlalu penting. Mereka mengingatkan bahwa jarak antara manusia dan karikatur dirinya sendiri sangat tipis. “Makrifat dimulai ketika engkau bisa menertawakan dirimu saat merasa paling dekat dengan Tuhan,” demikian mereka mengingatkan kita. Ini bukan sekadar kalimat puitis, tapi ledakan yang diarahkan ke pusat ego rohani.
Lantas, apa artinya hidup di tengah algoritma kepura-puraan? Mungkin artinya adalah kita hidup di zaman ketika semakin mudah menipu banyak orang, tetapi semakin sulit berhadapan dengan cermin. Kita hebat membaca data, tetapi malas membaca hati. Kita cekatan mengomentari kebodohan orang lain, tetapi gagap mengakui kebodohan sendiri. Kita mencela elit yang korup, akademisi yang sombong, agamawan yang riya, sambil pelan-pelan meniru pola yang sama di skala yang lebih kecil.
Kita perlu memberi kesempatan diri kita untuk menarik napas dan mengizinkan kita melihat diri seperti apa adanya: makhluk yang campur-aduk antara tulus dan palsu, antara doa dan gengsi, antara cinta dan takut kehilangan pengikut. Kita mulai berani memecahkan kaca yang selama ini kita pakai sebagai panggung.
Dan tugas kita bukan mematikan algoritma, melainkan pelan-pelan tidak lagi menjadikannya hakim tertinggi. Bukan meninggalkan panggung —kita memang makhluk sosial—melainkan berhenti menganggap panggung sebagai satu-satunya kenyataan. Bukan berhenti bicara tentang kebenaran, tetapi mulai mengucapkannya tanpa perlu berdiri di atas mimbar raksasa setiap kali. Dan di antara semua langkah kecil itu, mungkin yang paling sederhana, sekaligus paling sulit, adalah berani tertawa ketika topeng kita tersingkap.
Sebab di ujung semua adegan, lampu akan padam, layar akan gelap, riuh timeline akan sunyi, dan nama kita tak lagi penting bagi algoritma mana pun. Yang tersisa hanya satu hal: apakah sepanjang pertunjukan kita pernah benar-benar hadir sebagai manusia, bukan sekadar peran yang dimainkan dengan cemas. Jika suatu hari kita bisa tertawa pelan melihat rekaman hidup kita sendiri, mungkin itu tanda bahwa kita sudah sedikit lebih dekat, bukan kepada kesempurnaan, tetapi kepada kejujuran. Dan di dalam kejujuran itulah, Tuhan sering diam-diam lewat tanpa perlu menyalakan kamera.[]